
Hari demi hari telah berlalu, Merry dan Mega juga sudah tidak pernah menganggu Kiara lagi, karena Kevin sudah memberikan peringatan pada dua iblis itu, dan jika mereka macam-macam pada istrinya maka Kevin tidak akan segan-segan melakukan sesuatu pada Merry dan Mega.
Kiara juga melalui hari-harinya dengan penuh kebahagiaan, hari-hari ia lalui jauh lebih tenang karena ibunya dan kakaknya sudah tidak pernah lagi menelpon dirinya untuk meminta uang padanya lagi.
Kuliah Kiara juga lancar, sikap Kevin juga semakin hari semakin hangat dan penuh cinta.
Kiara duduk sendirian meja makan, karena suaminya sudah berangkat ke kantor dan mama mertuanya sedang di kamar.
"Hoek....Hoek...."
Saat hendak memakan buah apel tiba-tiba Kiara merasakan mual dan ingin muntah, bergegaslah Kiara pergi ke dapur, ia berada di wastafel dan ia muntah-muntah di situ.
"Kenapa mual sekali?" tanyanya pada diri sendiri, ia mengelap bagian jidatnya yang kini mengeluarkan keringat dingin.
"Kia, kamu kenapa nak?" tanya mertuanya, ia terlihat khawatir saat melihat Kiara yang tampak pucat sekali dan muntah-muntah.
"Mama, Kiara mual sekali, kepala Kiara juga pusing ma," keluh Kiara tampak lemas, lalu di ajak duduk oleh mama mertuanya.
"Tenanglah nak, mama panggil Dokter ya," katanya dengan nada lembut tapi Kiara menggelengkan kepalanya pelan. "Bawa Kiara ke kamar saja ma, Kiara istirahat saja sebentar, nanti sembuh ma," ujar Kiara dengan nada lemas.
Akhirnya Kiara di bawa ke kamar oleh mama mertuanya, sesampainya di kamar Kiara berbaring di atas ranjang tempat tidur. Tatapan mama mertuanya cukup kawatir pada menantu kesayangan itu. "Apa Kiara hamil?" pikirnya dalam hati, ingin mengatakan pada Kiara namun tidak enak dan lebih baik nanti Kevin saja aku suruh panggil Dokter Pram, biar memeriksa Kiara, mudah-mudahan ada kabar bahagia untuk keluarga Saelandra.
Setelah membaringkan Kiara di atas tempat tidur, Ria mengambil ponsel miliknya yang ada di dalam saku celananya, lalu ia menekan no telpon Kevin untuk menghubungi Kevin.
__ADS_1
Saat sedang di sibukan dengan pekerjaan, Kevin menghentikan pekerjaannya seketika, lalu ia melihat ponselnya yang berbunyi. "Mama," gumamnya dengan suara pelan.
Kevin menggeser tombol hijau, lalu ia menempelkan ponselnya di telinganya.
"Hallo nak."
"Iya ma, ada apa ma?"
"Vin, ini istri kamu muntah-muntah dari tadi, wajahnya juga pucet sekali."
Seketika Kevin merasa sangat kawatir pada istrinya, rasanya ingin buru-buru pulang ke rumah.
"Apa Kiara sakit ma? Tadi pagi baik-baik saja ma."
"Masuk angin mungkin Vin, telpon Dokter Pram saja biar dia datang ke rumah untuk memeriksa Kiara!"
Kevin menutup saluran telponnya, lalu ia langsung menelpon Dokter Pram untuk datang ke rumahnya untuk memeriksa istrinya.
***
Setelah beberapa lama akhirnya Dokter Pram sampai di rumah, Ria langsung mempersilahkan Dokter Pram untuk masuk.
Kini Dokter Pram sudah berada di kamar Kiara, ia dengan teliti memeriksa Kiara.
__ADS_1
Biarpun Kevin dan papa mertuanya sama-sama seorang Dokter, namun keluarga Saelandra ini juga punya Dokter pribadi untuk keluarganya.
Setelah selesai memeriksa Kiara, Dokter Pram tersenyum kecil, membuat Ria malah semakin kawatir.
"Dokter, menantu saya kenapa?" tanya Ria dengan nada lembut.
"Selamat menantu Nyonya Ria sedang hamil, saat ini kehamilannya sudah berjalan 6 minggu," jawab Dokter Pram yang diiringi senyum kecil.
Ria tersenyum bahagia, akhirnya dirinya akan menjadi nenek.
"Sungguh Dok?" Ria memastikan dan di anggukin oleh Dokter Pram.
Kabar baik untuk keluarga Saelandra, akhirnya menantu satu-satunya di dalam keluarga Saelandra akan melahirkan seorang bayi.
Setelah memberikan obat untuk Kiara, Dokter Pram langsung pamit.
Kini setelah Dokter Pram sudah pulang, Ria dan Kiara langsung berpelukan untuk mengutarakan rasa bahagia dalam hati mereka.
"Mama aku hamil," kata Kiara.
"Iya nak, pasti Kevin akan senang mendengar kabar ini." Sahut Ria antusias.
Rasanya tidak sabar menunggu Kevin pulang dari rumah sakit, aku akan memberikan kejutan untuk Mas Kevin.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia