MENJADI MADUKU COBA SAJA...

MENJADI MADUKU COBA SAJA...
BAB.42


__ADS_3

Happy reading 😍


"Maaf ya, gue cuekin loe tadi," ucap Nessa yang merasa bersalah dengan sikap nya, padahal Yoga tidak ada sangkut pautnya dengan masalah keluarga besar nya. bahkan Yogalah yang selalu ada di saat hatinya benar-benar hancur dan terluka. Yogalah yang selalu membuat dirinya berharga. Yoga lah yang selama berkorban untuk nya, ya hanya untuk nya, hanya untuk Nessa.


Di dalam diamnya, butiran air mata meluncur begitu mulus nya, Nessa mulai terisak, entah apa yang ada dalam pikiran nya saat ini, tapi ada rasa yang begitu besar yang dia rasakan saat ini, rasa takut akan kehilangan.


Nessa melihat Yoga tidak bergerak dan menutup matanya. bergetar lah tangan Nessa, mulutnya tertutup rapat, ada sesak di dadanya melihat pria di hadapannya hanya terdiam saja.


"Ga, bangunnn loe gak boleh matii," Nessa menggoyang tubuh Yoga dan menangis sejadi-jadinya. gak boleh pokoknya gak boleh, Yoga gak boleh meninggalkan dirinya sendirian.


"Hiks, siapa yang mau nemenin gue, jagain gue, kalau loe gak ada ga," Nessa menangis dengan mengelus perlahan wajah Yoga.


"Berisik, aku gak selemah itu kali Ness," Yoga menangkap tangan Nessa yang tadi mengelus wajahnya.


"Iiiih loe Frank ya," Nessa terhenyak mendengar suara Yoga, ternyata pria itu masih bernyawa. ada perasaan lega di dadanya. Nessa memukul dada Yoga karena mengira telah sengaja membuat nya khawatir.


"Engga kok, siapa yang Frank sih," ujar Yoga sambil tersenyum dan menahan pukulan dari Nessa.


"Aku hanya sedikit pusing dan ngantuk aja kok," ucapnya dengan menghapus air mata Nessa.


"Maaf ya, udah buat kamu nangis kayak gini," Yoga tidak menyangka bila Nessa akan begitu takut kehilangannya.


"Nggak papa, hmmm klo gitu gue pamit ya, mau tidur juga, loe istirahat aja," ujar Nessa yang terlihat malu setelah menyadari sikapnya tadi.


"Terima kasih," ucap Yoga sebelum Nessa benar-benar pergi dari kamarnya.


"Ya....," Nessa pun pergi dan akan istirahat juga,


SEMENTARA ITU...


"What??? Selvy tercengang melihat kondisi rumah yang akan dia dan Randy tempati untuk sementara waktu.


"Kenapa tidak suka, kalau begitu pergilah dan jangan ikuti gue," Randy membuka pintunya yang terkunci dengan kunci yang baru saja dia dapatkan dari ibu sang pemilik kontrakan.

__ADS_1


"Ini gila, mau tidak mau gue tinggal di rumah jelek kayak gini," batin Selvy, dia pun masuk dan membawa barang nya ke dalam setelah Randy berhasil membuka pintunya.


"Kita akan tinggal di sini sampai aku dapat pekerjaan," jelas Randy kepada Selvy. dia pun memasuki ruangan yang tidak besar seperti ruangan yang ada di rumahnya dulu, tapi ini lebih baik daripada tinggal di kolong jembatan atau emperan toko.


"Iya mas, aku cape mau tidur," Selvy mendorong Randy keluar dari kamar lalu menutup pintunya dan menguncinya dari dalam.


"Trus aku tidur di mana?! Randy berusaha masuk namun pintu sudah terkunci, dia tidak menyangka kalau Selvy membiarkan dia tidur di luar kamar. padahal ruangan ini belum memiliki perabotan apapun termasuk kursi dan yang lainnya.


Randy pun merebahkan tubuhnya di atas kain yang dijadikan tikar, dan ranselnya menjadi bantalnya. dia mulai berpikir tentang keadaan nya saat ini, semenjak dirinya di usir dari rumah nya, semua aset yang dia miliki di bekukan oleh pak Faisal, bahkan semua kartu kredit nya tidak luput dari sasaran ayahnya.


"Ini hukuman buatku, maafkan mas Ness," batinnya, terbayang wajah Nessa yang tengah marah dan menangis akibat ulahnya.


"Seandainya saja kamu mau memaafkan mas Ness," batinnya membayangkan Nessa dan anaknya tersenyum kepada nya dan menunggu kedatangannya.


Randy terlelap, hari ini begitu melelahkan baginya, di tambah lagi Selvy yang ingin terus mengikuti langkah nya. sungguh membuat hidup nya semakin sulit saja.


PAGI HARI YANG CERAH...


"Hmmm, Alhamdulillah pusingnya sudah tidak terlalu berasa," Yoga mencoba bangkit dari tempat tidur dan mengambil segelas air putih lalu meminumnya seperti biasa, meski hal itu terlihat sepele, namun sangat baik untuk kesehatan.


"Selamat pagi bunda, yah," Yoga melihat bunda dan pak Nirwan sedang sarapan pagi.


"Pagi nak," jawab kedua nya dengan tersenyum.


Yoga duduk di tempat biasanya namun dia masih belum menemukan seseorang, tumben sekali, apa belum bangun atau ada hal yang tidak diinginkan telah terjadi.


"Kenapa nak, mencari Nessa ya," tanya pak Nirwan dengan tersenyum lalu melanjutkan memakan sarapan pagi nya.


"Hmmm, iya yah, apa Nessa sakit," tanya Yoga kepada pak Nirwan, Yoga merasa menyesal bila Nessa sampai benar-benar sakit karena merawat dirinya semalam.


"Tidak, Nessa....


"Hai, loe udah mendingan kan," tiba-tiba Nessa sudah ada di belakang kursi Yoga, membuat Yoga harus melihat ke arah belakang.

__ADS_1


Pak Nirwan dan bunda hanya tersenyum melihat keduanya yang sudah lebih baik dari kemarin.


"Iya, aku udah baik-baik saja kok," jawab Yoga dengan wajah semu merah, karena bunda dan pak Nirwan sedari tadi memperhatikan dirinya dan juga Nessa yang kini malah ada di belakang nya.


"Jalan yoook, aku bosan," pinta Nessa setelah memasukkan bekal ke dalam tasnya.


"Kemana,?! Yoga yang tidak tahu kalau Nessa malah mengajak dirinya jalan ke luar hari ini.


"Kemana aja deh, yang penting happy," ucap Nessa, meski hatinya tidak seceria wajahnya.


"Iya nak Yoga, temani Nessa ya" kini bunda yang meminta untuk menjaga Nessa.


"B...baik Bun, saya akan menjaga nya," ucap Yoga dengan sepenuh hati.


"Ayo berangkat," Nessa menarik tangan Yoga setelah berpamitan kepada orang tua nya,


"I...iya," Yoga pun membiarkan Nessa memegang tangan nya sampai keluar rumah.


"Kamu baik-baik saja kan," tanya Yoga sekali lagi,


"Iya, gue sangat baik kok," jawab Nessa singkat karena dirinya langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam nya.


Meski Yoga masih meragukan jawaban Nessa, mau tidak mau dirinya akan menjadi supir pribadi sang pujaan hati, apapun akan dia lakukan demi Nessa, tak terkecuali, meski nyawa pun akan dia pertaruhkan bila memang Nessa yang meminta nya.


Mobil pun melaju perlahan meninggalkan rumah Nessa, selama perjalanan Yoga dan Nessa saling terdiam, Yoga merasa Nessa belum bisa pulih dari lukanya, sakit hatinya masih membekas, sepanjang perjalanan dia hanya mencuri pandang saja. sedangkan Nessa terfokus pada jalanan yang mereka lewati.


"STOOOP...


Mobil pun berhenti dengan mendadak mendengar kata stop yang begitu mengejutkan Yoga. mengapa harus stop dengan berteriak, kan bisa kasih aba-aba.


"Kenapa berhenti di sini," Tanya Yoga kepada Nessa yang siap-siap turun.


"Mau berenang di danau itu," jawab Nessa sekenanya. di depan nya ada sebuah danau yang tidak begitu luas namun sangat asri.

__ADS_1


"Apa berenang, itu berbahaya Ness," Yoga tidak setuju dengan rencana Nessa kali ini.


Happy reading 😍


__ADS_2