
Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, namun Kevin belum juga kembali ke rumah sakit.
Kiara kembali mencoba menghubunginya tapi lagi-lagi tidak bisa, hatinya sangat kawatir, kemana perginya suaminya itu?
"Felly, nanti malam jalan yuk!" ajak Putra dan Felly senyam-senyum.
"Kemana?" tanya Felly pada Putra.
Fina menatap Kiara dan Felly dengan tatapan sengit.
"Cie diajakin jalan," cibir Kiara dengan senyum kecil.
"Dokter Putra, ini sudah waktunya kerja, jadi jangan ngobrol terus!" sindir Fina dengan sinis, lirikan tajamnya itu membuat Kiara dan Felly sama-sama menggelengkan kepalanya.
"Belum ada pasien Fin," sahut Putra sengit. Dasar jomblo makanya demen sekali cari gara-gara.
"Tetap saja harus kerja, bukannya pacaran," sewot Fina dengan tatapan sengit.
"Itukan data pasien banyak yang harus di cek," lanjut Fina sinis.
"Oh, ini sudah selesai semuanya Fin," sahut Putra dengan santai.
Kiara dan Felly tampak sama-sama geram pada Fina.
"Dasar sirik," cibir Felly kesal.
"Fell, kita pulang yuk! Di sini malas sekali ada jomblo tidak jelas," ajak Kiara tatapan matanya begitu sengit pada Fina.
__ADS_1
Siapa yang tidak sengit pada wanita yang selalu menggoda suaminya padahal suaminya sama sekali tidak tergoda, tapi Fina saja yang kegatelan. Makanya Kiara terlalu kesal pada Fina, pingin jambak tapi Kiara tidak melakukan itu.
"Dasar pelakor, ingat ya kamu itu sudah merebut Kevin dariku," ujar Fina bersungut-sungut.
"Pelakor? Hey, aku tidak salah dengar? Aku menikahi Mas Kevin itu statusnya tidak punya pacar alias jomblo, kamu bilang aku pelakor, memangnya kamu siapanya Kevin?" sinis Kiara semakin sengit pada Fina, seenak jidatnya saja ngatain pelakor, bukannya dirinya yang gatel sama suami orang.
"Kalau dulu kamu tidak muncul, pasti Kevin sudah menikahiku," ujar Fina mantap, dan Putra malah tertawa meledek.
"Sudahlah Kia, pulang saja kalian! Jangan dengarkan jomblo bicara," kata Putra pada Kiara.
Akhirnya Kiara dan Felly buru-buru pergi meninggalkan ruangan itu, setelah Kiara dan Felly berlalu. Putra dan Fina saling menatap sengit, mereka langsung melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
*****
Di suatu tempat Kevin ternyata datang menemui ibu mertuanya, bukan tanpa maksud namun pagi tadi sebelum Kevin berangkat ke rumah sakit, Kevin tidak sengaja membaca pesan dari Merry di ponsel milik Kiara dan isinya itu membuat Kevin jengkel, karena lagi-lagi Merry mengirim pesan pada Kiara untuk meminta uang dan itu jumlahnya tidaklah kecil, Merry meminta uang 50 juta pada Kiara. Saat Kevin membaca pesan itu, Kevin membalas pesan itu dan ia untuk bertemu di cafe xx, Merry juga langsung membalas ia akan datang ke cafe xx, setelah itu Kevin langsung menghapus pesan itu dan tidak mengatakan apa-apa pada Kiara.
Kini Kevin sudah berada di cafe xx di situ juga sudah ada Merry dan Mega, mereka cukup kaget karena melihat Kevin yang datang ke cafe xx.
"Apa kabar ibu, kakak ipar," sapa Kevin dengan sopan. Ia menarik kursi lalu duduk, kini posisi duduk Kevin tepat di depan Merry.
Kevin melihat saat ini Merry seperti sedang ketakutan dan Mega juga cukup kaget.
"Kenapa, kamu yang datang?" tanya Mega, ia bukannya menjawab sapaan Kevin, malah sekarang tatapannya jelas tidak suka pada kedatangan Kevin.
"Iya nak, kenapa kamu bisa ada di sini? Dimana Kiara?" tanya Merry tampak gugup.
"Apa salahnya aku ada di sini, ibu?" Kevin malah balik bertanya, membuat Merry terdiam sejenak.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah, tapi kita itu sedang menunggu Kiara, dan kenapa juga kamu yang datang menemui kita?" sahut Mega, dengan nada agak menekan.
Kevin tersenyum seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku ini suami Kiara, kalian tahu yang membalas pesan ibu, itu aku, Kiara tidak membaca pesan dari ibu," ujar Kevin dengan santai.
"Lagian Kiara juga tidak bakal datang kesini, dia sedang sibuk kuliah." Lanjut Kevin tegas.
"Baiklah, kita permisi," pamit Merry gugup. Dan Merry menyikut lengan tangan Mega. "Ayo pulang!" ajaknya dengan suara lirih.
"Bu tapi,"
"Mega tidak ada tapi-tapian," tukas Merry dan ia menarik Mega dengan kasar.
Kevin masih santai, hingga saat kedua wanita yang ada di hadapannya ini hendak melangkahkan kaki mereka, dengan cepat Kevin mencegahnya.
"Ada yang perlu saya bicarakan pada ibu dan kakak ipar," ujar Kevin dengan nada datar tapi tegas.
Merry dan Mega sama-sama menoleh.
"Ada apa, nak?" tanya Merry, hatinya berdebar kencang.
"Ibu aku tahu kalau Kiara itu anak yang,"
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1