MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN

MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN
Sedikit Mencair..


__ADS_3

"Apa kakimu bisa disembuhkan?"


,Arnaf terkesiap, sejenak dia memandang Sasti dan untuk pertama kalinya sasti membalas tatapannya tanpa terlihat amarah disana.


"Ehmmm.."


"Sembuhkanlah, jangan menyiksa dirimu sendiri hanya karena penyesalan"


lagi lagi Arnaf dibuat terkejut dengan perubahan sikap istrinya.


"Jika ingin memperbaiki diri tidak harus menyiksa diri. .."


"Tapi ini.."


"Jangan sangkut pautkan dengan masalalu, Jika kamu membutuhkan kakimu."


"Maksudku, aku begini karena.."


"Jangan sangkut pautkan dengan masa lalu dan jangan terlalu picik. Bukankah baim tahu keadaanmu? kenapa dia tak meyuruhmu untuk sembuh dulu.?"


Arnaf terbungkam. Sepertinya Sasti tidak memberinya celah untuk memberi alasan.


"Dia sering mengingatkan aku tapi aku yang menolaknya.." Ucap Arnaf dengan kepala tertunduk.


"Soal pendidikan kamu pintar, jabatan kamu tinggi, apa setiap soal hati dan perasaan kamu harus bodoh?"


Lagi lagi Arnaf terkesiap. Entah itu amarah atua kritikan yang Sasti tunjukkan, tapi itu lebih baik daripada didiamkan dengan sifat dinginnya..


"Sebenernya kaki ku baik baik saja, tidak terlalu parah, hanya saja aku mau begini agar tidak ada perempuan yang mau mendekati aku.." Akhirnya ada celah untuk mengungkap salah satu alasan.


Sasti tercengang dengan alasan aneh suaminya.


"Kalau perempuan yang memandang harta pasti akan tetep mau sama kamu, bukankah kamu selalu bodoh dalam urusan hati dan perasaan?" Hina Sasti.


"Aku tahu, karena kebodohanku, aku menghancurkan mimpiku sendiri." Sesal Arnaf.


"Dan kamu akan bertindak bodoh selamanya dengan memakai kursi roda? Apa gunanya kamu mencari uang, apa gunanya kamu mendirikan perusahaan?"


"Apa kamu menginginkan aku sembuh?"


"Aku nggak peduli, kamu mau sembuh atau tidak.."


Degg


Sakit tapi tak berdarah. Itulah yang dirasakan Arnaf saat mendengar penuturan istrinya. Dia pun menunduk menyembunyikan wajah kecewanya.


"Kamu itu punya keluarga, pikirkan keluargmu, jangan menggunakan ego mu sendiri menjadi senjata dan berkata itu bentuk penyesalan"

__ADS_1


Arnaf hanya diam mendengar omelan Sasti namun saat dia mencerna kata terakhir yang istrinya ucapkan tiba tiba senyumnya terbesit.


"Keluarga? bukankah sekarang aku sudah berkeluarga, dan kau juga keluargaku? jadi.." Ucapnya dalam hati.


Sasti yang melihat suaminya tiba tiba tersenyum merasa heran.


"Kenapa tersenyum?"


"Eh, oh enggak, nggak kenapa kenapa.." Balas Arnaf gelagapan dan dia kembali kemode diam.


"Ya sudah.." Sasti pun beranjak


"Apa kamu mau menemani aku periksa? kalau besok kamu nggak sibuk?" tanya Arnaf agak ragu.


"Lihat saja besok bagaimana.." dan Sasti berlalu meninggalkan Arnaf yang memandangnya pilu.


Setelah makan pria berkursi roda itu beranjakk menuju kamarnya. Dia sudah terbiasa melakukan apa apa sendiri meski itu sulit, namun terpaksa dia lakukan.


Ya. Sejak kecelakaan tiga tahu lalu, Arnaf memang seperti dikucilkan dari keluarga besarnya. Apa lagi dia kecelakaan bersama selingkuhannya. Hal itu saja membuat keluargannya kecewa ditambah keterangan dokter yang menyatakan kalau perempuan yang bersama dirinya keguguran. Makin murka lah keluarganya. Meski dia sudah menjelaskan kalau dia belum pernah melakukan apa yang keluarganya pikirkan, namun pada kenyataannya orang lebih percaya dengan apa yang mereka lihat dan juga apa yang mereka dengar.


Setelah Arnaf selesai dengan ritual mandinya, kini dia sudah berada di ranjangnya bersiap tidur. Matanya terus tertuju pada pintu kamar. Berharap malam ini Sasti tidur bersamanya. Namun kembali dia harus menelan kekecewaan Tiga puluh menit berlalu Sasti tak kunjung masuk ke dalam kamar. Dia pun membenamkan tubuhnya ke dalam selimut dan mematikan semua lampu yang ada hingga kamar menjadi nampak gelap segelap hatinya.


Haripun kini berganti lagi. Ada yang berbeda dipagi ini. Jika kemarin Arnaf selalu menyiapkan apa apa sendiri namun kini pakaian kerjanya sudah nampak tersedia di atas meja depan lemari pakaiannya lengkap bersama dasi dan aksesoris lainnya. Senyum tipis pun tersungging di bibirnya, setidaknya istrinya masih memperhatikannya walau belum banyak terjadi percakapan di antara keduanya.


Setelah melakukan kegiatan rutin paginya, kini Arnaf terlihat keluar kamar menuju meja makan.


"Aku nunggu aja.." Jawab Arnaf


Sasti hanya mengangguk kemudian melanjutkan kegiatan masaknya. Sedangkan Arnaf hanya memandanginya dengan perasaan yang tak menentu.


Dulu momen seperti ini adalah momen yang sangat menyenangkan bagi mereka. Sasti yang memang pandai memasak dan Arnaf yang setia menunggu masakan kekasihnya matang sembari sesekali mengganggunya hingga membuat Sasti kesal namun tak marah.


Tapi kenangan tinggal kenangan. Nyatanya keadaan sekarang berbeda dan itu semua akibat dari perbuatannya. Kini Arnaf hanya merasakan ngilu yang terus mendera.


Tak lama kemudian hidangan sudah siap di atas meja. Arnaf dan Sasti segera menikmatii sarapan bersama dalam diam.


"Aku kemarin menyuruh Manda kesini, apa dia datang?" tanya Arnaf untuk mengurai keheningan.


"Iya dia datang, terimakasih.." jawab Sasti sembari menoleh sejenak.


"Nggak perlu terima kasih, suruh saja dia datang lagi buat menemani kamu."


"Bukankah nanti kamu akan memeriksakan kakimu?"


Dahi Arnaf mengernyit. Sekilas dia menatap istrinya dan mengangguk.


"Jam berapa? biar aku temani?"

__ADS_1


Bluss, hati Arnaf menghangat. Dadanya bergetar hebat.


"Rencananya pas jam makan siang.." balas Arnaf agak terbata.


"Baiklah, kamu kabari aja, nanti aku ke kantormu.."


"Jangan, biar nanti aku jemput.." dan Sasti mengangguk.


Hingga tak terasa acara sarapan pun usai dan Arnaf segera beranjak bersiap diri menuju arah pintu keluar rumah.


"Apa aku boleh meminta nomer telfonmu? buat ngasih kabar?" tanya Arnaf sebelum keluar rumah. Sasti yang kebetulan mendorong kursi roda sang suami pun sejenak berhenti dan mengambil ponselnya. dia menunjukkan kontaknya


"Terima kasih.." kembali Sasti hanya mengangguk.


Dan Arnaf berangkat kerja dengan perasaan yang sangat bahagia, setidaknya kebersamaanya bersama Sasti sudah sedikit mencair tak sedingin beberapa waktu lalu.


###


Tanpa terasa pagi kini telah berganti siang, sesuai janji, Arnaf menjemput sang istri untuk menemaninya memeriksakan kakinya. Dan saat ini mereka berdua sudah berada di dalam mobil menuju rumah sakit. Di dalam mobil pun mereka berdua diam tanpa kata. Hanya Arnaf yang matanya terus menatap kursi di sebelah supir.


"Hai bro, akhirnya.." Sapa dokter nyentrik begitu melihat siapa yang berada di ruangannya."Sorry ya lama.."


"Nggak apa apa.." Jawab Arnaf


"Gimana nih? Jadi terapi kakinya?" Tanya sang dokter sembari mendudukan tubuhnya dikursi kebesarannya.


"Jadi mas, tolong di periksa lagi." Jawab Sasti.


"Siap, sebenernya gini ya Sas, kaki Arnaf tu nggak parah parah banget, Harusnya jika dari dulu mau terapi tiga bulan rutin saja, pasti sekarang sudah bisa jalan.." keluh dokter yang bernama Ibrahim Sanwali atau akrab dipanggil Baim.


"Ya kan kamu tahu sendiri Mas Baim, dari dulu, dia mah yang penting seneng, dia mau melakukan apa saja tanpa pikir panjang,"


Adu Sasti dan Baim tergelak sejenak


"Termasuk.." Baim menggantung ucapannya.


"Mungkin." jawab Sasti namun terasa linu dihati Arnaf.


"Baik lah, yuk kita periksa dulu.." Ucap Baim tanpa mau memperpanjang perkara. Dia tahu keadaan pengantin baru dihadapannya memang sedang tak baik baik saja


@@@@@


...Hai sobat Reader, gimana kisahnya? makin seru nih. Jangan lupa kasih dukungannya yah. Biar Author semangat ngetiknya....


...^^^Sambil nunggu episode berikutnya, tak salah dong kita baca yang lainnya dan ini bacaan lagi seru serunya loh, kunjungi yuk ^^^...


__ADS_1


__ADS_2