
Semua mata orang yang sedang mengitari sisi meja makan memandang heran ke pasangan suami istri yang nampak ceria meski sedang dirundung masalah berat.
Ya. Pagi ini beberapa keluarga Arsyadi nampak sedang duduk bersama di meja makan menikmati sarapan. Semuanya terdiam dan hanyut dalam pikiran mereka masing masing dengan sikap yang dtunjukkan sepasang suami istri itu. Dari wajah mereka sama sekali tidak terlihat ada ketakutan dan kekhawatiran, bahkan nampak keduanya terlihat baik baik saja.
Sebenarnya sang stri merasa tidak enak dengan tatapan yang dilayangkan kearah mereka, namun sang suami sebelum keluar kamar tadi pagi mengingatkan apapun yang keluarganya katakan jangan menanggapinya. Biarlah apa yang akan terjadi hari ini menjadi kejutan buat keluarganya yang sudah meremehkan kejujuran dan kesetiaan sang suami.
Sang istri dengan senang hati menyetujuinya. Sang istri juga hari ini berencana akan ikut ke kantor suaminya. Karena hari ini, suaminya akan ada mediasi dari pihak Mahendra dan Arsyadi.
Tuan mahendra menuntut Arnaf untuk meminta maaf secara langsung di depan wartawan atau masalah yang terjadi antara istri Mahendra akan di tempuh dengan jalur hukum.
Namun sepertinya Arnaf dan Sasti yang akan membalikkan keadaan. Entah nanti lewat jalur wawancara atapun jalur hukum, yang pasti sepasang suami istri itu sudah siap dengan segala macam tuntutan.
"Apakah kamu nanti siap mengakui kesalahanmu Naf?" Tanya sang papah disela sela menikmati santapan paginya.
"Tidak ada yang perlu diakui pah, Arnaf tidak salah." Jawab Arnaf begitu terlihat santai. Namun yang mendengar jawaban Arnaf malah tertegun sembari melayangkan tatapannya ke arah Arnaf.
"Apa maksudmu Naf? Kamu tidak mau mengaku kesalahanmu?" Tanya salah satu tante Arnaf. Entah punya dosa apa Arnaf sama adiknya papah itu. Dia seperti mempunyai dendam tersendiri dengan keponakannnyan
"Mana ada sih tante orang nggak salah mau mengaku kesalahannya? Yang ada harusnya orang salah tapi mengaku nggak salah." Ucap Arnaf masih dengan santainya.
"Tapi kan jelas jelas kamu salah Naf?" Tanya tante lagi dengan sangat yakin.
"Salah saya di mana tan?" Tanya Arnaf masih dengan nada terdengar santai nampak tidak ada emosi
"Tapi kan yang mereka bilang.."
"Apa tante melihat sendiri letak kesalahanna saya? tante lihat nggak? kalau lihat tolong tunjukkan letak kesalahan saya dimana?" Tanya Arnaf sedikit emosi hingga Sati menahan dada Arnaf dan mengusapnya agar Anraf jangan emosi dan mengendalikan ucapannya.
Sang tante terkesiap dengan pertanyaan yang bertubi tubi. Tentu saja dia tidak bisa menjawab apa yang dipertanyakan keponakannya.
__ADS_1
"Tante hanya modal mendengar katanya terus tante dengan seenaknya menuduh saya salah, apa sebegitu buruknya saya di mata tante?" pertanyaan Arnaf pelan manun terdengar begitu emosi. Sasti sebagai istri dan orang terdekat langsung mengusap dada suaminya. Berharap Arnaf bisa mengontrol suaminya.
"Bukan begitu Naf, maksud tante.."
"Dari dulu tante tuh memang nggak pernah suka sama Arnaf. saya tahu tante. apa karena tante iri saya mendirikan perusahaan sendiri daripada anak tante yang menjadi karyawan biasa?"
Lagi lagi tante itu terkesiap. Dan nampaknya tante itu langsung tersinggung. Matanya memerah.
"Jaga omongan kamu Naf. jangan sombong kamu. Nggak ada sopan sama sekali kamu samma orang tua."
"Udah mas udah. jangan di terusin." Ucap Sasti berusaha menenangkan emosi suaminya.
"Maaf tante, sudah, jangan di teruskan." Ucap Sasti lagi.
"Ayo Sas berangkat. Nanti tante lihat wawancaranya, kalau aku terbukti bersalah, silahkan tante bersorak gembira." Seketika Arnaf langsung bangkit dan meninggalkan meja makan.Sasti pun bergegas menyusulnya.
"Kamu memang selalu keterlaluan nik, Arnaf aja terlihat baik baik saja bersama istrinya, kenapa kamu malah selalu memojokkan dia? tujuanmu apa sebenarnya? orang anakku nggak pernah berbuat salah sama kamu. kenapa kamu seakan akan melihat Arnaf itu anak yang menjijikkan?"
"Kamu bertanya apa menuduh? Kalau bertanya di sertai bukti, jangan asal ngomong aja. dikiranya anakku tidak punya perasaan apa gimana?"
"Sudah mah, sudah, nggak baik pagi pagi ribut di depan makanan." Ucap Bagus.
Sementara sang nenek dan yang lain hanya terdiam menyaksikan pertengkaran di hadapan mereka.
Di mobil Arnaf yang tadinya nampak emosi, kini sudah terlihat tenang. Bahkan Arnaf terlihat begitu sangat bahagia. Karena ini adalah pertama kalinya sang istri ikut ke kantornya. Dan dia ingin semua karyawan mengenal istri dari atasannya.
"Manda nggak apa apa ditinggal sendirian di toko?" Tanya Arnaf. Saat ini mereka dalam perjalannan menuju kantor.
"Ngak apa apa, lagian kita berencana mau mencari tenaga bantu biar ngga keteteran." Ucap Sasti tampa menoleh. Matanya terus melihat kesamping luar dari balik kaca mobil.
__ADS_1
"Oh ya syukurlah, emang mau nyari karyawan berapa?"
"Sepertnya dua." Jawab Sasti singkat dan Arnaf manggut manggut.
"Nanti sore kita jala jalan ya Sas?" Usul Arnaf dan sontak saja Sasti langsung menoleh.
"Jalan jalan? Kemana?"
"Ke mall, beli lingerie." Ucap Arnaf dan senyumnya terkembang.
"Ngga, enak aja, nggak mau." Tolak Sasti mentah mentah. Dari dulu dia paling anti dengan yang namanya lingerie.
"Loh kenapa nggak mau? Seksi loh kamu pake baju itu." Ucap Arnaf dan sepertinya dia sengaja meledek.
"Nggak, nggak mau, percuma juga beli baju seperti itu kalau ujung ujungnya juga kamu akan melepasnya."
"Hhaaah iya iya."
Dan tak butuh waktu lama, mobil Arnaf sampai di depan kantor miliknya.
Kedatangan Arnaf di sambut oleh salah satu anggota keamanan yang datang menghampirinya. Begitu Arnaf dan Sasti keluar dari mobil, dia segera memberikan kunci mobil untuk diparkirkan. Kemudian Arnaf beserta istri segera masuk kantor.
Hampir semua mata yang melihat kedatangan atasanya merasa takjub dengan wanita yang tangannya di genggam erat oleh tangan kekar Arnaf.
"Cantik." itulah kata kata yang meluncur entah dari bibir maupun dari hati karyawannya begitu mereka melihat wajah sang istri dari atasannya tempat mereka bekerja
Arnaf yang menjadi pusat tontonan pun dengan bangga menunjukkan keromantisannya terhadap sang istri, berbeda dengan sang istri yang justru nampak malu karena hampir semua mata menatap kearahnya hingga Arnaf dan Sasti menghilang di telan pintu lif.
Bisik bisik tentu saja terjadi diantara mulut karyawan yang melihatnya. Apa lagi mengingat kejadian kemarin, banyak yang berpikiran mungkin Arnaf memang berbuat yang tidak baik sampai dia membawa istrinya untuk mengawasi Arnaf di kantor. Namun ada juga yang berpendapat Arnaf sengaja membawa istrinya kalau sang istri ingin mencari kebenaran tentang gosip yang beredar. Dan nyatanya sekarang, baik Arnaf maupun Sasti memang lagi menunggu orang yang siang ini mengajak bertemu untuk menyelesaikan masalah.
__ADS_1
@@@@@