
"Besok kita ketemu lagi." Ucap Andre.
"Baiklah, hati hati." Balas Citra riang.
Selang beberapa saat mobil Andre pun melaju meninggalkan Citra di sebuah gang. Dengan langkah riang dan senyum terkembang, Citra berjalan pelan sembari memandangi kartu nama yang dia dapat. Bayangan sebagai artis dengan harta yang melimpah membuat dia sungguh berharap hal itu segera terwujud dalam hidupnya.
Hanya melewati dua tikungan, Citra pun telah sampai di kontrakan yang sangat sederhana. Dia benar benar telah kehilangan gaya hidup mewahnya. Apalagi bayang bayang Mahendra membuat dia semakin tak tenang.
Kini Citra menyandarkan dirinya di sebuah dinding yang terbuat dari triplek. Dia terus memperhatikan kartu nama itu kemudian dia mengambil ponselnya untuk mencari tahu film apa yang di produksi perusahaan tersebut.
Dia mengetik sebuah kata yang tertera di kartu nama pada laman pencarian. Dahinya berkerut, yang dia cari tak muncul. Bahkan ada peringatan di blokir. Citra mencoba mengulanginya dan lagi lagi dia gagal.
"Kok Ngga ada?" Gumamnya.
Citra tak habis akal. Dia menghidupkan aplikasi yang bisa membuka semua situs yang terblokir. Dan setelah dia mengetikkan kata yang sama, membulatkan kedua matanya. Ternyata perusahaan yang di maksud Andre adalah pembuatan film dewasa. Berkali kali dia mengulanginya dan penampilan yang sama yang dia lihat.
"Jadi, aku mau di jadikan artis dewasa? Ah sial." Murkanya.
Citra pun berpikir keras dan menyangkut pautkan kejadian ini dengan nama Mahendra.
"Apa ini ulah Mahendra? Kalau benar, lebih baik aku pergi dari sini. Mending pulang ke kampung asalku." Dan bergegas Citra berkemas kemudian dia segera saja meninggalkan kontrakan tersebut tanpa pamit kepada sang pemilik kontrakan. Kuncinya sengaja dia tinggal agar pemilik kontrakan tak bingung mencarinya.
Sementara itu. Di depan sebuah toko. Seorang pria sedang duduk santai diatas motornya. Tangannya sibuk bermain ponsel. Dia lagi nunggu kekasihnya yang beres beres toko karena sebentar lagi toko akan tutup.
"Mba Manda, aku pulang dulu, yah?" Pamit seorang perempuan yang menjadi karyawan di toko tersebut.
"Oh iya, Rin, makasih ya, hati hati!" Balas Manda dan karyawan bernama Arin itu langsung mengiyakan kemudian beranjak keluar toko.
"Mas Fariq, pulang dulu." Pamit Arin kepada laki laki yang sedang duduk di atas motor.
"Oh iy, Rin." Balasnya singkat.
Merasa menunggu kekasih terlalu lama, Fariq pun turun dari motornya. Ternyata Manda lagi asyik mengecek cacatan hari ini. Sepertinya dia lupa kalau diluar sana ada laki laki yang sedang menunggunya.
Grep!
Manda terjengat. Dia kaget karena tiba tiba ada tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Fariq!" Pekiknya.
"Lama banget sih?" Rajuk Fariq. Dia menaruh dagunya di pundak perempuan yang sedang di peluknya.
"Maaf, kelupaan." Balas Manda merasa tak enak.
"Jahatnya! Pacar nungguim di depan kok, malah kelupaan." Gerutunya.
__ADS_1
"Ya udah, yok, kita pulang, ini udah selesai." Ajak Manda.
"Sun dulu." Pinta Fariq manja.
"Hust! Nggak boleh!" Peringat Manda.
"Kalau nggak mau sun ya udah, nggak pulang pulang." Ancamnya masih dengan nada manja.
"Astaga!" Dan Manda pun berbalik badan menatap wajah Fariq yang tersenyum jail
Satu kecupan Manda layangkan di pipi kiri Fariq.
"Kurang!"
Satu kecupan di pipi kanan.
"Kurang!"
Satu kecupan di kening.
"Udah? Ayok pulang." Ujar Manda.
"Kurang!"
"Mana lagi?" Tanya Manda pura pura tidak tahu. Sedangkan Fariq sudah memberi kode lewat gerakan bibir.
Sementara itu setelah pulang dari dokter dan mampir sebentar ke rumah makan. Kini pasangan Arnaf dan Sasti sudah sampai di rumah mereka. Berhubung cuma ada mereka berdua rumah jadi kelihatan sepi. Bagi Sasti ini membosankan tapi bagi Anraf ini adalah kebahagian.
Bagaimana tidak bahagia. Waktu bermesraan dengan sang istri lebih banyak dan tidak ada gangguan sama sekali. Biasanya kalau pulang kerja, Sasti dan nenek serta mamah menghabiskan waktu santai bersama. Apalagi setelah makan malam, mereka biasanya bercengkrama di ruang tengah atau taman belakang Dan Arnaf kebagian waktu buat berduaan hanya menjelang tidur saja.
Tapi sekarang, Arnaf selalu mengikuti apa yang dilakukan Sasti. Sasti mandi, Arnaf ikut. Sasti ganti baju Arnaf ikutin juga.
Dan seperti saat ini, terlihat Sasti sedang memilih baju yang akan dia kenakan. Tapi Arnaf bukannya berganti pakaian malah menggangu sang istri dengan memeluknya dari belakang serta memberi kecupan pada pundak sang istri.
"Geli, Mas!" Pekik Sasti.
Jambang tipis yang tumbuh di dagu Arnaf adalah penambah kadar ketampanannya. Namun jambang itu pula yang sering membuat Sasti merasa geli. Apalagi jika jambang itu sudah merambat kebagian tubuh yang lain membuat Sasti sering menggelinjang.
"Mas, mau pakai baju yang mana?" Tawar Sasti.
"Nggak mau pake apa apa." Jawab Arnaf asal.
Saat ini Arnaf memang sedang tidak memakai apa apa. Handuk yang melilit di tubuhnya pun sudah dia lempar ke tempat lain.
"Yang bener aja sih!" Hardik Sasti.
__ADS_1
Arnaf bukannya menuruti malah membuka lilitan handuk di tubuh Sasti.
"Mas, ih! Tangannya reseh banget." Pekik Sasti dan dia memasang lilitan handuknya kembali namun lagi lagi Arnaf membukanya.
"Mas! Rese banget sih jadi orang!" Arnaf cuma senyum senyum.
"Kamu tuh lebih cantik kalau lagi nggak pake apa apa sayang." Ujar Arnaf.
"Tau ah! Nyebelin!" Ujar Sasti kemudian melepas jeratan tangan Arnaf dan melangkah pergi dengan membawa daster.Sedangkan Arnaf segera mengikuti sang istri tanpa membawa apa apa dan memakai apa apa.
Sementara di tempat lain, terlihat pria bernama Andre sedang duduk disalah satu sudut sebuah cafe. Dia tidak sendiri. Terlihat disana ada seorang pria se usianya juga duduk di hadapannya. Nampaknya mereka terlibat pembicaraan serius.
"Bagaimana? Apa dia tertarik?" Tanya pria itu setelah meminum kopi pesanannya.
"Dia bahkan sangat bersemangat." Jawab Andre antusias.
"Baguslah. Biar papah semakin malu dan murka." Ucap pria itu tenang.
"Dia ibu tirimu loh." Ledek Andre sembari terkekeh.
"Amit amit! Apa kamu mencicipinya?" Tanya pria dan di jawab anggukan dengan senyum yang bangga.
"Sempit banger euy!" Seru Andre.
"Menjijikkan." Cibri pria itu.
"Nyatanya memang sempit banget. Aku aja main tiga kali kurang." Sesal Andre.
"Gila! Kira kira bagaimana tanggapan papahku nanti jika istri barunya jadi artis dewasa? Nggak sabar lihat reaksinya." Ujar pria itu sinis.
"Dasar! Anak durhaka." Cibir Andre dan mereka tergelak bersama.
"Apa kamu jadi mendekati perempuan yang sudah mempermalukan papahmu?" Sambung Andre.
"Belum, kemarin ke tokonya orangnya nggak ada." Jawabnya.
"Sepertinya, dia cantik juga." Ucap Andre lagi.
"Cantik dan cerdas, Wanita idaman itu." Ucap pria itu.
"Wah! Jangan jangan kamu mendekati dia, ada maskud lain."
"Kalau dia mau, kenapa tidak?"
"Hahha .... Sial!" Dan mereka kembali terbahak.
__ADS_1
...@@@@@...