MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN

MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN
Pertemuan..


__ADS_3

Pokoknya papih harus tuntut Arnaf sampai dia masuk penjara pih, mamih nggak terima. Enak aja kalau sampai dia lolos." Rengek manja seorang perempuan kepada pria tua di bangku belakang sebuah mobil mewah.


Mulutnya merengek kepada pria disebelahnya namun matanya mengerling cantik ke sopir yang memperhatikan tingkahnya dari kaca spion.


"Iya sayang, pasti papih akan bawa kasus ini ke jalur hukum kalau dia nanti tidak mau minta maaf secara terbuka di depan wartawan. Tenang saja papih sudah menyiapkan pengacara handal. Papih yakin Arnaf takkan mampu melawan kita." Ucap Pria tua itu sembari tangannya nengusap usap paha mulus perempuan di sebelahnya.


"Wanto, kita mampir ke tempat Bambang dulu. Ada yang akan aku bicarakan dengan beliau." Ucap pria itu lagi kepada supirnya.


"Baik tuan." Jawab sang supir yang berumur sekitar tiga puluh tahun itu. Dia melajukan ke arah yang dimaksud tuannya.


Tak lama kemudian, mobil itu sampai di tempat tujuan. Kini mobil tersebut berada di area parkir bawah tanah sebuah gedung.


"Pih, Citra nggak ikut turun yah? Citra tungguin aja dikafetaria, bosen kalau ikut pembicaraan papih di dalam." Ucap Citra dengan manjanya.


"Baiklah, lagian papih cuma sebentar kok. Wanto kamu temenin nyonya. Jangan sampai lengah."


"Baik tuan." Jawab Wanto dan keduanya saling lirik dengan senyum penuh arti.


Setelah tubuh sang papih menghilang, Citra langsung menarik tangan sang supir agar pindah ke belakang.


"Aku sudah nggak tahan gara gara kamu dari tadi senyum senyum terus bikin aku gelisah aja, cepet buka celanamu." Perintah Citra, dia juga langsung mengangkat rok pendeknya.


"Dengan senang hati nyonya." Sang supir pun dengan semangat melaksanakan perintah nyonya barunya. Dan ini sudah berlangsung sejak beberapa hari semenjak Citra menjadi istri pengusaha ternama, beberapa asisten rumah tangga di kediaman barunya wajib melakukan tugas tambahan yang di minta sang nyonya baru. Dan tentu saja tugas baru yang menjadi rahasia itu sangat disambut baik pria pria tertentu yang bekerja di rumah tersebut. Citra terbilang cantik dengan tubuh langsing nyaris tanpa cela, tentu saja siapapun tak akan menolak perintahnya.


Sementara di kantor Arsyadi terlihat Arnaf dan Sasti sedang terlibat pembicaraan serius dengan pengacara perusahaanya.

__ADS_1


"Benar kata nak Sasti Naf, hanya dengan melihat baju yang terkoyak ini saja, sudah dipastikan kalau kamu tidak bersalah." Ucap sang pengacara setelah mengamati kemeja yang kemarin Arnaf pakai.


Arnaf pun tersenyum bangga memandangi istrinya yang justru sedang mendengus sebal melihat suaminya senyum senyum.


"Benerkan apa yang aku bilang, mana ada orang mau memperkosa tapi beberapa kancing bajunya terlepas dengan paksa dan terjadi di ruang meeting yang notabene tempat umum dan suaminya hanya pamit sebentar ke toilet." Ucap Sasti panjang lebar membuat sang suami merasa gemas. Bahkan saking gemasnya Arnaf tak segan segan memperrat lingkaran tangannya dipinggang sang istri hingga sang pengacara di hadapanya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat tingkah dari sahabat anaknya. Pengacara itu adalah ayah dari sahabat Arnaf yang bernama Fatir.


"Dan untungnya kamu juga mempunyai bukti yang lebih kuat. Istrimu benar benar bisa di andalkan Naf, Om salut."


"Iya Om, untung Tuhan ngejodohin dia sama aku Om, kalau nggak, entah lah Om." Ucap Arnaf. Matanya terus saja menatap istrinya.


"Tapi dulu sempat disia siain loh Om, sama cewek ular itu." Ucap Sasti dengan gaya bicara seperti tukang gosip kenamaan. Tentu saja Arnaf semakin terbahak dibuatnya.


"Hahha Arnaf bodoh ya Sas." Ucap sang pengacara dan tentu saja mendapatkan anggukkan dari Sasti.


"Jadi enaknya gimana Naf? mau pakai jalur terbuka apa jalur hukum?" Tanya sang pengacara lagi.


"Baiklah, Om mau keluar dulu menemui papahmu, kalau Om disini bisa bisa Om hanya jadi obat nyamuk." Ucap sang pengacara dan dia segera berdiri meninggalkan Arnaf yang sedang tergelak.


"Kayanya hari ini kelihatannya seneng banget." Cibir Sasti.


"Seneng dong, karena ada istri di sini. Bawaannya semangat terus."


"Ya udah sana lanjutin kerjanya, katanya semangat. aku pengin jajan." Ucap Sasti dan dia berdiri, namun seketika tangan Arnaf menariknya kembali hingga dia terjatuh dipelukan suaminya.


"Awas ih mas, aku pengin jajan ini, suntuk nggak ada cemilan." Ucap Sasti berusaha terlepas dari jeratan suaminya.

__ADS_1


"Aku juga pengin ngemil. Tapi ngemilku ngemil ini." Ucap Arnaf langsung melayangkan bibirnya dan mendarat tepat di bibir sang istri. Sang istri awalnya melotot dan merespon bibir suaminya, namun lama kelamaan naluri hasratnya keluar dan dia akhirnya menyambut bibir suaminya.


Dan tak terasa waktu kini menunjukkan jam sebelas siang. Waktu dimana kesepakatan Arnaf dan Mehendra untuk mediasi.


Terlihat di sana, Tuan Mahendra dan juga Citra berjalan angkuh memasuki gedung perkantoran milik Arnaf. Dengan di dampingi pengacara handal, Mahendra dan yang lain menuju ruang pertemuan yang sudah di tentukan.


Kini mereka memasuki ruang pertemuan yang di maksud. Disana sudah ada Arnaf, Sasti, Bagus, pengacara dan asisten pribadi.


Mahendra dan Bambang, yaitu pengacara handal yang di maksud, dengan wajah congkak memasuki ruang pertemuan. Namun tidak dengan Citra, dia justru kaget melihat wanita yang duduk di sebelah Arnaf. Selain kaget, dia juga pasti takut. Bagaimana Citra tidak takut dengan wanita itu, dulu wanita itu memiliki video hotnya dengan beberapa laki laki. Dan wanita itu juga yang telah menghancurkan rencanya dulu.


"Apa kali ini aku akan gagal lagi?" Gumam Citra dalam hati. Wajah Citra yang sebenarnya sangat panik berusaha dia sembunyikan dengan memasang senyum angkuh penuh kemenangan.


Sasti terus menatap tajam perempuan yang sepertinya berusaha menghindari tatapan matanya. Sedangkan Arnaf merasa heran dengan tatapan Sasti yang penuh amarah dan tatapan itu tertuju pada wanita ulat mantan selingkuhannya.


Tuan Mahendra dan beberapa orang yang mengikutinya pun segera menempati tempat duduk yang sudah dipersiapkan.


"Lihat tuh mantan kamu, mulus ya? kamu nggak ngiler mas?" Bisik Sasti meledek suaminya. Arnaf hanya mendengus menatap wajah sang istri yang sedang tertawa jahat.


"Coba betutu kamu tegang nggak?" Bisik Sasti dan salah satu tangannya meremas gundukan celana suaminya. Tentu saja Arnaf langsung melotot melihat tingkah jahil sang istri.


"Sayang ih." Ucap Arnaf dengan suara sedikit keras hingga semua mata langsumg menatap Arnaf dan dia seketika salah tingkah.


"Tuan Mahendra, apa saya boleh tanya?" Ucap Sasti tiba tiba. Dan tentu saja semuanya nampak terkejut.


"Tanya apa? Silahkan?" Ucap Mahendra dengan santainya.

__ADS_1


"Tuan Mahendra mungut istri dipembuangan sampah daerah mana sih?"


@@@@@


__ADS_2