
Senyum indah terkembang seketika saat tubuh Arnaf merasakan dekapan dari wanita yang sekarang menjadi istrinya. Dekapan yang telah lama hilang dan dekapan yang sangat dia nantikan.
Berpisah selama tiga tahun tidak serta merta melupakan kebiasan kebiasan kecil yang sering dilakukan mereka saat masih bersama. Seperti pelukan yang Sasti berikan saat ini.
Pelukan itu masih sangat menenangkan dan menghangatkan. Dan memang seperti itulah Sasti. Dari dulu dia bisa memberi ketenangan saat Arnaf dalam keadaan yang tidak baik baik saja.
Meski cinta itu masih abu abu, namun hal hal kecil seperti itu bisa jadi jalan mempererat sebuah hubungan.
Arnaf tak berani membalikkan badan. Dia takut dekapan tangan Sasti akan terlepas jika dia memandang wajah istrinya yang sudah pasti berada persis dibalik punggungnya. Perlahan Arnaf mengarahkan tangannya. Dia menaruh telapak tangan itu dipungung tangan istrinya. Diluar dugaan, sasti tetap diam tak bereaksi.
"Sas.." panggil arnaf tanpa menoleh.
"Humm.."
"Kirain tidur.."
"Bentar lagi mungkin." jawab Sasti dan entah kenapa dia malah makin memperrat pelukannya dan menempelkan pipinya di punggung sang suami.
Sudah pasti Sasti juga merasakan kenyamanan memeluk pria yang pernah mengisi hatinya selama lima tahun. Seperti dahaga yang tersiram segelas air. Itulah yang dirasakannya saat ini.
"Mas.." panggil Sasti lirih.
"Humm.."
"Tadi aku bertemu Citra."
Degg.
Arnaf terperangah. dia sedikit memutar kepala melihat wajah Sasti namun wajah itu tenggalam ddipunggungnya.
"Dimana?"
"Di salon. Sepertinya dia tidak mengenaliku."
Arnaf hanya menjawab dengan kata "oh" saja kemudian dia terdiam. Pikirannya jelas sekali tak menentu.
"Kamu hati hati yah?" ucap Arnaf tiba tiba membuat Sasti yang sedang menikmati punggung suamimmya mendongak meski tak melihat wajah Arnaf.
"Hati hati kenapa?"
"Aku nggak tahu Citra ada hubungan apa denagn Fariq, yang pasti tadi Fariq bilang kalau Citra akan menggangguku."
Seketika pelukan tangan Sasti melonggar membuat hati Arnaf sedikit kecewa. Sasti bergeser dan dia beralih posisi membelakingi Arnaf.
Pria itu menoleh dan segera membalikan badan menatap punggung istrinya.
"Mas Arnaf ketemu Fariq." tanya Sasti tanpa menolah.
"Iya, nggak sengaja tadi pas mau jemput kamu."
"Emang Fariq cerita apa ke kamu mas? kok waktu pas ada aku, dia nggak cerita apa apa?"
Arnaf tahu, Sasti belum sepenuhnya percaya dengan kabar yang dia punya. Bukan karena kedatangan Citra, namun lebih ke ucapan Anraf tentang Fariq.
__ADS_1
"Soal itu aku nggak tahu, tapi aku sama Manda juga terkejut mendengarnya."
"Manda tahu?"
"Iya."
Dan untuk sejenak suasana hening menyelimuti mereka.
Entah dapat keberanian darimana, tiba tiba Arnaf menggerakkan tubuhnya perlahan. Dan setelah dekat dengan Sasti, dia langsung melingkarkan tanganya di pinggang ramping milik istrinya.
Arnaf beripikir mungngkin Sasti akan menolak bahkan marah. Namun diluar duagaan, tak ada penolakan dari istrinya. hinga senyum Arnaf kembali terkembang.
"Maaf, aku nggak ada maksud bohong, tapi..."
"Bukan itu maksudku mas. Aku malah khawatir kamu terpengaruh. Ntar yang ada hatimu tak tenang. Kalaupuan Citra mau berulah, aku yakin kamu bisa melakukan sesuatu kan mas?"
Pertanyan Sasti seakan akan memberi isyarat kalau dia mulai perlahan memberi kepercayaan lagi pada suaminya. Tentu saja hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri dalam hati Arnaf.
"Tentu saja aku akan menghadapinya. Karena kesalahanku lah dia ada. Apapun yang akan dia lakukan aku siap Sas. Yang penting aku nggak ingin kamu terluka lagi. Apa lagi terluka karena aku."
"Sudahlah mas, lakukan saja. Yang penting jangan bertindak yang mengecewakan keluarga kamu. Jika mereka kecewa lagi sama kamu, aku nggak bisa berbuat apa pa loh."
"Iya, makasih yah kamu memberi aku kesempatan. Aku hanya butuh dukungan dari kamu Sas. "
Arnaf semakin mempererat pelukannya. Dan keduanya terdiam dengan mata yang terpejam.
Sementara di tempat lain sepasang manusia yag bukan suam istri juga sedang dalam posisi saling peluk tanpa busana.
"Kamu kapan kembali lagi kesini Cit? kok nggak ngabarin?" tanya seorang pria yang usianya di atas empat pulu lima tahun.
"Siapa? cowok?"
"Iya om, dia laki laki yang sudah menghancurkan hidupku om." jawab Citra dusta.
"Apa? siapa?"
"Cuma pria lumpuh om. Aku akan buat perhitungan sama dia. "
"Kamu dendam?"
"Bisa dibilang begitu Om. Gara gara dia aku keguguran dan tak bisa punya anak lagi. Aku perempuan om, aku juga ingin menikah dan punya anak." si om malah mendengus sebal mendengar penuturan Citra.
"Kalau kamu menikah, ntar yang muasin om siapa? udah deh mending kamu kaya gini aja."
"Tapi setidaknya aku ingin dia juga menderita om. Om lihat kan? Aku tak punya pekerjaan tetap"
"Kamu ingin kerja?" Citra mengangguk.
"Gimana kalau kamu kerja diperusahaan om. biar kalau om pengin om nggak perlu nyari nyar kamu."
Mata Citra langsung berbinar. Dia berbalik badan menatap wajah si om.
"Beneran om?"
__ADS_1
"Benerlah, nanti Om bantu deh biar kamu bisa membalaskan sakit hati kamu sama mantan kamu dulu." Citra pun semakin senang mendengarnya.
"Yakin? om akan bantu saya? wahh." ucap Citra girang. Dia bahkan memberi ciuman ke wajah si om bertubi tubi.
"Tapi dengan satu syarat. Kamu tetap melayani om kapanpun om mau. jangan menolak atau membantah."
"Siap om, gampang itu mah. atau malam ini om mau nambah?" tawar Citra dengan senyuman menggoda.
"Sampai pagi ya?" dan Citra hanya mengangguk nakal.
Dan terjadilah kembali hubungan panas penuh keringat.
##
Tak terasa pagi pun menjelang. Nampak sasti perlahan menggerakkan tubuhnya. Namun dia marasakan pergerakannya tak leluasa. Sastu sedikit terkejut dan meraba bagian perutnya. Ternyata tangan suaminya masih melingkar diperutnya. Senyum tipis tersungging dari bibirnya.
"Mas, mas.." panggil Sasti sambil menepuk tepuk punggung tangan suaminya.
"Eeuugghhh.." Arnaf merespon.
"Bangun. Sudah siang."
Arnaf bukannya membuka mata, dia malah semakin mempererat pelukan yang melingkar di perut Sasti.
"Bentar lagi."
"Ini sudah siang loh."
"Kamu lupa ini hari apa?"
Sasti tercenung mendengar pertanyaan Arnanf dengan suara khas orang bangun tidur. Dia mengambil ponsel dan mengecek kalender.
"Loh, ini hari minggu? kirain senin."
"Makanya bentar lagi bangunnya. pengin di puas puasin tidur."
"Jangan lah, kita latihan jalan dibelakang."
"Nanti kan? nggak harus sepagi ini."
"Ya terserah mas Arnaf aja. ini tangannya tolong lepas aku mau bangun."
Bukanya melepas, Arnaf malah bangkit dan berpindah posisi melangkahi tubuh Sasti dan dia kembali berbaring menghadap istrinya. Tak lupa dia juga merengkuh tubuh istrinya dan membenamkan kepala sang istri di dadanya.
Jelas sekali Sasti terkejut dengan perlakuan sang suami. Namun entah kenapa Sasti sama sekali tak menolaknya. Dia seakan menikmati perlakukan suaminya.
"Makasih ya Sas, kamu mau memberikanku kesempatan." gumam Arnaf sembari mengecup ujung kepala istrinya.
@@@@@
...Hai reader, gimana ceritanya? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....
...Sambil nunggu yang ini up, ngga ada salahnya dong baca cerita lainnya yang tak kalah uwuw, nih ada karya bagus dan romantis sangat....
__ADS_1