
Dan hari yang di nanti pun telah tiba. Kini rumah Prasasti nampak begitu ramai. Suasana bahagia terlihat jelas dari keluarga dan para tamu undangan.
Begitu pun Sasti, perempuan yang akan melangsungkan hari yang sangat bersejarah bagi hidupnya pun nampak bahagia. Dia sedang di dalam kamarnya menunggu detik detik akad yang tak akan lama lagi di gelarnya.
Sang mempelai pria juga nampak sudah bersiap di depan meja pelaksanaan akad. Senyumnya merekah dan pandangannya meyakinkan sekali kalau hari ini dia akan sah menjadi suami seseorang.
Tapi berbeda dengan senyuman yang disunggingkan oleh seseorang yang tak jauh dadi sana. Senyuman pria berkursi roda benar benar penuh arti dan maksud tersembunyi. Dia hanya menunggu waktu yang pas untuk melaksanakan rencananya.
Dengan dibantu oleh orang suruhannya. Arnaf berhasil menemukan bukti kebusukan dari pria yang akan melangsungkan akad itu. Dia diam diam melakukannya tanpa seorang pun yang tahu karena dia tidak mau Sasti salah paham dan menganggapanya buruk.
Kesalahan Arnaf tiga tahun yang lalu memang fatal, tapi bukankah kesempatan untuk memperbaiki itu ada. Dan itulah yang ingin Arnaf lakukan. Memperbaiki hubungannya dengan Sasti. Setidaknya dengan gagalnya pernikahan Sasti kali ini, dia mempunyai kesempatan untuk mendekati gadis yang sangat dia idamkan.
"Lo kuat menghadapi ini semua naf?" Tanya Baim yang juga ikut menghadiri pesta nikah itu. Arnaf hanya tersenyum miring.
"Kuat lah, orang sudah ikhlas juga, Ya nggak Naf?" Jawab Fathir. tapi Arnaf cuek saja.
kedua sahabatnya tidak tahu akan ada kejutan besar dalam acara pesta pernikahan itu.
"Kenapa dulu lo nggak menikahi Citra sekalian sih Naf?" Tanya Baim asal.
"Menikah? dengan Citra? mungkin kalau nggak kecelakaan hal itu terjadi.." ujar Fatir
"Ngga bakalan, ngapain gw nikah sama orang berhati busuk, gara gara pengaruhnya, hati gw ikutan busuk juga, ini aja gw udah dikucilin keluarga, apa lagi nikah sama dia?"
"Tapi kan lo menikmati perselingkuhan lo naf?"
"Nggak munafik, selingkuh memang indah, tapi saat semuanya kebongkar, baru merasakan indahnya hanya sesaat. Lebih banyak nyeselnya, kalian lihat sendiri kan gw gimana sekarang,"
"Trus kabar citra gimana sekarang.?"
"Hancur mungkin, gw nggak pernah ketemu sejak kecelakaan dulu, denger denger sih dia kena labrak orang juga.."
"Aje gile, kok ya lo mau maunya selingkuh sama dia? udah tau sampah?"
"Namanya godaan Tir, tapi gw nggak yakin sih kalau Arnaf belum pernah main ranjang sama Citra, secara Citra sudah ahli?"
"Terserah mau percaya atau tidak.."
"Ya gimana mau percaya, lo aja tega membohongi Sasti yang jelas jelas sudah menjadi tunangan lo, apa lagi kita yang hanya teman lo.."
"Gw memang ngga bisa buktiin, tapi Tuhan lebih tahu, ya udah resiko gw sih, sekali berkhianat mana ada yang percaya."
"Terus kenapa lo ngga nyoba sembuh dan nyari cewek lain.? Sasti aja udah mau nikah, lo juga move on dong.?"
"Gw udah nggak mau jatuh cinta lagi im, gw lebih baik begini.."
__ADS_1
"Jangan gitu sih Naf, apa lo nggak kasian sama mama Mia dan papa Bagus?"
Dan Arnaf hanya menghela nafas dalam mengurangi sesak di dadanya.
Dan tak lama kemudian waktu pelaksanaan akad pun tiba. Kedua mempelai sudah duduk bersandingan dengan senyum yang merekah indah. Namun saat akad itu akan di ucapkan tiba tiba.
"Tunggu..!!! pernikahan ini tidak sah.!!"
Semua orang terkejut, begitu juga sang pengantin. Semua mata tertuju ke sumber suara. Terlihat wanita hamil sedang di gandeng dua orang paruh baya dengan amarah yang menggelora di wajahnya.
"Mas Bayu.!! turun..!!! perintah perempuan itu menunjuk ke arah mempelai laki laki. Semua mata terhenyak termasuk Sasti dan keluarga.
"Kurang ajar kamu ya mas, Sini turun..!!!!
"Maaf mba, sabar, ini ada apa.?" Tanya salah satu kerabat Sasti.
"Saya istri dari laki laki brengsek itu!!!"
Duarr..!!!
"Kita nikah siri karena orangtua bayu tidak merestui kami sedangkan aku sudah hamil dan ini anak kita.."
"Nak Sasti itu semua tidak benar, dia bohong nak.."
"Siapa yang tidak benar? butuh bukti? Nih..!!!" dengan penuh amarah perempuan berbadan dua melempar sebuah amplop coklat.
Ayah Sasti yang berada tak jauh dari situ mengambil amplop dan membukanya.
"Astaga.."
beberapa lembar foto pernikahan tercecer di meja akad. Sasti syok, dadanya berdenyut keras.
"Sas, aku..."
"Diam kamu mas? Ternyata kamu selama ini menjadikan aku selingkuhan, dasar brengsek kamu. Brengsek!!!"
"Nak Sasti ini...."
"Bu, saya nggak ngerti jalan pikiran ibu gimana, sudah jelas jelas anak ibu mempunyai istri. ibu seorang wanita. kenapa begitu tega sama menantu dan calon cucu ibu?"
"Mba, bawa suami kamu pulang, aku muak melihat wajahnya."
"Sas.." ucap Bayu.
"Pergi kamu dari sini, PERGI..!!!!
__ADS_1
Dengan perasaan malu dan tak menentu, Bayu dan keluarganya pun meninggalkan tempat acara, Sasti seketika ambruk dan dia mulai menangis. Sementara tamu yang hadir pun memandang iba, termasuk Arnaf dan keluarga serta kedua temannya.
Dengan berat hati dan rasa malu, Wahyu pun mengambil mikrofon di hadapannya.
"Maaf untuk pak penghulu dan tamu undangan, maaf atas kejadian yang baru saja terjadi di hadapan anda sekalian. Maafkan kami, dengan berat hati acara ini kami...." ucap Wahyu dengan nada bergetar.
Namun sebelum wahyu meneruskan ucapannya tiba tiba..
"Tunggu pak, jangan bapak batalkan acara ini.."
Wahyu dan semua orang terkejut dengan suara itu. mereka hampir serentak menoleh ke sumber suara.
"Nak Arnaf??"
Arnaf pun menggerakkan kursi rodanya mendekat ke arah ayahnya Sasti.
"Jangan di batalkan acaranya pak, ijinkan saya menikahi anak bapak.."
Lagi lagi semuanya terkejut terutama Sasti.
"Jangan becanda kamu mas? kamu mau mempermalukan kami lagi? kamu sudah menikah.!!" Ucap Sasti dalam tangisnya.
"Apa karena cincin ini, kamu mengira aku sudah menikah?" Tanya Arnaf sembari menunjukan jarinya.
"Apa kamu tidak ingat, ini cincin pertunangan kita, ini cincin yang kamu pilih sendiri.."
"Tidak, hubungan kita sudah berakhir sejak saat itu.."
"Belum, aku menganggapnya hubungan kita belum berakhir.."
"Jangan egois kamu mas. kamu yang membuat semuanya berakhir."
Arnaf tak membalikkan kata kata Sasti, tapi dia kembali membujuk orangtua sasti.
"Saya mohon pak, ijinkan saya menikahi Sasti, ijinkan saya menebus kesalahan saya kepada anak bapak, saya mohon.."
Pak wahyu pun terdiam, dia menatap putrinya yang bernasib malang, pasti rasa malu akan merundung hati putrinya.
"Pak.." ucap Sasti lirih.
"Maafkan bapak, bapak belum bisa jadi orangtua yang baik.." Pak wahyu menoleh.
"Baiklah nak Arnaf, bapak ijinkan dan bapak ridoi engkau untuk menikahi Sasti.."
@@@@
__ADS_1
Makasih yang udah pada mampir, semoga pada suka ya? maaf aku nggak bisa double up apalagi crazy up, masalahnya aku harus bener bener bisa membagi waktu untuk menulis dan berdagang. tapi tenang aja, saya akan selalu usahakan up tiap hari selama saya masih di beri kesehatan. makasih