MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN

MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN
Makin Mesra Saja..


__ADS_3

"Aakhhh..."


Sebuah teriakkan terdengar berkali kali dari dalam sebuah kamar. Teriakan nikmat yang berasal dari pria saat dirinya sedang menuntaskan hasratnya. Pria itu terlihat bahagia dan puas saat tubuhnya penuh peluh dia hempaskan di atas ranjang besarnya.


Berbeda dengan sang wanita. Wajah kesal dan kecewa nampak sekali terlihat disana. Apalagi saat dia memandang jijik pria yang sekarang menjadi suaminya. Bahkan pria itu sudah terlelap tanpa mau mengerti kalau dirinya belum terpuaskan.


"Dasar tak berguna. kalau bukan karena uangmu, mana mau aku kayak gini." Gumamnya.


Perempuan itu bangkit turun dari ranjang dan meraih baju tidurnya yang tergeletak di lantai. Kemudian dia pergi keluar kamar dan melangkah menuju meja makan guna mengambil air minum.


"Aku masih pengin, main sama siapa ini?" Lagi lagi dia bergumam.


Dia mendudukkan tubuhnya di meja makan. Bersamaan dengan itu dia dikejutkan dengan seorang laki laki yang melintas dari arah dapur. Matanya menyipit. laki laki itu terlihat masih muda.


"Hai kamu, sini." Tanya wanita itu dan tentu saja yang di panggil menoleh dan mendekat.


"Iya nyonya ada apa?" Tanya pria itu.


"Lagi ngapain kamu malam malam begini keluyuran didalam?" Tanya wanita itu curiga.


"Oh, habis ngecek pintu nyonya. Sudah terkunci semua atau belum."


"Oh.." Jawab wanita itu singkat.


"Kalau begitu saya permisi nyonya." Pamit pria itu.


Wanita itu terus memperhatikan pria yang sedang melangkah menjauh darinya.


"Lumayan juga, aku kerjain ah." muncul ide nakalnya.


Wanita yang belum lama menjadi nyonya di rumah ini terlihat melangkah menuju arah dapur dan sepertinya dia menuju kamar pembantu.


Dari empat kamar pembantu yang ada, ada satu kamar pembantu yang pintunya terbuka. Wanita itu pun masuk ke dalamnya.


Setelah berada di sana, matanya berkeliling dan dia meyakini kalau kamar itu milik pria yang sedang mengecek pintu tadi. Dilihat dari adanya celana panjang dan beberapa perlengkapan khas laki laki. Itu cukup menjadi petunjuk siapa yang menghuni kamar itu.


Di saat perempuan itu sedang asyik mengamati ruangan tiba tiba terdengar suara orang sedang menuju kamar itu. Dengan segera wanita itu melangkah bersenyembunyi di balik pintu.


Benar saja, pria yang tadi memasuki kamarnya. Tanpa menutup pintu dan mungkin karena sudah terbiasa, tiba tiba pria itu melepas celanananya. dan disaat celana itu terlepas dan dia hendak meraih sarung yang tergantung tiba tiba


Brak..!!!


astaga.."


Pria itu terlonjak. Selain kaget karena pintu tertutup dengan sendirinya, dia juga sangat terkejut karena melihat majikannya ada di balik pintu dan sedang menatapnya. Pria itu segera meraih celananya kembali namun dengan cepat perempuan itu menghentikannya. dengan merebt celana itu.

__ADS_1


"Nyonya ini.." ucap pria itu dengan wajah panik.


"Kenapa?" Tanya wanita itu santai.


"Nanti ada yang mendengar malah jadi fitnah nyonya." Ucap sang pria takut takut.


Wanita itu berdiri tepat dihadapan pria yang sepertinya usainya lebih muda.


"Kenapa wajahmu pucat sekali?" Tanya wanita itu lirih namun sangat menggoda. Sementara laki laki itu hanya menunduk. Jelas sekali dia malu karena bagian bawahnya tak terbungkus kain apapun.


"Maaf nyonya, tolong celanaku." Pintanya. kedua tangannya dia telungkupkan menutupi benda yang menggantung di bawah perutnya.


"Emang kenapa dengan celanamu?" Ledek wanita itu. sang Pria terlihat semakin gugup.


"Malam ini temani saya bermain yah." Pinta sang nyonya dan tentu saja sang pria kebingungan.


"Main apa nyonya?" Tanya pria itu. Entah dia tidak tahu apa memang pura pura tidak tahu. tapi yang jelas dia takut karena yang dihadapi adalah nyonya baru di rumah ini yang cantik dan usianya masih terlihat muda.


"Yakin kamu ngga tahu?"


"Benar nyonya saya tidak tahu."


Wanita itu menjulurkan salah satu tangannya dan


Grep.


"Nyonya ini.." ucap pria itu dan wajahnya makin panik.


"Sekarang kita main atau kamu saya pecat."


Tentu saja itu ancaman menakutkan bagi pria itu. Dia sangat membutuhkan pekerjaan ini dan dia hanya orang kampung yang tidak berpendidikan tinggi. Mau tidak mau dia pun menuruti kemauan nyonya barunya. Meski agak kaku, dengan telaten nyonya baru rumah itu membimbing pria polos untuk menuntaskan hasratnya yang masih menggelora.


Hampir dua jam permaianan itu pun selesai. Terlihat wanita itu memakai kembali baju tidurnya. Sedangkan sang pria menutupi tubuh polosnya degan sarung.


"Kamu hebat, makasih ya." pria itu hanya mengangguk takut meski hati kecilnya juga bahagia mendapat pengalaman seperti ini.


"Lain kali jika aku buutuh, kamu harus siap melayani. Jangan sampai berani kamu menolaknya dan jangan sampe tuan tahu. Soal gaji kamu tenang saja. Nanti aku akan tambahin, mengerti."


"Mengerti nyonya." Jawab pria itu yang masih tertunduk kepalanya.


Setelah mengucapkan pesannya sang nyonya keluar kamar dengan wajah cerah ceria. Pria itu langsung menutup pintu.


"Astaga, apa yang baru saja aku lakukan, keperjakaan ku sudah hilang."


Wanita itu kembali ke kamarnya dan melihat sang suami yang sudah terlelap sedari tadi. Wanita itu hanya mendengus ketika membaringkan tubuhnya di sisi sang suami.

__ADS_1


"Untung di sini ada yang masih muda. Kalau bukan karena ingin balas dendam sama Arnaf, nggak bakalan aku mau sama tua bangka sama kamu."


Dan lama kelamaan dia pun tertidur karena rasa lelah dan ngantuk yang mulai menyerang.


Waktu benar benar sangat cepat berlalu dan kini pagi terlihat telah menelang. Di sebuah kamar, sang pria tua sedang bersiap siap untuk berangkat ke kantornya.


"Mas, mas kapan akan mengadakan pertemmuan dengan perusahaannya Arsaydi?" Tanya sang istri yang masih terbaring di atas ranjang.


"Emang kenapa ssayang?" Tanya pria itu denga memakai dasinya.


"Pengin ambil bagian. Katanya kamu mau bantu aku?"


"Iya sayang, aku pasti akan bantu kamu. Manti kalau sudah saatnya aku akan kabari, yu kita turun, mas lapar."


"Baiklah.."


Sementara di kediaman Arsyadi, Arnaf juga sedang nampak bersiap siap memulai harinya. Dia terlihat baru keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang dililitkan di pingangnya. Dia melangkah ke arah istrinya yang sedang memilih baju kerja untuknya.


Dreep..


Arnaf melingkarkann tangannya di pinggang sang istri.


"Mas.." Pekik Sasti.


"Apa?"


"Udah siang. Cepet pake baju."


"Bentar lagi, baru jam tujuh kurang."


"Ntar macet loh."


"Iya iya."


Arnaf mengecup rambut Sasti kemudian dia melepas pelukannya dan juga handuk yang melilit di tubuhnya. Sasti membelalak dan menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Kenapa wajahmh ditutup?" Tanya Arnaf.


"Bisa bisanya lepas handuk di sini. Huu."


"Ya kan depan istri sendiri ini.Lagian kita sudah saling lihat semuanya."


"Tau ah. udah, aku mau keluar dulu nyiapin sarapan."


Arnaf tergelak melihat wajah merona istrinya.

__ADS_1


"Senangnya menggoda kamu."


@@@@


__ADS_2