MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN

MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN
Hore Rencana Sukses..


__ADS_3

Entah kenapa, semakin bertambah usia, waktu terasa semakin cepat berlalu. Yang dulu Ada tak terasa sekarang tidak ada. Yang dulu datang sekarang kembali. Yang dulu hadir, sarang telah pergi.


Begitupun yang dirasakan Arnaf Arsyadi. Tiga tahun hidup dalam keterpurukan dan penyesalan, kini tiga tahun itu tergantikan dengan hati yang penuh cinta. Kembalinya seorang perempuan yang pernah dia lukai kini menjadi kebahagiaan tak terkira yang selalu dia terima.


Meski sang perempuan yang sekarang telah sah menjadi istrinya bahkan telah memberikan segala hal kepadanya belum pernah mengatakan cinta, namun Arnaf sama sekali tak menghiraukannya. Bagi dia perlakuan sang istri kepadanya cukup membuktikan kalau sang istri sudah kembali kepadanya termasuk cinta dan hati untuknya.


Seperti malam ini, entah kenapa sang istri melihat tingkah suaminya dengan rasa heran yang sangat membuncah. Berbeda dengan malam sebelumnya. Jika malam kemarin wajah Arnaf ditekuk hingga sampai waktu berangkat kantor. Namun pas pulang kantor hingga malam ini, wajah Arnaf tampak cerah ceria. Padahal masa berlaku hukuman dari sang istri masih berlaku.


Tentu saja, bukan hanya Sasti yang merasa heran, anggota keluarga yang lain juga merasakan hal yang sama seperti yang Sasti rasakan. Namun mereka tak mau bertanya.


Seperti saat ini, Arnaf terlihat senyum senyum sambil menatap layar ponselnya, membuat Sasti yang ada disebelahnya merasa keherananan. Sedangkan Sasti melirik layar ponsel suaminya, terlihat jelas disana sebuah video yang hanya menayangkan kehidupan mewah orang orang kaya yang memamerkan kekayaannya. Tidak ada lucu lucunya sama sekali.


Untuk sekedar bertanya pun Sasti enggan. Dia membiarkan suaminya bertingkah seperti itu. Daripada dia menganggunya, nanti yang ada Arnaf malah merengek minta jatah.


Kebiasaan Sasti yang tak pernah terlupakan adalah dia selalu minum air putih sebelum dan setelah bangun tidur. Dan begitu juga saat ini. Segelas air putih yang berada di meja dekat ranjangnya diminum habisa tanpa sisa.


"Kena deh." Ucap Arnaf tiba tiba membuat Sasti mengernyitkan dahinya sembari menatap suaminya.


"Gila.." Gumam Sasti namun masih dapat di dengar oleh telinga Arnaf dan pria itu bukannya marah, dia malah menyunggingkan senyum terbaiknya.


Sasti pun merebahkan dirinya dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal hingga sebatas leher. Arnaf melirik sang istrinya sembari senyum senyum penuh arti.


Beberapa menit berlalu. Sasti yang awalnya terdiam dengan mata terpejam tiba tiba merasakan gerah yang luar biasa. Tidurnya pun mulai gelisah.


"Kok panas banget yah?" Ucapnya sembari bangkit dari rebahanya. Dia melirik sang suami yang ternyata juga sudah merebahkan tubuhnya.


Rasa panas yang dirasakan Sasti lama kelamaan kian menjalar. Namun rasa panas ini bukan rasa panas akibat cuaca namun rasa panas yang tiba tiba muncul dari tubuhnya dan disertai gairah yang meluap lebih dari yang biasanya.

__ADS_1


Tubuh Sasti terus menggeliat karena merasakan sensai liar yang menjalar di sekujur tubuhnya. Apalagi saat matanya menatap tubuh sang suami yang memang kalau tidur tidak pernah pakai baju.


Tanpa pikir panjang Sasti langsung memeluk tubuh Arnaf dan mengecup punggung sang suami berkali kali hingga sang suami terkejut dibuatnya.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Arnaf sembari menelentangkan badannya.


"Mas aku pengin." Ucap Sasti yang langsung duduk diperut Arnaf dan menyerang Arnaf dengan bibirnya.


"Ya ampun sayang, katanya kamu lagi menghukum aku?" Tanya Arnaf dengan senyum jahatnya melihat Sasti yang sangat bergairah menyerang tubuhnya.


"Cepet mas lakukan?" Pinta Sasti. Bahkan dia kini sudah mulai mencopot satu persatu kain yang menutup tubuhnya.


Kini Sasti terus menyerang Arnaf dengan ganasnya. Dia terus menciumi semua yang melekat pada diri Arnaf.


Dengan Santai Arnaf menggerakan dua tangannya meraih benda kembar sang istri dan seketika dia memainkannya membuat Sasti meracau keenakan. Arnaf bangkit dari rebahannya dan dia duduk memangku Sasti. Kini giliran mulutnya yang bertugas memanjakan benda kembar milik Sasti.


Puas dengan benda kembar, Arnaf menyuruh sang istri berdiri dan tentunya perintah itu di patuhinya. Arnaf menatap daging tembem istrinya dengan penuh cinta. di belainya belahan daging tembem dengan lembut secara terus menerus. Lama lama belaian jari Arnaf digerakannya semakin cepat hingga tubuh Sasti semakin bergerak tak beraturan.


Sasti meletakkan kedua tangannya di tembok agar dia tetap bisa berdiri saat sang suami sedang memainkan jarinya di belahan daging tembem.


Kini bukan hanya jari yang bermain, Arnaf juga menyertakan mulut dan lidahnya untuk mengikuti permainannya. Semakin nikmat yang dirasakan Sasti maka semakin cepat pula tubuh itu menggeliat hingga lama kelamaan tubuh Sasti bergetar hebat dan seketika jari Arnaf semakin basah kuyup akibat sang istri meraih puncaknya.


"Sini sayang, sekarang kamu makan punyaku ya?" Perintah Arnaf dan Sasti mematuhinya.


Dia meluruhkan badannya hingga kepalanay kini sejajar dengan letak anaconda Arnaf. Di genggamnya anaconda tersebut dan dusapnya perlahan.


Sesaat kemudian bibir Sasti pun maju. Dia mulai mengecup kepala anaconda. Berkali kali kecupan dia layangkan dari kepala ananconda hingga sampai kebulu bulu halus yang tumbuh disekitarnya.

__ADS_1


Setelah puas memberi kecupan, kini lidah Sasti terjulur. Dia mulai menjilati kepala anaconda seperti menjilat permen loli yang begitu nikmat.


Selain menjilatnya, sesekali anaconda itu juga dilahap oleh mulut mungil Sasti.


Arnaf hanya terdiam merasakan nikmat yang menjalar akibat permainan mulut istrinya di bawah sana. Tidak nampak rasa jijik dari wajah Sasti saat mulutnnya menikmati anaconda suaminya. Bahkan Sasti juga melahap dua telur yang terbungkus kulit lentur dibawah anaconda sang suami.


Tentu saja, perlakuan itu memberi nikmat yang sangat luar biasa bagi diri Arnaf.


"Sudah sayang cukup, sekarang naik yah?" perintah Arnaf dan lagi lagi dengan patuh Sasti menurutinya.


Selanjutnya Sasti berlutut di atas anaconda sang suami. Arnaf memegangi anaconda itu supaya berdiri tegak. Dan dengan arahan sang suami, Sasti mulai mendekatkan belahan daging tembem ke arah kepala anaconda Arnaf. Sebelum kepala itu masuk, Arnaf menggesekkan kepala anaconda di bibir daging tembem. Lagi lagi Sasti meracau penuh nikmat.


"Mas cepet masukin." Pinta Sasti.


"Iya sayang.."


Dan Arnaf kembali menegakkan anacondanya.


Dengan aba aba dari Arnaf, Sasti bergerak menurunkan tubuhnya hinga dia merasakan ada yang masuk dibelahan daging tembem. pelan pelan dia bergerak hingga tubuh anaconda suaminya tenggelam semua di dalam daging tembem.


Lagi lagi Arnaf memerintahkan sang istri bergerak naik turun dan dengan segera Sasti mematuhinya.


Arnaf sungguh menikmati tubuh istrinya yang bergerak naik turun. Benda kembar yang ikut menari indah pun seakan menantang mulut Arnaf untuk memakannya. Dan tentu saja Arnaf tak akan membiarkannya. Dia langsung menerkam benda satu persatu.


Entah apa yang akan terjadi nanti yang pasti Arnaf bahagia rencana Tito berjalan tanpa hambatan.


@@@@@

__ADS_1


__ADS_2