MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN

MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN
Empat Lawan Satu..


__ADS_3

Mencekam, itulah yang dirasakan saat ini. Di dalam rumah mewah di salah satu kawasan elit, suasana terlihat begitu mencekam. Seorang wanita terlihat begitu ketakutan berlutut di hadapan seorang pria yang sedang duduk di sofa sembari matanya terus menatap layar ponsel.


"Apa kamu semenjijikan ini?" Tanya pria itu. Namun matanya tak lepas dari apa yang sedang dia tonton.


Ya. Pria itu sedang menonton video dewasa dimana pemeran wanita dalam video tersebut adalah istri keduanya. enam video yang dia terima entah dari siapa, memperlihatkan betapa ahlinya sang perempuan melayani laki laki yang berbeda beda. Bahkan wanita itu terlihat bangga dan sering menebar senyum di hadapan kamera meski di bawah sana seorang laki laki sedang menghujamkan gairahnya.


"Kapan kamu membuat video video ini?" Tanya pria yang lebih di kenal dengan nama Mahendra.


"Itu bukan saya sayang." Sangkal sang istri, "Itu pasti rekayasa."


"Cih, apa kamu tidak bisa membedakan mana video asli dan editan? Atau jangan jangan istrinya Arnaf benar. Kamu juga ada main dengan orang orang rumah sini?"


Citra seketika membulatkan matanya. Rasa panik jelas saja langsung terpancar dari wajahnya.


"Mana mungkin sayang, aku telah berubah sesuai permintaanmu." Ucap Citra dusta.


"Berarti video ini dibuat sebelum bertemu denganku?"


Dan mau tak mau Citra pun mengangguk. Mahendra tersenyum sinis. Dia kembali menonton video permainan istrinya yang menurutnya memang sangat hebat. Itulah sebabnya dia mau menjadikan Citra sebagai istrinya agar dia seoang yang bisa menikmati tubuh indah itu tanpa mau berbagi dengan yang lain.


"Apakah salah satu alasan kamu ingin menghancurkan Arnaf gara gara kamu tak mampu membuatnya tidur bersamamu?"


Kembali mata Citra membulat. Dan pastinya pemikiran suaminya itu benar. Selain dia tidak terima gara gara kecelakaan itu rahimnya harus di angkat, tentu saja dia juga ingin merasakan permainan ranjang pria tampan itu.


"Apa jangan jangan hidupmu dulu hancur itu bukan karena Arnaf namun karena perbuatanmu sendiri?" Dan lagi lagi pertanyaan itu membuat Citra tercekat.


"Pantas istrinya Arnaf menuduhku pria bodoh. Wajar lah, aku memungutmu dari lokalisasi dengan alasan kamu berada disana setelah hidupmu dihancurkan Arnaf. Kenapa aku bisa percaya begitu saja."


"Sayang tapi apa yang aku katakan benar. Arnaf penyebabnya. Kalau hidupku tidak hancur karena dia, mana mungkin aku bekerja di lokalisasi?"


"Sepertinya aku memang harus menyelidikinya. Aku tidak mau di anggap presdir bodoh. Ingat demi menolongmu aku harus mengorbankan istriku. Aku rasa benar aku memang bodoh."


"Tapi sayang, sungguh aku benar benar telah berubah. Aku selalu menjaga nama baik kamu sayang." Ucap Citra lagi dan yang pasti penuh kedustaan.


"Benarkah? Kalau gitu aku akan panggil semua laki laki yang bekerja disini." Kembali rasa terkejut menghampiri Citra.

__ADS_1


"Bi..!!" Teriak Mahendra


"Iya tuan.." Jawab asisten rumah tangga yang keberadaanya tak jauh dari ruangan tersebut.


"Panggilkan Wanto, ajis, Sito dan Andi bi, suruh mereka kesini.."


"Baik tuan.."


Seketika wajah Citra memucat. Sudah pasti dalam beberapa saat lagi sang suami benar benar akan mengetahui kebejatannya.


Tak butuh waktu lama, nama nama pria yang disebut namanya kini sudah berada dihadapan Citra dan Mahendra.


Tentu saja, wajah panik juga terlihat jelas pada diri mereka. Melihat nyonya barunya memprihatinkan, membuat mereka sadar pemanggilan mereka kali ini pasti ada hubungannya dengan mereka.


"Apa kalian tahu, kenapa saya memanggil kalian kesini?" Tanya Mahendra dangan tenang. Dia tidak mau menyelesaikan masalah dengan emosi. Ucapan Sasti yang menganggapnya presdir bodoh sungguh sangat menghancurkan harga dirinya dan tentu saja menampar hati kecilnya. seorang pemimpin perusahaan memang seharusnya pintar. Bukan hanya dalam mengurusi perusahaan saja tapi juga mengatasi masalah pribadinya.


"Tidak tuan." Jawab ke empat pria berbeda usia itu hampir bersamaan.


"Yakin tidak tahu?" Tanya Mahendra dan ke empat pria itu lagi lagi menggeleng.


"Maksud tuan?"


"Tidak usah pura pura tidak tahu. Dibelakang saya pasti kalian juga menikmati tubuh istri saya bukan? Jawab saja dengan jujur, atau kalian akan kehilangan pekerjaan kalian dan tentunya saya juga bisa menyeret kalian ke penjara."


Rasa panik semakin terlihat dari empat pria itu.


"Tuan tolong, jangan pecat saya, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini tuan." Ucap salah satu dari mereka dan pastinya mereka pun tak mau kehilangan pekerjaan dirumah ini. Gaji mereka lumayan besar dan mereka sudah cukup lama bekerja di rumah ini tanpa embel embel pendidikan yang tinggi mereka mampu menghidupi dirinya dan pasti keluarga mereka juga.


Sebagai laki laki, mereka juga sangat menikmati permainan yang mereka lakukan dengan istrri muda tuannya dan yang pasti mereka hanya di ajak dan harus patuh.


Tapi sayang mungkin kali ini kepatuhan mereka pada nyonya barunya benar benar akan membuat mereka kehilamgan pekerjaan.


Sementara Citra benar benar tak bisa berkata apa apa lagi. Ketakutannya akan kembali ke dunia lokalisasi jelas sudah terbayang dalam pikirannya.


"Jika kalian tak mau saya pecat, katakan sejujurnya pasa saya...!" Kali ini ucapan Mahendra terdengar makin tegas hingga membuat yang ada di sana menciut nyalinya.

__ADS_1


"Maaf tuan, saya diancam jika saya tidak mau melayani nyonya, maka saya akan di pecat tuan." Jawaban jujur salah satu pria itu benar benar bagaimana petir yang menyambar telinga Mahendra.


"Benar tuan, saya juga diancam." ucap yang lainnya hampir bersamaan.


Tatapan tajam tentu saja Mahendra layangkan pada perempuan yang kini bersimpuh ketakutan.


"Sayang, mereka berbohong, sungguh aku tidak pernah melakukan itu sama mereka. Bagaimana mungkin tubuh indahku ini aku berikan ke mereka secara cuma cuma sayang." Ucap Citra berusaha menyangkalnya. Namun sepertinya pembelaan yang dia lakukan sia sia belaka. Mahendra terus menatapnya dengan penuh amarah.


"Bibi...!" Teriak Mahendra lagi. Dan datanglah seorang perempuan menghampirinya.


"Ada apa tuan?" Tanya sang bibi. Terlihat disana Mahendra mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang.


"Bibi bawa uang ini, silahkan bibi ajak yang lain buat jalan jalan dan bibi harus kembali nanti sekitar jam tujuh malam mengerti?" Meski heran bibi itu menerima uang yang diberikan tuannya dan dia segera berlalu setelah pamit tanpa banyak melontarkan pertanyaan.


Setelah semua pembantu perempuan pergi, kini tinggal pembantu laki laki yang mau tak mau harus menerima hukumanya.


"Apa kalian sangat menikmati permainan nyonya kalian?" Tanya Mahendra dan ke empatnya mengangguk. Pasti mereka sangat menikmati tubuh indah nan molek majikannya.


"Kalau begitu, lakukan lah sekarang di depan saya."


Mereka semua terkejut dengan apa yang diperintahkan.


"Maksud tuan?"


"Empat lawan satu, kalian bersamaan nikmati nyonya kalian sekarang..!!!"


"Tapi tuan?"


"Sekarang atau kalian saya penjarakan."


Tak ada pilihan lain, mau tak mau mereka pun harus bermain dengan satu wanita.


"Tidak sayang aku mohon jangan lakukan ini."


"CEPAT LAKUKAN...!!!!

__ADS_1


@@@@@


__ADS_2