
Entah kenapa hujan masih turun saja sampai detik ini. Sedangkan waktu sudah menunjukan hampir jam sebelas siang. udara pun masih terasa dingin.
Tapi seprtinya apa yang terjadi diluar tidak berpengaruh pada pasangan yang baru saja menuntaskan hasrat terindahnya. Mereka masih meringkuk dengan tubuh polos dengan nafas yang sudah kembali normal. Mereka saling memunggungi. Mungkin karena malu baru kali ini mereka berdekatan dalam keadaan tanpa busana.
Arnaf membalikkan badannya dan dia menatap punggung halus sang istri. Senyumnya terbesit dan perlahan badannya bergeser mendekat dan merapat.
Satu kecupan mendarat di punggung sang istri hingga sang istri kaget karena jambang tipis yan tumbuh di dagu Arnaf membuat tubuhnya merinding.
Satu tangan arnaf di lingkarkan ke perut langsing sang istri dan satunya di taruh sebagai bantal kepalanya.
"Masih sakit?" Tanya Arnaf lirih namun masih bisa di dengar Sasti.
"Sedikit." Jawab sang istri.
Tangan Arnaf yang melingkar di perut Sasti perlahan pindah menyusuri badan Sasti hingga berada di atas daging tembem terbelah yang penuh dengan rerumputan tipis dan rata. Dipijatnya perlahan daging tembem itu.
Sasti hanya terdiam diperlakukan suaminya seperti itu. Bahkan dia menikmati pijatan yang dilakukan Arnaf di daerah tubuh bagian bawahnya.
"Berkurang nggak sakitnya?" Tanya Arnaf dengan tangan yang masih memijit bagian terindah milik istrinya.
"Ya kalau lagi begini sih enggak terasa mas. Entah ntar saat berjalan atau buang air.."
"Ya nanti jangan memakai celana yang ketat dulu yah?" saran Arnaf dan Sasti mengangguk.
"Ponsel kamu mana mas?"
"Tuh di meja, kenapa?"
"Pesen makanan lah, masak pun percuma nggak ada bahan."
"Baiklah."
Arnaf sejenak mengehentikan pijatannya dan bangkit mengambil ponselnya.
"Mas sekalian ambil selimut yah dikamar dan juga bantal."
"Itu aja?"
"Iya."
Dan Arnaf menurutinya tanpa paksaan. Dia beranjak dengan tubuh polos masuk ke kamar mengambil apa yang di pesan istrinya.
Arnaf keluar kamar dengan membawa dua bantal dan satu selimut. Diserahkannya salah satu bantalnya dan dia juga menyelimuti tubuh polos sang istri. Arnaf mengambil posisi duduk dibelakang istrinya yang sedang berbaring.
"Ini mau pesen apa aja?"
__ADS_1
Sasti membalik badan dan sekarang posisinya telentang. Arnaf menyerahkan ponselnya dan dia berbaring sambil kembali salah satu tangannya di taruh di perut istrinya.
Kini terlihat mereka sedang diskusi memilih makanan yang akan mereka beli. Setelah menjatuhkan beberapa pilihan makanan, ponsel dikembalikan ke Arnaf dan oleh Arnaf ponsel itu diletakkan lantai di atas kepala Arnaf.
Sasti memiringkan badannya namun kali ini dia menghadap badan sang suami. Arnaf pun melakukan hal yang sama hingga wajah mereka kini hanya ada jarak tak lebih dari dua puluh centi meter.
Arnaf tersenyum memandangi wajah istrinya membuat Sasti sedikit tercengang.
"Kenapa senyum senyum mas?" tanya Sasti.
"Nggak kenapa napa Sas. Seneng aja."
"Kamu yang seneng tapi aku yang kesakitan." Cibir Sasti dan Arnaf malah tergelak.
"Tapi sakitnya cuma sebentar kan tadi?"
"Iya sih. Tapi kok kamu bisa mijit, siapa yang ngajarin?"
"Ya coba coba aja sih, nggak ada yang ngajarin, insting aja Sas."
"Enak pijitanmu mas. Kirain kamu berguru."
"Hahah, berguru kemana? orang tadi lihat kamu kesakitan aja aku nggak tega penginnya tek jabut. Tapi melihat kamu pasrah ya sudah serang aja." ucap Arnaf. sebenarnya tidak sepenuhnya berbohong, karena Fatir juga sempat memberi tips seperti itu
"Kirain. Nanti lagi ya?" ucap Sasti dan dia mengangkat salah satu tanganya terus membelai wajah sang suami yang penuh dengan jambang.
"Kalau geli ya nanti aku potong. Lagian sudah lama juga nggak dirapiin."
"Ini kemungkinan bisa lagsung jadi nggak ya mas?"
"Jadi apa?"
"Jadi bayi?" Sontak saja Arnaf tergelak. Dia tidak menggeleng maupun mengangguk membuat Sasti memasang wajah cemberut.
"Ya engga tahu sayang. Yang penting kan kita sudah berusaha. Dan harus sering berusaha."
"Iyaa sih."
Di saat mereka asyik ngobrol tiba tiba bel pintu berbunyi.
"Pesenan makanan kali itu mas."
"Coba aku lihat." Arnaf bangkit dia meraih boxer dan memakainya. Tak lupa juga dia membawa dompet karena kali saja itu beneran makanan yang sudah mereka pesan. Arnaf segera saja menuju ke pintu utama tanpa baju hanya menggenakan boxer saja.
Dan benar saja itu merupakan beberapa makanan yang baru di pesen. Arnaf menaruhnya di deket kasur di mana Sasti berada. Sasti pun bangkit.
__ADS_1
Dengan masih tanpa bussana, mereka menyantap beberapa makanan yang sudah tersaji.
"Kita jadi di sini cuma seminggu saja mas?" Tanya Sasti disela sela menikmati makanannya. Sepertinya dia sangat lapar. Mungkin tenaganya terkuras habis akibat permaianan panas yang baru saja dia lakukan dengan sang suami.
"Kurang lama? Kalau mau nambah hari ya enggak apa apa, aku nggak keberatan."
"Aku pengin ke Bali mas."
"Oh ke Bali. Ya sudah kita di sini seminggu aja, trus seminggu di Bali, gimana?"
"Kaya gitu juga boleh. Tapi beneran ini kita nggak kelamaan mas? Ntar urusan kantor gimana?"
"Urusan kantor kan aku bisa ngerjain lewat sini. Dari dulu kapan sih aku pernah nolak keinganan kamu. Apa lagi sekarang kamu sudah jadi istriku."
Salah satu sifat baik yang dimiliki Arnaf adalah selalu menuruti permintaan Sasti. Pacaran lima tahun jarang sekali seorang Arnaf menolak permintaan Sasti. Arnaf begitu memanjakannya. Ditambah lagi keluarga besar Arnaf sangat menyukai Sasti. makin baiklah Arnaf kepada mantan yang sekarang jadi istrinya.
Tak butuh waktu lama, makanan pun sudah habis. Arnaf membereskan semuanya karena dia tak mau Sasti bergerak. Takut jalannya pincang yang di sebabkan oleh rasa sakit pada daging tembem milik sang istri.
Sasti diam melihat pemandangan luar yang masih gerimis. Badan atasnya terlihat polos hingga dua benda kenyal itu menggantung bebas tanpa beban. Sedangkan tubuh bagian bawahnya dia tutupi dengan selimut.
Setelah semuanya beres dan rapi kembali, Arnaf kembali duduk dan mengambil posisi di belakang istrinya. Tangannya langsung dia lingkarkan dan dagunya dia taruh dipundak sang istri. Sesekali salah satu tangannya memencet benda yang menggantung milik istrinya.
"Kamu nggak pengin mandi?"
"Ntarlah mas, nggak ada rencana pergi ini kan? Lagian masih hujan tuh."
"Ya kali saja badan kamu merasa lengket."
"Ntar lah. Kalau mas Arnaf mau mandi dulu yah sana."
"Enggak lah, aku lagi suka mainin ini." jawab Arnaf sambil kedua tangannya menggenggamam kedua benda kenyal milik sang istri.
"Makasih ya Sas."
"Makasih buat?"
"Ini, semuanya. kamu sudah mempercayakan semuanya yang kamu punya buat aku."
Sasti hanya tersenyum dan dia berbaring.
"Aku ngantuk mas. aku tidur dulu yah?"
"Baiklah, aku juga ikut tidur."
Dan tak butuh waktu lama Arnaf mendekatkan kepala Sasti di dadanya. Mereka berusaha memejamkan mata tanpa busana. hanya selembar selimut yang menutupi tubuh polos mereka.
__ADS_1
@@@@@