
"Bangun mas, udah siang.." Ucap sang istri dan dia bangkit dari dada suaminya. Namun sebelum sepenuhnya bangkit, sang suami menariknya kembali hingga sang istri mendarat di dada.
"Udah siang mas." Ucap Sang istri berusaha melepas jeratan tangan suaminya.
"Ini akhir pekan sayang." Jawaban sang suami membuat gerakan sang istri terdiam.
"Benarkah?"
"Iya, ingat, tiap akhir pekan waktunya kamu khusus buat suami, nggak boleh ke toko, nggak boleh kemana mana, harus sama suami." Ucap Arnaf mengingatkan.
"Aku tahu, tapi nggak begini juga kan? Ntar apa kata orang orang rumah. Kecuali kita dirumah sendiri." Protes Sasti.
"Ya udah hari ini kita pulang ke rumah. Ntar malam senin kita kesini lagi, gimana?" Usul Arnaf.
"Ya ampun mas. kamu jangan aneh aneh deh. Apa nggak ada kegiatan lain?"
"Sayang, apa salah sih? Aku minta quality time bersama istriku? Sekali kali aku ingin lah Sas hanya berdua tanpa memikirkan yang lain. Tiap akhir pekan, waktu yang katanya untuk aku ntar ada aja dihabiskan dengan yang lain. Pergi sama nenek lah, sama mamah lah." Rajuk Arnaf dan Sasti seketika tergelak.
"Ya udah, ayo sekarang ke rumah kita." Ucap Sasti pada akhirnya dia mengalah.
"Beneran?" Tanya Arnaf. Dia segera bangkit tanpa peduli sang istri yang masih berbaring di dadanya.
"Beneran lah."
"Oke, kita siap siap, nggak usah mandi, kita mandi disana aja."
"Astaga.."
Saking senangnya, Arnaf langsung saja turun dari ranjang dan bersiap siap. Sedangkan Sasti hanya menggelangkan kepala beberapa kali. Dia tahu tujuan suaminya ingin berdua karena apa. Tapi sebagai istri dia juga ingin menyenangkan suaminya. Apalagi akhir akhir ini suaminya sedang sangat bersemangat melakukan hubungan ranjang.
Dan siang pun menjelang. Terlihat disalah satu toko, seorang perempuan sedang sibuk menghitung angka angka yang tercatat di buku. Nominal nominal yang tertera, dia jumlahkan secara teliti.
__ADS_1
Hari ini Sasti tak datang ke toko karena permintaan suaminya. Sebagai sahabat dan rekan bisnis, dia pun mengerti. Dia sudah terbiasa menjaga toko sendiri. Di tambah lagi sekarang sudah ada satu tenaga bantu. Dan itu meringankan pekerjaannya.
"Permisi?" Terdengar suara berat seorang pria berhasil mengganggu konsentrasi perempuan itu dan juga karyawannya sedang merapikan barang barang di salah satu sudut toko
Perempuan itu menoleh dan matanya memicing. Merasa tak mengenal dengan pria yang sekarang berdiri di dekat pintu masuk.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya karyawan yang mendekat begitu ada suara.
"Apa benar ini tokonya nona Sasti?" Tanya pria itu.
"Iya benar. Ada apa?" Tanya karyawan itu lagi ramah. Sedangkan perempuan sahabat Sasti hanya memandanginya.
"Apa saya bisa bertemu dengan dia?"
"Maaf pak, mba Sastinya lagi nggak berangkat." Ucap sang karyawan dan seketika wajah pria itu terlihat kecewa.
"Begitu yah? Sayang sekali. Kalau boleh tahu kapan dia berangkat kesininya?"
"Emang ada perlu apa yah?" Kali ini yang menjawab Manda. Dari tadi dia merasa aneh dengan sikap yang ditunjukkan pria itu.
"Oh, kalau ada hal penting, bisa nanti aku sampaikan." Ucap Manda lagi.
"Nggak perlu, gampang nanti saya kesini lagi saja. Kalau begitu saya mohon diri. Permisi." Dan Manda hanya mempersilahkan dengan dahi berkerut.
Di saat pria itu keluar, di saat itu pula dia berpas pasan dengan pria lain yang hendak masuk ke toko iru. Dahi mereka saling berkerut ketika melihat wajah masing masing, namun pria itu segera berlalu menuju mobilnya.
"Ngapain dia kesini Man?" Tanya pria yang baru datang itu ketika melihat Manda masih berdiri memperhatikan tingkah pria yang tadi.
"Kamu kenal Fiq?" Tanya Manda.
"Dia kan anaknya Mahendra, pemilik pabrik kosmetik Rcancer." Jawab pria yang bernama Rafiq.
__ADS_1
"Katanya dia mau ketemu Sasti. Ada perlu katanya." Jawab Manda dan dia melangkah kembali menuju meja kasirnya.
"Cih, Paling dia mau mendekati Sasti Man." Ucap Rafiq yang mengikuti langkah Manda.
"Kok kamu tahu?" Tanya Manda heran.
"Ya taulah, Dia kan player. Paling dia tertantang begitu mendengar Sasti berhasil mempermalukan orangtuanya. Dia suka wanita wanita tangguh."
"Ada orang kaya gitu ya?"
"Namanya laki laki. Suka tantangan Man."
"Kamu nggak tertantang gitu? Kali aja kamu pengin nyoba merebut Sasti dari Arnaf."
"Ahhaha ngapain, kayak yang ada cewek aja, toh cewek di depanku juga jomblo. Ngejar dia aja."
Dahi Manda berkerut Mencerna kata kata pria dihadapannya. Sedangkan Rafiq senyum senyum sendiri melihat ekspresi Manda yang sedang berpikir keras.
"Dasar nggak peka." Ujar Rafiq gemas sendiri.
Sementara itu, disebuah pusat perbelanjaan. Terlihat Sasti sedang sibuk memilih barang belanjaan untuk persediaan selama tinggal dirumah yang Arnaf bangun. Hari ini mereka akan menghabiskan waktu di rumah itu sesuai keinginan sang suami. Meski Sasti tahu tujuan sang suami hanya ingin berdua pasti karena hubungan ranjang. Sasti berpikir tidak ada salahnya menuruti keinginan suami, dariipada suami nanti jajan diluar. Walaupun sepertinya Arnaf takkan berani jajan diluar, namun yang namanya waspada tetap harus ada. Apalagi dulu Arnaf pernah selingkuh di tambah lagi Arnaf mempunyai guru dan sahabat yang suka ganti ganti teman ranjang, wajar dong sebagai istri Sasti harus waspada.
Arnaf yang mendorong troly belanjaan nampak menekuk wajahnya. Bukannya dia tidak senang menemani istrinya belanja, namun dia sudah tak tahan saja ingin lekas sampai rumah. Padahal kalau soal makanan bisa tinggal pesan, tapi usul ity di tolak Sasti mentah mentah. Percuma pintar masak kalau tidak digunakan kepintarannya. Sedangkan di rumah utama, Sasti tak pernah berlama lama berada di dapur karena memang tak boleh oleh sang nenek.
"Ini udah banyak loh yang, kita kan cuma satu hari disana?" Protes Arnaf.
Sasti sekilas melihat belanjaan dan suami yang wajahnya ditekuk. Bibirnya tersenyum dan kepalanya menggeleng kemudian dia melanjutkan memilih barang membuat Arnaf semakin mengerucutkan bibirnya.
Sementara di sebuah rumah di kawasan elit. Terlihat seorang pria sedang menahan amarah di hadapan para asisten rumah tangganya yang tertunduk ketakutan.
"Bagaimana bisa nyonya kalian pergi namun kalian tidak ada yang melihatnya? Bagaimana bisa? HaH..!!!" Bentak sang majikan.
__ADS_1
Dia lah Tuan Mahendra. Dia tak pernah menyangka istri mudanya bisa kabur dari pengawasannya. Entah dengan cara apa Citra bisa kabur. Yang pasti dia tidak akan pernah memaafkan Citra jika perempuan itu membuat ulah yang bisa menghancurkan nama baiknya. Hinaan dari istri pertama dan anak anak serta keluarganya aaja sudah cukup membuatnya malu. Apa lagi jika rekan bisnisnya tahu. Entah apa yang akan terjadi pada Mahendra. Bisa saja perusahaan keluarga yang dia pimpin akan berganti kepemimpinannya.
...@@@@@...