MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN

MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN
Akhirnya..


__ADS_3

"Apa! Kabur?" Teriak seorang pria saat menerima telfon dari rekannya.


"Ah! Sial!" Makinya.


Wajah pria itu terlihat emosi. Wanita yang akan dia hancurkan ternyata sudah menghilang dari kontrakannya.


"Apa dia tahu kalau dia akan di jadikan artis film dewasa?" Gumamnya.


Dia meluruhkan badannya ke kursi kebesarannya. Niat hati ingin menghancurkan sang papah dan mengambil alih kepemimpinan perusahaan malah hancur berantakan gara gara sang wanita katanya lenyap tanpa jejak.


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di sebuah toko. Dua wanita nampak sibuk dengan masing masing pekerjaannya. Meski pekerjaan mereka sama dan mereka selalu kompak dalam mengelola usaha yang mereka rintis dan semakin ramai. Sedangkan satu karyawan mereka juga sedang sibuk melayani pembeli.


"Sas." Panggil Manda.


"Hum." Sahut Sasti tanpa menoleh. Dia sedang mengemas barang menjadi sebuah kado milik konsumen yang berdiri dihadapannya.


Manda yang semula ingin berbicara malah mengurungkan niatnya. Terlihat ada keraguan dari wajahnya. dan hal itu membuat Sasti menoleh. Dia melihat sahabanya malah diam mematung.


"Ada apa?" Tanya Sasti dan Manda dengan gugup menggelengkan kepalanya.


"Nggak, nggak jadi, nanti saja." Jawab Manda.


"Ya elah, tinggal ngomong apa susahnya sih, Man." Balas Sasti.


Tiba tiba ada seorang laki laki datang menghampiri mereka.


"Hai sayang, lagi sibuk yah?" Ucap laki laki itu. Sasti dan Manda menoleh ke sumber suara.


"Sayang, sayang! kepalamu peyang!" Sungut Sasti setelah mengetahui siapa yang datang dan orang itu hanya tergelak.


"Gimana sayang? Udah ngomong sama Sasti?" Tanya pria itu dan tentu saja Sasti mendengar pertanyaan seperti itu terkejut. Dia menoleh. Laki laki itu menatap Manda sedangkan Manda tersenyum canggung kepada sahabatnya.


"Ini? Kalian? Ada apa?" Selidik Sasti yang merasa curiga.


"Loh, sayang? Kamu belum memberitahu Sasti?" Tanya pria itu dan Manda hanya menggeleng.


"Kalian ada hubungan?" Tanya Sasti menatap sahabatny dengan pandangan yang tak percaya.


"Iya, nanti malam aku akan melamar Manda. Kamu datang ya?" Jawab pria itu santai namun sangat mengejutkan bagi Sasti.


"Apa! Manda! Kamu?" Manda hanya tersenyum tanpa dosa menatap sahabatnya.


"Astaga!" Sasti langsung menghamburkan tubuhnya memeluk sahabatnya.


"Jahatnya kamu! Kabar seperti ini, aku nggak di kasih tahu." Gerutu Sasti.

__ADS_1


"Maaf, tadi mau ngasih tahu tapi ... " Jawab Manda terpotong.


"Karena Fariq pernah mengejarku? Kamu ini!" Ucap Sasti sembari melepas pelukannya.


"Jam berapa acara, Riq?" Tanya Sasti kemudian.


"Jam tujuh." Jawab pria itu.


"Ya udah, nanti pasti aku datang deh. Selamat ya." Ucap Sasti tulus. Dan mereka pun melanjutkan ke obrolan lainnya.


###


Tak terasa sudah satu bulan berlalu setelah acara pertunangan Manda dan Fariq.


Kini terlihat Arnaf masih terlelap dibalik selimutnya.


Namun tidur nyenyak mereka terganggu saat tiba tiba.


"Hoekk! Hoekk!"


Arnaf yang masih terlelap seketika matanya mengerjap. Dia mendengar suara sang istri nampak seperi orang muntah. Arnaf segera bangkit dan beranjak dari ranjanya menyusul sang istri di kamar mandi.


"Sayang! kamu kenapa?" Tanya Arnaf khawatir.


"Nggak tahu, Mas. Kayaknya aku demam." Ucap Sasti yang terlihat pucat.


"Nggak perlu. Cuma demam ini, beliin obat aja di apotik. Nanti juga sembuh." Jawab Sasti.


"Nggak! Wajib periksa dokter! Jangan membantah!" Titah Arnaf dan Sasti hanya mencebikkan bibirnya.


Ya udah, aku mau mandi, kamu nggak usah, tiduran aja dulu." Arnaf hendak beranjak namun tangannya di tarik dan tubuhnya dipeluk sang istri.


"Ntar dulu, kita tiduran dulu, Mas." Ajak Sasti yang membuat Arnaf terkejut. Tidak biasanya sang istri bersikap seperti ini.


"Tapi aku harus mandi, Sayang! Kan kita mau ke dokter." Ujar Arnaf.


"Ntar dulu ih, lagian baru jam segini juga. Tiduran dulu, Mas." Rengek Sasti.


Arnaf menghela nafasnya dalam dalam. Tidak seperti biasa istrinya merengek seperti ini. Biasanya Sasti protes jika Arnaf mengajak berlama lama diranjang, namun kali ini berbeda. Justru sang istri yang memintanya. Akhirnya sebagai suami yang memang sangat menyayangi istrinya, Arnaf pun menuruti kemauan sang istri. Kini mereka kembali rabahan di ranjang dengan Sasti memeluk erat tubuh sang suami.


"Mas, jangan ke kantor dulu yah?" Pinta Sasti.


"Ya emang sengaja hari libur. kita akan ke dokter." Ucap Arnaf.


"Maksudnya besok besok. Mas dirumah saja." Arnaf langsung tercengang mendengar permintaan sang istri.

__ADS_1


"Astaga, sayang! Kamu kenapa? Lagi aneh banget." Ucap Arnaf heran.


"Pokoknya Mas Arnaf besok besok jangan ke kantor dulu. Titik! No debat!" Rajuk Sasti dan hal itu membuat Arnaf semakin heran.


"Iya, iya." Jawab Arnaf tanpa berani menolak dan dia memang selalu mewujudkan keinginan sang istri.


Dan selang beberapa jam kemudian, kini keduanya sudah berada di rumah sakit untuk memeriksaan keadaan Sasti. Wajah Sasti sedikit pucat. Bahkan makan bubur pun tak habis.


"Setelah menunggu giliran, kini tiba saatnya Sasti melakukan pemeriksaan. Setelah melakukan pemeriksaan, kini keduanya nampak duduk di hadapan sang dokter.


"Istri saya sakit apa, Dok?" Tanya Arnaf khawatir.


"Istri anda baik baik saja, Pak." Jawab sang dokter santai namun membuat Arnaf heran.


"Baik baik saja? Mana mungkin?" Tanya Arnaf tak percaya.


"Iya, istri anda baik baik saja. Hal itu biasa di alami oleh perempuan yang sedang hamil." Jawab Dokter.


"Apa!Hamil? Maksud dokter?" Tanya Arnaf dengan wajah terkejut luar biasa. Begitu juga Sasti.


"Untuk memastikannya, silahkan anda ke poli kandungan ya, Pak. Biar bisa di cek secara menyeluruh." Saran dokter.


"Baik, Pak, baik, terima kasih." Ucap Arnaf dengan girangnya.


Dan segera saja mereka berpindah ke poly kandungan. Benar saja, Sasti sedang mengandung selama dua minggu. Tentu saja berita ini sangat membahagiakan bagi Arnaf dan Sasti.


"Ya ampun, Sayang. Aku akan jadi ayah." Ungkap Arnaf berkali kali dengan senyum yang terus berkembang.


"Iya, Mas. Perjuanganmu nggak sia sia tuh, tiap hari main terus." Ucap Sasti dan hal itu membuat Arnaf tergelak.


"Berarti tadi pagi itu kamu ngidam ya, Yang?" Tanya Arnaf.


"Nggak tahu. Mungkin saja iya." Jawab Sasti.


"Baiklah! Mulai besok aku akan bekerja dari rumah saja. Biar ibu dan anakku selalu dekat ayahnya." Ujar Arnaf.


"Beneran?" Tanya Sasti dengan mata berbinar.


"Iya, sayang. Pasti!"


"Makasih, Sayang." Sasti segera saja melayangkan kecupan di pipi suaminya.


Kabar bahagia itu segera saja mereka bagikan ke seluruh anggota keluarga dan teman teman juga para karyawan. Ucapan selamat dan doa terbaik pun mengalir seiring kabar bahagia tersebut. Dan pastinya rasa syukur juga mereka panjatkan.


"Selamat ya Sasti dan Arnaf. Semoga rumah tangga kalian selalu bahagia dengan hadirnya buah hati di antara kalian."

__ADS_1


...》》》》》 **T A M A T《《《《《...


Makasih yang sudah mengikuti kisah ini. Kisah Arnaf dan Sasti sudah berakhir. Makasih buat yang sudah mendukung. Maaf jika ceritanya kurang memuaskan**.


__ADS_2