MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN

MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN
Jalan Berat Sedang Di Lalui..


__ADS_3

"Maafkan aku Sas, aku tahu salahku dimana, aku tahu, aku hanya minta sedikit saja waktu untuk memperbaiki yang telah aku rusak. Sedikit saja? Aku mohon?"


Sasti mematung, dadanya bergemuruh. Dia diam tak merespon. Namun tak lama kemudian dengan perlahan dia melepas tangan yang mendekapnya. dan setelah tangan terlepas.


"Aku lelah mas, aku mau istirahat.." Sasti pun berlalu meninggalkan Arnaf yang diam tak bergeming menatap punggung Sasti yang semakin menjauh dan hilang di balik pintu kamar.


Arnaf melajukan kursi rodanya ke kamar yang sama. Matanya menyipit begitu sampai kamar, Sasti sudah berbaring di atas sofa. Dia mendekat.


"Sas, jangan tidur disini? " Ucapnya pelan.


Namun Sasti memilih bungkam, dia tak bergeming sedikitpun. Arnaf yang berada di belakangnya hanya menahan sesak.


"Sas.."


"Tidurlah mas, aku capek, tolong biarkan aku istirahat.."


"Tapi ini bukan tempat tidur Sas.."


Sasti bangkit. Arnaf mengira kalau Sasti akan menurutinya. Namun perkiraannya salah, Sasti membawa bantal dan selimutnya memilih keluar kamar dan menutup pintu dengan keras hingga Arnaf terkejut.


"Sasti..!!!" bentak Arnaf. dia mengusap kasar wajahnya.


"Kenapa begitu sulit Tuhan? aku hanya butuh kesempatan darinya? aku hanya ingin memperbaikinya Tuhan? apa jalan jodohku sama dia sudah berakhir? kumohon Tuhan? lunakkan hati Sasti, aku mohon dengan sangat." rintih Arnaf dalam hati. Dan dia pun memutuskan membaringkan tubuhnya di sofa dan terpejam di sana.


Pagi pun kini menjelang. Seperti hari kemarin, hening pun dirasakan oleh sepasang pengantin baru itu. Diantara mereka benar benar tidak ada kehangatan sedikitpun dalam rumah tangga yang baru beberapa hari dibangun.


Menu sarapan yang seharusnya enak dan penuh penuh cinta, kini benar benar tak terasa nikmat disantap lidah. Dengan sisa ketegangan semalam diantara mereka yang entah sampai kapan ketegangan akan berakhir dan kembali menghangat seperti saat mereka baru jadian.


Hari ini, Arnaf memutuskan berangkat ke kantornya. Sudah saatnya dia juga harus memikirkan perusahaan yang dia rintis.


Usaha Arnaf bergerak di bidang brodcasting dan entertainment seperti stasiun televisi, radio, media online serta percetakan majalah juga surat kabar. Dan juga pemegang saham terbesar dari beberapa aplikasi ponsel terkenal seperti aplikasi novel, ojek online, game, dan beberapa lainnya.


Arnaf lebih dulu meyelesaikan sarapannya, dia segera beranjak meninggalkan meja makan. Namun sebelum itu.


"Pakailah ini, gunakan untuk keperluanmu, pin nya tanggal lahir kamu.." ucap Arnaff sembari meletakkan blackcard di depan Sasti. Setelah itu dia segera mengayuh kursi rodanya menuju halaman rumah dimana supir nya sudah menunggu.


Sasti tertegun, dia menatap kepergian Arnaf. sungguh di dalam lubuk hati terdalam, Sasti begitu tak tega memperlakukan Arnaf seperti beberapa hari ini. Hatinya pun perih, namun mengingat pengkhianatan Arnaf membuat dia menutup pintu hatinya untuk pria itu. Tiga tahun dia bersembunyi dan mengobati lukanya sendiri, namun kehadiran Arnaf membuka kembali rasa sakit itu.


"Aku tidak pernah berharap bertemu denganmu kembali mas, tapi kenapa malah kamu datang dikehidupanku?" Gumamnya.


Sementara di gedung kantornya, Arnaf pun tak kalah gusar. Pikirannya tertuju pada nasib rumah tangganya. Tatapannya kosong kearah luar gedung.


"Sasti.." berkali kali dia bergumam menyebut nama istrinya.


"Tuan.." Sebuah sapaan seseorang menyadarkan Arnaf dari angannya.

__ADS_1


"Ada apa to??" Tanya Arnaf sedikit menoleh ke arah asistennya.


"Non Manda sudah datang tuan."


"Suruh dia masuk.."


"Baik.."


Dan sang asisten pun beranjak keluar untuk memanggil seseorang yang dia sebut namamya tadi.


Tak lama berselang, perempuan bernama Manda masuk. Cantik namun tatapannya nampak sangat tidak bersahabat.


"Ada apa lagi kamu memanggilku kesini? Mau tanya Sasti lagi?" Tanya perempuan itu langsung ke intinya.


Dari pertanyaan yang Manda lontarkan, jelas sekali kalau Arnaf mungkin telah berkali kali menemui dia dan menanyakan tentang perempuan yang sekarang menjadi istrinya.


Arnaf membalikkan kursi rodanya. Dia menatap Manda yang wajahnya penuh kebencian.


"Tidak.." Jawab Arnaf datar.


"Terus ngapain kamu maksa aku kesini? dikiranya aku nggak ada kerjaan apa?"


"Aku sudah menemukan Sasti.."


Terkejut? sudah pasti Manda sangat terkejut. Dia sangat merindukan sahabatnya yang dulu bersama sama merintis usaha toko kado dan aksesoris yang kini Manda geluti.


"Dia sekarang dirumah.."


"Di rumah??"


"Sasti di rumahku, kita sudah menikah.."


"Apa? kamu mimpi?"


"Datanglah kerumahku, ini alamatnya, dia mungkin kesepian dirumah.."


"Tunggu, tunggu, bagaimana Sasti bisa mau menikah denganmu? gak mungkin dia mau?"


"Tapi nyatanya kita sudah menikah.."


"Apa kamu gila? apa kamu yang memaksanya? atau jangan jangan, ini bagian dari permainanmu lagi?"


"Aku tidak pernah mempermainkan dia Manda.."


"Tapi kamu pernah mengkhianatinya..!!!!" teriak Manda dengan keras.

__ADS_1


"Kamu anggap apa perasaan Sasti Hah? Dia begitu menjaga cintamu namun kamu dengan gampangnya menghancurkannya demi seorang wanita rendahan. Harusnya kamu malu menemuinya, bukan mengikatnya dalam pernikahan, dia butuh bahagia, bukan butuh di khianati.."


Arnaf terdiam. Dia memang sepenuhnya salah, mau bicara apapun posisinya tetap salah.


"Apa lumpuhnya kakimu juga sebagian dari rencanamu untuk mengharap belas kasih dari Sasti? menjijikkan kamu Naf.."


Dan Manda pun segera beranjak meninggalkan Arnaf yang mematung. Matanya nanar memandang pintu. Hatinya sesak.


"Maafkan aku Sasti, maafkan aku.." Rintihnya yang entah sudah berapa kali kata itu diucapkan selama tiga tahun ini.


Sementara dirumah, kini Sasti terlihat sedang ngobrol bersama Arnia adik iparnya. dulu Arnia sangat dekat dengan Sasti, mungkin karena Sasti orangnya memang enak di ajak ngobrol dan selalu nyambung. Arnia juga dulu sangat kecewa dengan tingkah kakaknya yang menyebabkan Arnia kehilangan teman, kakak bahkan seorang sosok ibu kedua setelah mamahnya. Mereka sekarang berada dihalaman belakang, lagi menikmati rujak hasil bikinan mereka sendiri. Kebetulan, sebelum datang Arnia telfonan dulu sama Sasti dan sepakat ngerujak bareng.


"Kamu tuh cantik loh Ni, masa masih jomblo?" salah satu pertanyaan yang terlontar dari mulut Sasti sembari mengisi mulutnya dengan potongan bengkoang penuh bumbu rujak.


"Males aja mba pacaran, nggak ada faedahnya. Tapi kalau ada yang minat sama Nia dan orangnya ganteng, ya boleh dicoba heheh.."


"Cihh, bisa aja kamu.."


"Mba Sasti betah tinggal disini?"


"Ya belum lah Ni, kan masih baru, baru aja dua hari.."


"Ngga sia sia dong usaha mas Arnaf membangun ini dua tahun yang lalu, impiannya membangun rumah ini memang hanya untuk mba Sasti.."


Degg..


"Untuk mba??"


"Iya, katanya jika nanti suatu saat ketemu sama mba, entah itu mba masih sendiri apa sudah nikah, akan memberikan rumah ini untuk mba Sasti.."


Sasti hanya tersenyum hambar.


"Ni, apa mba boleh tanya?"


"Apa mba?"


"Sejak kapan mas Arnaf lumpuh??"


"itu tiga tahun yang lalu mba?"


"Tiga tahun?"


"iya, saat hari dimana mba Sasti dan keluarga mba menghilang nggak ada kabar.."


Deggg

__ADS_1


@@@@


__ADS_2