
Dan keputusan menyatakan Arnaf dan Sasti akhirnya pergi untuk bulan madu. Mereka pergi ke sebuah pulau yang masih berada di negeri ini. Daya tarik pulau tersebut adalah pantai dengan pasir yang berwarna pink serta binatang langka yang cuma ada di negeri ini.
Meski belum ada kata cinta, tapi entah kenapa kemesraan malah sering terlihat diantara keduanya saat mereka menyusuri setiap tempat wisata yang ada. Berbagai tempat wisata terkenal yang ada di pulau tersebut mereka singgahi. Juga tak lupa segala jenis kuliner pun mereka cicipi. Dan tak lupa juga mereka pasti berkali kali menyimpan momen momen indah berdua yang mereka jalani agar tersimpan abadi dalam bidikan kamera yang Arnaf bawa.
Rencananya, bulan madu ini akan mereka lakukan dalam waktu satu minggu. Tapi sudah tiga hari berjalan, tujuan utama untuk bulan madu malah belum ada tanda tanda mereka akan melakukan. Yang ada mereka malah terlaih fokus mengelilingi setiap tempat wisata yang ada.
Tapi tak dibungkiri. Mereka diam diam juga saling belajar tanpa dikethui dari pihak masing masing.
Arnaf selalu berkrim pesan pada sahabatnya sang casanova dunia pemotretan. Dan dengan telaten dan penuh kepastian, Fatir memberikan bimbingan bimbangan serta trik jitu agar pasangan tidak merasakan kesakitan yang luar biasa saat pertama kali melakukan hubungan suami istri.
Mungkin secara alami, Arnaf sebenarnya tahu mengenai hubungan suami istri tapi dia juga butuh masukan. Arnaf konsultasi sama sahabatnya hanya sekedar memastikan dan mencari sedikit ilmu yang mungkin berguna agar permainan tak terlalu kaku. Karena biar bagaimanpun ini yang pertama, pasti ada kendala tersendiri.
Begitu juga Sasti. dia diam diam juga belajar dan melakukan pencarian lewat ponselnya. Kiat kiat menyenangkan suami diatas ranjang. Salah satu kata yang dia ketikkan di aplikasi pencarian. Sebenarnya hal itu tak perlu dlakukan namun karena ini yang namanya pertama, dia sangat ingin tahu apa saja yang bisa dia lakukan saat bermain ranjang nanti.
Hingga di hari ke empat, rencana pergi mereka terpaksa batal akibat cuaca buruk sedari pagi. Entah kenapa hari itu hujan turun tiada henti sejak subuh. Meski bukan hujan lebat namun kedatangannya cukup mengganggu beberapa warga yang hendak beraktifitas.
Begitu juga Sasti dan Arnaf. Mereka berdua terperangkap di dalam villa tanpa tahu apa yang harus mereka lakukan. Jam ditangan sudah menunjukan pukul sembilan dan hujan masih terus turun.
Sasti terlihat berdiri di depan kaca memandang ke arah pemandangan yang terbentang di balik jendela ruang tengah villa yang menghadap hutan dan perbukitan. ArnaF yang sedari tadi fokus ke ponselnya kini menatap istrinya dengan tatapan berbeda.
"Apa ini saatnya?" batin Arnaf berkata.
Entah dapat dorongan darimana, Arnaf berinisatif mendekati istrinya. Setelah menaruh ponselnya, Arnaf perlahan melangkah menuju sang istri dan
Grepp.
Dipeluknya pinggang sang istri. Sasti terlonjak namun dia tak mampu menolak.
"Mas.." pekik Sasti lirih saat dia menoleh sejenak dan kemudian matanya kembali mengedar ke arah luar.
"Lagi ngapain?" tanya Arnaf lembut.
__ADS_1
"Buang jenuh." jawab Sasti sekenanya.
"Buang jenuh kok malah berdiri disini dari tadi sih?"
"Ya abis mau ngapain, keluar juga hujan tuh."
Arnaf mengulum senyum dan dia mulai menciumi rambut sang istri.
"Kenapa nggak mencoba mencari kegiatan yang menyenangkan ?" usul Arnaf.
"Kegiatan yang menyenangkan? maksudnya?" Tanya Sasti.
"Misalnya..." Arnaf menjeda ucapnnya dan Sasti dahinya mengkerut karena penasaran.
"Bikin cucu buat orang rumah."
Degg.
Sementara Arnaf yang merasakan istrinya terdiam, bukannya mengendurkan semangatnya tapi malah dia mulai menyusuri tengkuk dan leher bagian belakang istrinya. Arnaf mengendus dan menciumnya beberapa kali disana. Sesuai ajaran Fatir, itu salah satu titik terlemah wanita jika diberi rangsangan. Dan ternyata benar, reaksi Sasti terlihat berbeda. Dia tak menolak perlakuan suaminya.
Mengetahui istrinya terdiam, Arnaf terus mengecup dan menyesap leher bagian belakang telinga hingga ke pundak.
Tangan Sasti mencengkram punggung tangan Arnaf, dan mungkin karena dorongan sifat alami manusia , salah satu tangan Sasti juga mencengkram kepala Arnaf dan hasrat keduanya makin memburu.
Sejenak Arnaf menghentikan aksinya. Dia memutar badan sang istri hingga menghadapnya. Mata mereka bertemu dan saling tatap. Tidak ada suara yang keluar namun seakan berkata iya, Arnaf mengangkat dagu Sasti dan perlahan mengecup bibir manis istrinya. Sasti tak menolak. Karena dulu saat pacaran mereka sudah sering melakukan ciuman.
Awalnya ciuman itu hanya ciuman biasa saja namun lama kelamanan ciuman liar dan semakin mengganas.
Sasti melingkarkan tanganya di leher Arnaf, sedangkan sang suami meletakkan tangannya dipinggang Sasti. Bibir mereka terus beradu dan kadang diselingi dengan bibir Arnaf yang bermain main di leher jenjang sang istri.
Tak berhenti sampai situ, tangan Arnaf kini sudah berani memegang benda kenyal milik istrinya dan memainkannya meski masih terbungkus baju.
__ADS_1
Sementara bibir mereka beradu. Kedua tangan Arnaf aktif menjelajahi tubuh istrinya dan kini tangan itu sudah masuk menyusup ke dalam pakaian sang istri dan kulit tangannya menempel pada penutup benda kenyal istrinya.
Sasti yang hasratnya juga sudah membara, secara spontan menurunkan tangannya memegang dada Arnaf dan mengusapnya lembut. Berbekal ilmu dari video yang Sasti tonton, kini Sasti perlahan mencopot satu persatu kancing baju Arnaf hingga baju itu terlepas dan dada bidang sang suami terpampang jelas dimatanya.
Untuk sementara perang bibir mereka hentikan. Arnaf dan Sasti saling tatap dalam hasrat yang sudah sangat membara.
Perlahan Arnaf pun membuka baju yang menempel ditubuh Sasti dan juga kain penjerat benda kenyal juga di lepaskan.
Kini bagian tubuh atas keduanya sudah tak ada sehelai benang yang menempel.
Arnaf maju selangkah lebih dekat ke istrinya hingga tubuh mereka sangat menempel. Pria itu memutar tubuh istrinya dan memeluknya dari belakang. Arnaf kembali menciumi leher belakang istrinya dengan tangan yang kini mulai memainkan benda kembar yang menggantung dan kenyal milik sang istri.
Suara rintihan yang Sasti keluarkan menambah semangat sang suami untuk terus memberikan kecupan dan hisapan pada tengkuk dan leher belakang istrinya. Sementara satu tangan Arnaf terus memainkan benda kenyal yang menggantung indah milik Sasti secara berrgantian.
Arnaf mendorong perlahan tubuh sang istri tanpa melepas pelukan dan ciumannya hingga tubuh sang istri menempel pada kaca besar yang menghadap pemandangan hutan dan perbukitan diluar villa.
Merasa cukup, Arnaf kembali membalikan tubuh sang istri dan sejenak keduanya saling tatap hingga lama lama senyum terbesit di bibir keduanya.
Arnaf menyambar bibir sang istri. Kedua telapak tangannya terangkat dan menempel di kaca.
Sasti melepas perang bibirnya. Kini giliran bibir Sasti yang menelusuri leher Arnaf dan memberikan kecupan kecupan penuh gejolak. Kecupan itu tak berhenti di leher saja melainkan kecupan juga menjalar hinga ke dada bidang sang suami dan Sasti memainkan berkali kali titik hitam yang menempel di dada kanan dan kiri suaminya. Arnaf benar benar menikmati apa yang dilakukan Sasti. Dia juga tak segan mengeluarkan rintihan nikmat akibat perlakuan istrinya.
Setelah merasa cukup puas, kembali mata mereka saling beradu. Dan tak lupa senyum pun mereka kembangkan dangan nafas yang sudah menderu.
"Kita lanjutkan dikamar atau disitu saja?" tanya Arnaf sembari menunjuk sofa yang bisa diubah menjadi kasur.
"Disitu saja mumpung cuacanya mendukung." Jawab Sasti dan Arnaf segera mengangkat tubuh sang istri dan permainan berlanjut kembali.
@@@@@
...Kurang hareudang tidak reader? ini belum selesai loh yah? masih ada kelanjutannya....
__ADS_1