
Dua hari telah berlalu.
Jam menunjukkan pukul 12 siang, Kevin bergegas merapikan meja kerjanya, ia merapikan tumpukan map yang ada di atas meja kerjanya.
"Vin, kamu mau kemana? Tumben rapiin meja jam segini," tanya Putra yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Sudah saatnya jam makan siang, ayo Vin makan siang bareng aku!" ajak Fina dengan tatapan penuh arti.
"Put, aku mau ke kampus istriku, aku mau makan siang denganya," jawab Kevin pada Putra.
"Maaf Fina, aku mau makan siang dengan istriku, dia sudah menungguku soalnya," tolak Kevin dengan nada lembut.
Putra tersenyum sumpringah menatap Kevin, dan tentunya membuat Kevin menatapnya dengan tatapan jijik.
"Kamu kenapa Put? apa kamu sudah mulai gila?" tanya Kevin, melihat senyum di sudut bibir Putra, membuat Kevin ingin sekali mencubit pipi laki-laki yang berwajah agak tembem itu, gemas rasanya saat melihat Putra tersenyum sumringah.
"Vin ajak aku bersamamu ya!" rengek Putra manja, membuat Kevin membulatkan kedua bola matanya. "Aku rasa kamu sudah benar-benar tidak waras Put," gumam Kevin dengan suara pelan dan di dengar oleh Putra.
"Aku tidak waras karena Felly, tiba-tiba aku merindukan gadis cantik itu," ujar Putra semangat.
"Dasar Tuan Bucin, baiklah ayo ikut denganku!" ajak Kevin dengan senang hati.
__ADS_1
"Lalu aku bagaimana?" tanya Fina, raut wajahnya tampak merah karena marah.
"Lalu kamu urus hidupmu sendiri, cari kekasih biar tidak gangguin suami wanita lain terus, malu sama umur," ujar Putra penuh dengan penekanan.
"Apa kamu bilang, aku menganggu suami wanita lain, eh jelas-jelas aku yang lebih duluan naksir Kevin, tapi gadis miskin itu sudah merebutnya dariku," dengan nada menggebu-gebu Fina tidak terima dengan apa yang di tuduhkan oleh dirinya.
"Tapi sayangnya Kevin tidak pernah menaksir kamu," ledek Putra sambil menjulurkan lidahnya membuat wajah cantik Fina semakin beringas.
"Sudahlah kalian, ayo Putra nanti kita terlambat," dengan buru-buru Kevin menarik tangan Putra, ia mengajak Putra keluar dari ruangan kerja mereka.
Kevin tahu jika perdebatan antara Fina dan Putra di biarkan, maka entah kapan akan selesai?
****
Sebelum Kevin berangkat Kevin sudah memberitahukan pada Kiara, kalau Putra ikut dengan dirinya dan mau bertemu dengan Felly, akhirnya Kiara mengajak Felly untuk makan siang dengannya, padahal rencana awal hanya makan berdua dengan Kevin. Namun ada yang sedang bucin dan perlu bantuan, jadi dengan senang hati Kiara dan Kevin akan membuat Putra dan Felly bersatu.
"Hay sayang," sapa Kevin dan mencium kening Kiara mesra, lalu ia duduk.
"Hay Felly, apa aku juga boleh menciummu seperti Kevin mencium Kiara," ujar Putra penuh harap.
Felly langsung mengeluarkan lirikan tajam. "Memangnya kamu siapa? mereka kan suami istri, jadi wajar saja kalau mereka saat ketemu cium-ciuman," ujar Felly ketus.
__ADS_1
Putra duduk, ia tampak murung, usahanya kali ini belum membuahkan hasil, harus lebih semangat lagi Putra!!
"Kenapa kamu tidak menikahinya saja Put, kan nanti kalian jadi suami-istri seperti kita," cetus Kevin dengan jail.
"Benar juga katamu, Vin. Aku harus segera melamarnya kalau gitu," lanjut Putra dengan semangat.
Felly hanya geleng-geleng kepala, sungguh kenapa ia bisa di hadapan dengan laki-laki yang konyol seperti Putra?
"Sudahlah makan dulu saja, memikirkan sebuah pernikahan juga butuh tenaga soalnya," kata Felly saat makanan pesanannya mereka datang.
"Apa itu artinya kamu setuju dengan pernikahan kita?" tanya Putra antusias, membuat Felly tersedak dan Putra langsung memberikan satu gelas air padanya.
"Minumlah!!"
Kini mereka semua kembali menikmati makanan mereka masing-masing.
Tiba-tiba ponsel Kevin berbunyi, ternyata ada pesan masuk.
"Tuan, aku sudah menemukan semua tentang asal-usul Kiara." Pesan dari orang suruhan Kevin.
"Baiklah, kita ketemu nanti di tempat xx," balas Kevin.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia