
"Aku tahu semuanya kok, sejak gagalnya pernikahan aku kemarin, sudah aku pastikan kalau semua yang terjadi, ada campur tanganmu dalam drama pernikahan ini.."
Arnaf tercengang mendengar apa yang baru saja istrinya ucapkan. Memang benar dia merencanakannya tapi entah kenapa ucapan Sasti seakan akan mengandung makna keburukan.
"Sasti.."
"Dimana kamarku? aku ingin istirahat.." ucap Sasti tanpa menoleh sedikitpun.
"Cuma ada satu kamar, itu kamar kita.." Jawab Arnaf lemah.
"Bahkan rumah seluas ini pun kamu hanya membuat satu kamar? Rencana yang sempurna.."
Lagi lagi Arnaf tercengang,
"Kalau kamu tidak berkenan tinggal disini, baiklah, kita tinggal di rumah mamah aja.."
"Nggak perlu, jangan libatkan mamah dalam permainanmu.."
Deggg..
"Permainan? permainan apa sasti?"
"Aku tak perlu menjelaskan, dimana kamarnya, aku ingin istirahat.."
Tapi Arnaf hanya diam. Matanya menatap nanar istrinya yang enggan menatapnya sama sekali.
"Aku tahu salahku dimana, tapi nggak ada niat sedikitpun mempermainkanmu Sas.."
Sasti hanya diam. Sepertinya dia tak peduli dengan pembelaan Arnaf.
"Kalau nggak mau nunjukkan kamar ya udah, biar aku cari sendiri.."
Dan Sasti pun melangkah meninggalkan Arnaf yang mematung menatap nanar kearah istrinya.
"Maaf Sas, maaf kan aku jika kehadiranku membuatmu membuka kembali luka lama, maafkan aku.." Gumam Arnaf lirih.
###
"Mah, apa Sasti dan Arnaf akan baik baik saja??"
"Yah, semoga saja pah, semoga saja Arnaf bisa meluluhkan hati Sasti. Dan arnaf punya semangat untuk sembuh."
"Harusnya Sasti dan Arnaf tinggal disini dulu, paling enggak kalau ada orang, mereka nggak akan ribut, kalau sekarang, bisa dibayangkan deh"
__ADS_1
"Mamah juga penginnya gitu, tapi papah tahu sendiri Arnaf bagaimana.."
"Laki laki bodoh, bisa bisanya membuang berlian demi kotoran hewan.."
"Hhaha, kenapa kotoran hewan pah??"
"Iya lah, geram papah tuh, menariknya apa coba selingkuhannya? Apa karena permainan ranjangnya? nafsu aja di gedein."
"Tapi kan Arnaf nggak pernah ngaku kalau dia pernah berhubungan ranjang sama selingkuhannya.."
"Sulit dipercaya kalau soal itu, apa lagi menyangkut perselingkuhan, kebanyakan orang selingkuh pasti masalah nafsu, apalagi mendengar desas desus kelakuan selingkuhan Arnaf gimana.."
"Bener bener ngecewain ya pah.."
"Yah begitulah, Paling mereka belum merasakan malam pertama, kasian" cibir bagus.
"Hahha sudahlah, biarin aja, mau dibawa kemana pernikahan mereka, kita lihat aja dulu, kalau genting baru mamah turun tangan.."
####
Dan malam pun kini hadir. Disebuah rumah yang baru saja ditempati sepasang pengantin baru, terlihat seorang perempuan sedang berkutat di dapur. Meski itu adalah rumah baru namun sepertinya sang pemilik rumah memang sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan baik. Hal itu bisa dilihat dari apa yang sedang perempuan itu lakukan. Dia lagi memasak menu sederhana untuk dua orang penghuni rumah itu. Rumah itu belum memiliki asisten rumah tangga, selama ini yang bertugas mengurusi rumah itu adalah asisten yang di datangkan dari rumah orangtuanya. Dan kemungkinan besok asisten itu baru datang.
Tak perlu menunggu lama, beberapa menu pun sudah siap di meja makan, hanya ada tiga menu karena sang perempuan berpikir hanya ada dua orang dirumah itu jadi buat apa masak banyak banyak.
Selayaknya seorang istri, Sasti pun melayani suaminya dengan baik. Mereka berdua menikmati makan malam dalam hening. Hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring menemani makan malam pengantin baru yang dilanda kehampaan.
Tidak ada obrolan manis, tidak ada kata romantis, ataupun percakapan layaknya pengantin baru. Yang ada hanya saling diam dan perdebatan.
"Apa rencanamu selama tinggal disini Sas? apa akan memulai usaha yang lama?" Tanya Arnaf mencoba mengurai keheningan.
"Belum tahu, belum memikirkan.." Jawab Sasti santai namun penuh duri.
"Kalau butuh bantuan, jangan sungkan ngomong sama aku.."
Sasti tak membalasnya. Dia hanya fokus menikmati makanannya. Sementara dada Arnaf benar benar menahan sesak yang bersemayam dalam dadanya.
"Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" Tanya Arnaf lagi.
"Sepertinya enggak, kalaupun ada, biar nanti aku cari sendiri.."
"Jangan sungkan meminta bantuanku Sas?"
"Aku tidak mau tergantung lagi sama seseorang mas.."
__ADS_1
Deggg
lagi lagi ucapan Sasti mengiris hati Arnaf. Sasti benar benar telah banyak berubah.
"Tapi sekarang aku suami mu Sasti, setidaknya hargai keberadaanku.." Ucap Arnaf sedikit menaikkan nada suaranya hingga sendok yang hampir masuk ke dalam mulut Sasti terhenti.
Sasti kembali meletakkan sendok itu dan dia menoleh ke arah suaminya.
"Apa kamu pernah menghargai aku? Bukankah kamu sendiri yang selalu mengambil keputusan tanpa mau mengerti perasaanku?"
"Aku tahu, aku salah, semua tindakan ku salah, aku tahu, tapi seenggaknya aku ingin berusaha memperbaiki semuanya Sas.."
"Mau memperbaiki yang bagaimana? bagian mana yang harus diperbaiki?
"Sas, aku sungguh ingin memperbaiki hubungan kita.."
"Tapi hubungan kita sudah berakhir!!!" bentak Sasti penuh emosi.
"Hubungan kita sudah berakhir saat ada nama Citra diantara kita!!!"
Arnaf terhenyak, dadanya begitu sesak. Mulutnya seketika terbungkam. Sasti telah membantaknya, mengungkit masa lalu hubungan mereka.
"Permainan apa lagi yang sedang kamu rencanakan mas? permainan apa? tiba tiba kamu datangi orangtuaku, trus merusak acara nikahanku, menjadi suamiku, apa lagi yang akan kamu lakukan untuk nginjak nginjak perasaanku mas? Apa perselingkuhanmu masih kurang untuk menyakiti aku? Apa kamu begitu dendam sama aku karena memutuskan pertunangan begitu saja?"
Airmata sang istri pun mulai luruh. Acara makan malam yang harusnya romantis menjadi mencekam dengan perdebatan akibat luka masa lalu.
"Sas.." Ucap Arnaf terdengar lemah. Hanya itu yang bisa dia ucapkan.
"Silahkan kalau kamu memang dendam, bukankah aku dari dulu memang selalu salah dimata kamu hingga kamu menghadirkan wanita lain yang lebih sempurna? Silahkan hadirkan dia kembali? Jangan berpikir aku akan sakit hati, Silahkan, mainkan saja peranmu mas!!"
Sasti segera beranjak, Arnaf terkesiap, dia segera mengarahkan kursi rodanya untuk menghentikan sasti, namun naas, karena sangat terburu buru, keseimbangannya pun goyah dan
Brakkk...!!!!
"Akkkhhhh..."
Sasti yang mendengar jeritan kesakitan langsung berbalik badan. Dia melihat suaminya sudah tersungkur dan kesusahan meraih kursi roda yang terpental lumayan jauh.
Sesakit sakit hatinya Sasti namun nuraninya menghendakinya untuk menolong sang suami yang sedang berusaha meraih kursi rodanya. Sasti pun melangkah dan membantunya.
Diraihnya kursi roda dan ditatanya kembali. melihat Arnaf yang kesakitan dia pun segera jongkok untuk membantu Arnaf duduk kembali. Setelah duduk kembali dikursi roda, Sasti hendak segera pergi, namun langkahny terhenti karena dengan cepat Arnaf sudah memeluk pinggangnya erat.
"Maafkan aku Sas, aku tahu salahku dimana, aku tahu, aku hanya minta sedikit saja waktu untuk memperbaiki yang telah aku rusak. Sedikit saja? Aku mohon?"
__ADS_1
@@@@