
"Tinggal minta uang Kiara, Bu!" suruhnya dengan begitu entengnya.
"Minta uang Kiara
Merry tersenyum licik, iya benar apa kata Mega, minta uang Kiara saja! Seketika Merry dengan cepat merogok ponselnya yang ada di dalam saku celananya, ia ingin cepat-cepat menelpon Kiara.
Saat ponselnya sudah berada di genggaman tangannya Merry terdiam sejenak, lalu ia menatap Mega penuh tanda tanya? Mega pun menatap ibunya penuh dengan tanda tanya juga.
"Kenapa bu?" tanya Mega pada ibunya.
"Ngomongnya sama Kiara bagaimana?" tanya Merry kepada Mega.
"Bilang saja padanya, minta uang untuk beli obat aku, pasti Kiara tidak akan menolak Bu, dia pasti akan langsung mengirimkan uangnya dengan cepat," celoteh Mega dengan entengnya, Mega malah tersenyum senang, baginya Kiara adalah mesin ATM berjalannya, apalagi Kiara sudah menikah dengan laki-laki kaya raya, itu sungguh menjadi ladang emas bagi kakaknya dan ibunya.
Merry tersenyum licik, benar juga apa yang dikatakan oleh Mega.
Merry menekan no ponsel Kiara, lalu menelponnya.
Kiara yang baru saja selesai kuliah dan kini ia sedang bergegas untuk keluar dari dalam ruangan kelasnya, mendengar ponselnya berbunyi dan ternyata ada telpon dari ibunya, melihat ibunya menelpon Kiara tersenyum senang, apalagi ini pertama kali ibunya menelpon dirinya saat dirinya sudah menikah.
Kiara dengan senang hati mengangkat telpon dari ibunya.
"Hallo Bu."
"Kiara, Ibu ada perlu sama kamu."
__ADS_1
"Iya Bu, ada perlu apa?"
"Ibu butuh uang untuk membeli obat untuk kakakmu, kamu tahu kan kakakmu sudah di bawah pulang ke rumah sakit dan itu membutuhkan biaya untuk membeli obat."
"Iya bu aku tahu."
"Makanya kalau tahu cepat kirim uang untuk membeli obat!"
"Tapi Kiara tidak punya uang Bu."
"Dasar anak bodoh, mintalah sama suamimu yang kaya raya itu!!"
"Cepat kirim uang aku tidak mau tahu!"
Merry langsung mematikan saluran telponnya begitu saja, bukannya menanyakan kabar Kiara bagaimana? Ini malah meminta uang dan nada bicara membentak-bentak seperti orang kesurupan.
"Nah gitu Bu, kalau kita tidak ada uang, minta saja sama anak itu!" kata Mega di sela pelukannya itu.
Dasar keduanya ini sama-sama wanita berhati iblis, mereka bahkan tidak punya hati, kenapa kedua manusia ini tidak segera mati saja? Biar hidupnya Kiara itu tenang.
*
*
*
__ADS_1
Kini Felly, Kiara dan Rizal, berjalan bertiga menuju ke gerbang depan, di setiap langkah perjalanan Kiara hanya diam sambil menundukkan kepalanya ke bawah, ia tidak tahu bagaimana caranya untuk meminta uang pada Kevin?
Felly tiba-tiba menghentikan langkah kakinya, membuat Kiara menubruk tubuh mungil Felly.
"Fell, kenapa kamu berhenti tiba-tiba?" tanya Kiara pada Felly.
"Kia, katakan ada apa? Aku tahu pasti kamu sedang tidak baik-baik sajakan, kamu dari tadi keluar kelas tampak murung aku perhatikan," Felly bertanya dengan nada lembut, sorot matanya menatap dua bola mata Kiara.
"Aku tidak apa-apa Felly, hanya kepalaku sedikit pusing saja," jawab Kiara dengan alasan yang menurutnya tepat. Kiara tidak mungkin menceritakan tentang Ibunya yang meminta uang pada dirinya, Kiara juga tidak mau kalau Felly juga ikut kepikiran dan akhirnya pasti akan membantu dirinya dengan senang hati, namun Kiara juga tidak mau menjadi beban untuk Felly.
Felly mencerna kata-kata Kiara dengan baik, lalu sorot matanya tiba-tiba berbinar senang membuat Kiara menatapnya bingung, Felly kenapa?
"Kamu merasakan pusing?" tanya Felly, dan Kiara mengangguk.
"Apa kamu perlu minum obat?" sambung Rizal, seraya menatap lembut Kiara dan Kiara menggelengkan kepalanya.
Lagi-lagi Felly senyam-senyum, membuat Kiara semakin bingung di buatnya.
"Felly, kamu itu kenapa?" tanya Kiara, aku yang pusing, Felly malah seperti orang tidak waras.
"Apa kamu sudah hamil!!" cetus Felly dengan girang dan Rizal langsung menoleh ke Felly.
"Hamilll," tandas Rizal kaget.
Kiara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, kedua sahabatnya ini kenapa?
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia