
"Mas, jam tangannya cocok yah ditangan kamu." Ucap Sasti di suatu pagi saat mereka berada dalam perjalanan.
Sejak bulan madu, kini setiap Arnaf berangkat ke kantor selalu mengantar Sasti dulu ke toko. Untungnya jalan toko itu searah dengan jalan yang menuju kantor Arnaf, jadi Arnaf dengan mudah menggantar jemput Sasti tiap hari. Kecuali jika ada meeting atau hal lain, baru Sasti naik Ojek atau taksi. Sebenarnya di rumah Mobil dan motor ada, cuma Sasti enggan untuk memakainya. Apalagi di kota, arus kendaraan begitu ramai, makanya dia malas membawa kendaraan sendiri.
"Iya dong pilihan siapa dulu." Ucap Arnaf sambil melirik jam tangan yang melingkar.
"Di jaga baik baik loh."
"Oke oke." Sebenarnya Arnaf tahu apa yang sudah Sasti lakukan pada jam tangan itu. Mungkin ini cara Sasti menjaga apa yang sudah menjadi miliknya. Dan Arnaf sadar itu. Sasti mungkin dulu sangat terpukul dan berat saat harus melepas Arnaf. Dan Arnaf sudah sangat berjanji akan memperbaiki semuanya. Dia juga tidak mau kehilangan Sasti untuk yang kedua kalinya.
Tak perlu waktu lama, kini mereka berhenti di depan Toko. Sasti segera turun setelah berpamitan dan cium punggung tangan sang suami. Dan segera saja Arnaf meluncurkan mobilnya menuju kantor.
Suasana pagi di kantor begitu terlihat sangat sibuk. Semua nampak fokus dengan tugas masing masing sesuai bidangnya. Bahkan disana juga ada beberapa artis yang memang ikut ambil bagian dalam program televisi yang ada di perusahaan Arnaf.
Kini pria itu sudah berada di kursi kebesarannya. Beberapa berkas berkas laporan juga sudah terlihat menumpuk di meja kerja.
"To, apa hari ini akan ada rapat?" Tanya Arnaf yang matanya tak lepas dari berkas yang sedang dia baca.
"Ada tuan. Ada beberapa, namun pagi ini dari rcancer kosmetik tuan Mahendra." Jawab Tito.
"Kapan?"
"Sebentar lagi tuan, yang saya dengar, mereka akan meluncurkan produk baru dan mereka akan meminta statiun kita untuk mempromosikan produk baru merrreka"
"Baik lah, atur saja tempatnya."
"Baik tuan."
Dan Arnaf kembali membaca dan mengecek satu persatu berkas yang ada. Hingga tak terasa waktu pertemuan dengan perusahaan milik Maehendra tiba.
"Tuan, Tuan Mahendra sudah tiba diruang pertemuan." Ucap Tito memberi tahu.
"Baik, ayok To kita kesana."
Setelah mendapat anggukan dari sang asisten, Arnaf segera menuju ruang rapat di kantornya yang tempatnya tak jauh dari ruang kebesarannya.
Ceklek.
Arnaf membuka pintu dan tak lama kemudiam dia masuk. Saat Arnaf hendak menyapa tuan Mahendra, sektika matanya memicing. Sosok perempuan di masa lalu terlihat sedang duduk di sebelah tuan Mahendra. Perempuan itu tersenyum manis namun tidak dengan Arnaf. Dia mengabaikannya.
__ADS_1
Hati Arnaf seketika merasa tak enak. Dari balik senyum yang perempuan itu sunggingkan, Arnaf sudah merasa pasti akan ada hal lain yang dia rencanakan.
"Selamat pagi tuan Arnaf Arsyadi." sapa tuan Mahendra. Dia bangkit dan menjabat tangan Arnaf.
"Selamat pagi juga Tuan Mahendra" Jawab Arnaf dengan senyum yang dipaksakan karena hatinya masih curiga dengan hadirnya perempuan yang terus menatapnya.
"Oh iya, Kenalin tuan Arnaf. istri saya, Citra." Ucap Mahendra dan dia menyuruh Citra untuk berjabat tangan dengan Arnaf. Tentu saja Citra senang menyambutnya. Namun berbeda dengan Arnaf yang sebenarnya tak sudi bertemu lagi dengan wanita itu.
Saat tangan mereka bertautan, dengan sengaja jari citra menggelitik telapak tangan Arnaf seakan akan memberi kode dan tentu saja Arnaf segera menariknya.
"Silahkan duduk tuan Mahendara." ucap Arnaf. Dia benar banar berusaha menghindari tatapan Citra yang tak pernah berhenti menatapnya.
Setelah mereka duduk dan berbasa basi sedikit, kini mereka memasuki pembicaraan penting tentang kerja sama yang akan mereka lakukan. Perdebatan sedikit terjadi diantara mereka namun perdebatan itu berakahir dengan damai dan ditandai resminya mereka bekerja sama.
Sebelum mereka menandatangi suray kontrak kerja sama dan membubarkan diri, Tuan Mahendra meminta ijin ke tolilet, sedangkan Tito juga keluar karena menyiapkan berkas untuk rapat berikutnya.
Kini tinggallah Arnaf dan Citra diruangan yang sama.
Mata Arnaf tetap fokus menatap layar laptop dihadapannya, namun berbeda dengan Citra. dia memandang lapar pada diri arnaf.
Anraf yang sekarang lebih tampan dan meski badannya tertutup denga pakaian jass, tidak menutupi betapa indah tubuh yang tersembunyi di balik jass itu.
"Yah, aku sangat bahagia." Jawab Arnaf tanpa mengubah pandangannya. Citra tertawa renyah.
"Apa kamu nggak kangen sama aku?"
"Cih, dirumah ada yang lebih menarik dan lebih ngangenin."
"Masa? Bukankah dulu kamu sangat memujaku? Yakin kamu ingin menolak keindahan yang dulu pernah ingin kamu cicipi?"
"Cih, beruntung aku nggak sampai menjamahmu."
"Ahhaha, jangan munafik, aku tahu kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu."
"Hahha, anda salah, aku sangat bahagia dan sangat mencintai istri saya."
"Ayolah Naf, apa kita harus sekaku ini? Kita bisa memulai kembali hubungan kita. Kita bisa sama sama saling memuaskan, tanpa mereka tahu."
"Maaf, anda salah orang nona. Bukankah tuan Mahendra sudah cukup bisa memuaskan kamu."
__ADS_1
"Apaan, dia impoten, nggak memuaskan. Aku bahkan kadang maen sama satpam, tukang kebon dan supirnya. Mahendra payah."
"Jadi selain uang, apa tujuan kamu menjadi istrinya?"
"Agar bisa bekat denganmu lagi."
"Cih, rendah banget."
Perlahan Citra bagkit dari duduknya. Dia berjalan memutar meja dan berhenti persis di sebelah kursi yang Arnaf duduki.
Arnaf hanya meliriknya sekilas dan dia menutup laptopnya serta hendak berdiri namun pundaknya di tahan poleh tangan Citra.
"Minggir..!!" ucap Arnaf menepis tangan Citra.
"Kenapa? takut?" Tanya Citra dengan gayanya yang sangat menggoda. Roknya dia angkat sebelah hingga terlihat sesuatu yang licin disana. Arnaf hanya mendngus dan membalik badan berniat pergi namun
Greep.
"Lepaskan Citra.!! Jangan kurang ajar kamu." Ucap Arnaf berang dan tangannya segera beraksi melepas tangan perempuan yang melilit tubuhnya namun Citra memeluknya terlalu kencang hingga dia sedikit kesulitan.
"Aku kangen kamu sayang."
"Jijik aku, lepas..!!" berang Arnaf.
Citra bukannya melepas pelukan namun tangannya malah mengcengkram kemeja yang melekat pada tubuh Arnaf. dan dengan sekuat tenaga. Citra menarikk kedua tepi kemeja Arnaf dan
Brah..
Beberapa kancing kemeja Arnaf terlepas dan tentu saja kemeja itu terbuka.
"Brengsek kau Cit, apa yang kamu lakukan HAh.!!"
Arnaf segera membalikan badan dan mendorong tubuh Citra namun dengan gesitnya citra menarik tangan Arnaf dan secara bersamaan mereka terjatuh bersama denga posisi Arnaf diatas tubuh Citra dan disaat bersamaan, pintu ruangan itu terbuka.
"Apa yang kalian lakukan... !" Suara lantang terdengar dari arah pintu.
Arnaf dan Citra menoleh, tuan Mahendra menatap tajam ke arah mereka.
@@@@
__ADS_1