
Wina dan Pandu telah pergi ke sawah dan di rumah kini hanya ada Aqeela dan Nizam saja.
"Qeela? Ayo kita jalan-jalan!" Ajak Nizam.
"Ayo!" Jawab Qeela antusias.
"Tapi naik mobil ya!" Seru Nizam.
"Tentu! Jika naik motor lagi nanti aku yang repot!" Tukas Aqeela.
"Hehee...Yasudah ayo berangkat!" Nizam terkekeh.
*
Di mobil suasananya hening-hening saja membuat Aqeela merasa heran,"Sebenarnya kita mau kemana?" Aqeela membuka obrolan.
"Ke tempat yang sepi! Ada hal penting yang ingin aku bicarakan." Jawab Nizam sembari sesekali melirik istrinya.
"Tempat yang sepi? Berarti ke kuburan!" Tebak Aqeela sembari membulatkan matanya.
"Yaa bukan ke kuburan juga Qeela!" Bantah Nizam,"Kamu bantu aku mencari tempat yang lumayan sepi agar kita bisa nyaman berbincang berdua disana!" Lanjutnya.
"Ohh...." Aqeela mengangguk,"Bagaimana kalau kita ke danau saja?" Aqeela memberi saran.
"Danau? Dimana tempatnya?" Tanya Nizam.
"Tidak jauh dari sini,lurus sedikit lagi lalu belok kanan!" Aqeela menunjukkan jalannya.
"Oke..." Nizam mengangguk faham.
Setibanya di danau tersebut,kebetulan hanya ada dua bangku yang menghadap ke arah danau dan bangku yang ada di ujung kiri telah diisi pasangan lain maka dari itu Nizam dan Aqeela segera menduduki bangku kosong yang sebelah kanan.
"Hal penting apa yang mau kamu bicarakan?" Tanya Aqeela.
"Kejujuran itu penting Qeela." Jawabnya.
"Bukannya kita telah membahas hal ini tadi? Mengapa sekarang dibahas lagi!" Tukas Aqeela.
"Aku tidak ingin ada yang ditutup-tutupi diantara kita." Tutur Nizam.
"Iya aku tahu! Tapi kita telah membahasnya!" Seru Aqeela kekeh.
"Dengarkan dulu!" Titahnya,"Aku ingin kamu jujur mengenai surat yang kamu kirimkan padaku!" Jelas Nizam.
Aku hampir saja lupa dengan surat itu! Tapi mengapa dia malah mengingatkannya lagi! Batin Aqeela.
"Kamu adalah pengirim surat itukan?" Tanya Nizam.
__ADS_1
"Hmm...Mengapa kamu jadi membahas surat! Aku tidak mengerti!" Aqeela mengelak.
"Bukannya hari itu kamu ingin tahu darimana aku mengetahui alamat rumahmu?" Nizam mengingatkannya.
"Iya,tapi....." Aqeela bingung harus mencari alasan apa lagi.
"Jujur!" Desak Nizam.
"Huuffft...Iya aku yang mengirimkannya!" Aqeela akhirnya mengaku.
"Berarti sebelumnya kita pernah bertemu! Mengapa kamu berbohong saat aku bertanya kita pernah bertemu atau tidak?" Tukas Nizam.
"Berarti kamu tahu pengirim surat itu aku?" Tanya Aqeela dan Nizam hanya mengangguk,"Lalu jika sudah tahu untuk apa bertanya lagi!?" Lanjutnya.
"Hanya ingin menguji kejujuranmu saja." Jawab Nizam enteng.
"Hmm...Tapi bagaimana kamu bisa tahu bahwa pengirim surat itu aku? Bahkan saat itu kamu tidak membaca suratnya! Kamu malah langsung saja membuangnya!" Tukas Aqeela heran.
"Saat itu ada seorang gadis yang memperhatikanku tanpa berkedip saat aku sedang mengaji! Aku merasa risih dengan pandangannya yang terus fokus padaku!" Sindir Nizam,"Karena kerisihan itulah aku sesekali mulai melirik aktivitasnya,hingga aku melihat serta mendengar ia menyuruh seseorang mengirimkan surat itu padaku! Dan ia sendiri malah kabur karena takut tercyduk!" Lanjut Nizam secara tidak langsung terus menyindir Aqeela.
"Tunggu-tunggu! Apa kamu sedang menyindirku?" Selidik Aqeela.
Nizam mengangkat bahunya,"Kamu membaca suratku? Bukannya kamu membuangnya?" Aqeela bertanya lagi.
"Awalnya memang aku buang,tapi karena rasa penasaranku,aku kembali memunguti surat itu dan membaca isinya." Jelas Nizam,"Maka dari itu aku tahu alamat rumahmu! Sekarang sudah jelas kan?" Lanjutnya meyakinkan.
"Kesal? Apa alasannya?" Tanya Nizam heran,"Dan saat kamu shalat waktu itu,kamu berbicara masalah dendam! Itu apa maksudnya?" Belum pertanyaan yang awal Aqeela jawab,Nizam sudah memberikan pertanyaan lagi.
Mungkin memang sudah saatnya aku jujur! Fikir Aqeela.
"Kesal karena hari itu aku bertemu dengan Ustadz sombong sepertimu!" Ketus Aqeela,"Dendam karena sakit hati! Saat itu aku susah-susah mengirimkan surat itu padamu,dan dengan sombongnya kamu membuangnya begitu saja tanpa mengetahui usaha dari si pembuat surat itu!" Aqeela mengeluarkan uneg-uneg yang ada di hatinya.
"Ppffftttt...." Nizam menahan tawanya.
"Aku juga kesal saat aku tahu yang menikahiku itu kamu,otakku terus bertanya-tanya mengapa tiba-tiba kamu menikahiku setelah dengan sombongnya kamu menbuang surat dariku!" Tutur Aqeela berekpresi kesal.
"Aku bukannya sombong! Tapi sudah berpengalaman dalam hal yang berbau modus yang diciptakan oleh kaum hawa sepertimu! Mereka mengirimku surat untuk mengajakku berta'aruf,sering juga ada yang mengatakan langsung perasaannya padaku hingga mengajakku berpacaran! Hal itulah yang membuatku menjaga batas agar terjauh dari kata php!" Jelas Nizam menegaskan.
"Hmmm...." Aqeela hanya berdehem.
"Sekarang kamu masih dendam padaku?" Tanya Nizam memastikan,"Oh ya,apa yang membuatmu mengirimkan surat itu padaku?" Lanjutnya terlihat sangat penasaran.
"Tinggal sedikit! Aku hanya ingin memastikan kamu itu Ustadz yang memberi tausyiah di majlis waktu itu atau bukan?!" Jawab Aqeela.
"Lalu mengapa kamu menerima khitbahan ku jika kamu sudah tahu bahwa aku pria sombong yang kamu sebut Ustadz itu?" Tanyanya lagi.
"Justru itu! Aku tidak tahu orang itu kamu! Makanya saat pernikahan hari itu aku sampai menggerutu,andai aku tahu orang yang mengkhitbahku itu kamu pasti aku akan memikirkannya berulang kali!" Tegas Aqeela.
__ADS_1
"Sudah jelas orang yang kamu kirimi surat itu bernama Nizam! Mengapa kamu masih tidak tahu juga?" Tukas Nizam.
"Aku tidak tahu namamu siapa,yang aku tahu kamu itu Ustadz yang memberi tausyiah saat pertama kali aku ikut kajian di majlis itu!" Tegas Aqeela.
"Seingatku,pembawa acara selalu menyertakan namaku saat mempersilahkanku untuk ke depan!" Ejek Nizam.
"Aku tidak mendengarnya karena para ukhty beriuh memuji-muji Ustadz muda itu!" Gerutu Aqeela.
"Hemmm...." Nizam tersenyum tipis,"Lalu sekarang bagaimana perasaanmu? Apa masih tetap menyimpan dendam juga padaku? Jika iya,berarti saat pertama kali kita bertemu kamu sudah jatuh cinta padaku ya?" Lanjutnya menebak.
"Tidak!" Bantah Aqeela dengan cepat,"Aku hanya kagum pada suaramu saat mengaji saja,sangat merdu!" Lanjutnya.
"Kagum pada suaranya berarti kagum juga pada pemilik suara itu!" Goda Nizam.
"Ish jangan geer!" Bantah Aqeela.
"Tapi sekarang kamu telah mencintaiku kan?" Nizam memastikannya.
"Jelas!" Jawab Aqeela meleset,"Eh maksudku..." Dengan cepat Nizam membungkam mulut Aqeela dengan jari telunjuknya.
"Ana uhibbuki fillah Zaujati." Ucap Nizam sembari memegangi kedua pipi istrinya.
Kenapa hatiku dag-dig-dug begini? Batin Aqeela tak karuan.
"Aku memang tidak romantis dan mungkin juga membosankan di matamu! Tapi percayalah,sejak saat kita menikah kamulah satu-satunya wanita yang aku cintai dan hingga ajal memisahkan kita,kamu akan tetap menjadi pujaan hatiku!" Tutur Nizam dari hati yang paling dalam.
Mengapa dia mendadak jadi romantis begini? Batin Aqeela semakin berdebar.
Aqeela mendadak gugup,"Katakan kamu juga mencintaku!" Pinta Nizam.
"Tentu aku juga mencintaimu." Sahut Aqeela tulus.
Nizam langsung memeluknya dengan erat hingga mereka lupa sekarang sedang berada di tempat umum.
.
.
.
So sweet💕💕Begitulah jika jatuh cinta😊Dunia jadi serasa milik berdua😍Yang lainmah ngontrak😆😆
Para readers pada kemana nih? Kok sepi banget sesepi hatiku wkwk😆Udah kaya kuburan aja sepi! Abis kagak ada yang komen apa kek gituu😂Apa jangan-jangan pada pingsan karena abis baca keromantisan antara Mas Nizam dan Mbak Qeela?😆Pingsan karena pengeeen kek gitu juga pastinyaa😄
Dedek Author jadi ikut halu deh;((
Dahlaahhh😥Jangan lupa like,komen serta votenya yaa kakak-kakak yang baik hati😍Terimakasih banyak❤❤
__ADS_1