MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN

MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN
Sedikit Cerita Tentang Arnaf..


__ADS_3

"Apa kamu juga tahu Sas, gara gara perselingkuhan itu, Arnaf dikucilkan dari keluarganya??"


Sasti tercengang dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Arnaf dikucilkan? maksudmu Man?"


"Iya, Arnaf dikucilkan seluruh keluarga besarnya. Kamu tahu kan bagaimana keluarga besar Arnaf menjaga kehormatannya?" Sasti hanya ngangguk ngangguk


"Nah karena itu Arnaf dianggap tidak menjaga kehormatan keluarga. Kalau bukan karena anak, mungkin tante Mia dan om Bagus juga nggak peduli sama nasib Arnaf. "


"Kok bisa separah itu sih Man?"


"Ya begitulah adanya Sas, itu yang aku tahu, mungkin jika tante Mia yang cerita akan ada banyak kejutan."


"Arnia tadi juga cerita kalau dia juga hilang rasa peduli sama Arnaf. alApa mungkin mamah Mia dan papah blBagus juga gitu? Nggak mungkin lah?"


"Yah, intinya, Arnaf tuh seperti hidup sendirian gitu. Beruntung sih dia masih ada Fatir dan Baim. Coba kalau dia nggak punya temen seperti mereka, sefrustasi apa dia.."


"Terus aku harus gimana? apa aku harus kasian sama dia? keenakan dia nantinya, huu.."


"Hahaha trus kamu mau jauhin dia?"


"Penginnya sih hehhe.."


"Huu, istri durhaka.."


"Kan dia yang maksa nikahin aku?"


"Huu dasar.." Dan keduanya pun tertawa.


Tanpa terasa waktu pertemuan mereka pun berakhir dengan pamitnya Manda karena waktu yang hampir malam.


Kini rumah kembali terasa sepi, dan Sasti kembali termenung. Mau tak mau dia pun akhirnya memikirkan Arnaf. Tentang waktunya yang melewati masa sulit sendirian tanpa dukungan keluarga. Bukan karena rasa cinta atau apa, sebagai manusia yang punya hati, ada rasa kasian dengan apa yang terjadi pada suaminya. Bahkan meskipun lumpuh, Arnaf terlihat tetap mandiri. Tak pernah mengeluh sekalipun atau minta bantuan dia. Mungkin ini akibat dari sikap keluarga kepadanya. Tak terasa Sasti pun meneteskan butiran airmata saat membayangkan tiga tahun ini Arnaf melakukan semuanya seorang diri.


Sakit hati karena dikhianati memang hal paling menyakitkan sepanjang sejarah percintaan namun Sasti bisa melaluinya tanpa dikucilkan. Bahkan dia juga mendapat pengalaman baru sebagai biduan yang nota bene tak pernah terfikir dalam rencana hidupnya.


Tapi Arnaf. Ditengah keterpurukannya justru dikucilkan oleh keluarga yang seharusnya tetap berada bersamanya disaat kondisi tersulitnya. Bukan malah menghakiminya. bukankah itu sudah terjadi. apalagi ini sudah tiga tahun lamanya. wajar saja Arnaf memilih langsung menempati rumah barunya begitu dia menikah, mungkin karena tidak mau mendapatkan cibiran atau umpatan dari keluarganya.


lain Sasti, lain pula Arnaf. Dekat dengan wanita yang dia rindukan harusnya dia bahagia, apa lagi wanita itu kini telah sah menjadi istrinya. Bukankah seharusnya itu sesuatu yang sangat menyenangkan? Namun tidak bagi Arnaf. Pria berkursi roda itu justru merasa makin dilema setelah menikah bersama wanita yang telah disakitiinya. Entah harus dengan cara apa dia meluluhkan hati Sasti. Setiap hendak berbicara selalu berakhir dengan perdebatan.


"Lo kenapa Naf? pulang kerja bukannya ke rumah malah kesini?"

__ADS_1


Ya. Arnaf saat ini sedang berada di apartemen sahabatnya.


"Belum akur sama Sasti?"


dilihat dari wajah Arnaf, Fatir tahu belum ada perkembangan positif yang terjadi pada pasangan pengantin baru itu. Fatir menghela nafasnya sembari membereskan peralatan potretnya yang super canggih.


"Apa lo sanggup mempertahankannya Naf?" Tanya Fatir tanpa menatap Sahabatnya yang sedari tadi hanya memandang keluar apartemen lewat jendela kaca


"Entah lah Tir, gw sendiri juga bingung. Jika gw melepasnya lagi, nggak bakalan sangggup gw, namun jika bertahan, gw takut Sasti akan semakin membenci gw."


"Harusnya lo memikirkan matang matang saat berniat menikahinya Naf, sekarang kalau sudah begiini keadaanya bagaimana? bingungkan?"


"Gw tahu, tapi pada saat itu gw hanya ingin Sasti dan keluarganya nggak malu Tir. Dulu gara gara gw selingkuh, rencana nikahnya gagal, apa iya gw harus berdiam diri saat melihat pernikahan dia gagal lagi di depan mata gw? sedangkan lo tahu, perasaan gw sama dia bagaimana."


"Cinta memang nggak salah sih, yang salah manusianya. Dan pastinya lo juga yang menjadi biang masalah hingga menjadi serumit ini.."


"Menyedihkan ya Tir hidup gw, bahkan menginginkan sebuah kesempatan pun sepertinya gw nggak ada hak. apa gw ngga dikasih kepercayaan untuk berubah? "


"bukan nggak dikasih, lo sama Sasti belum ngomong aja dari hati ke hati tanpa adanya emosi. Tiga tahun kalian berpisah tanpa adanya kata perpisahan. Dan bertemu lagi dalam keadaan yang sangat tidak menguntunngkan bagaimana mungkin akan ada jalan damai begitu saja?"


Arnaf hanya mengangguk beberapa kali, tak lagi menanggapi ucapannya Fatir. dirinya kembali sibuk dan tenggelam dalam pikirannya.


"Mending lo pulang, bukankah Sasti sendirian dirumah?"


"Ya kan bisa saja Manda sudah pulang, lagian ini jam berapa.."


Sejenak Arnaf menghembuskan nafanya kasar. Sepertinya dia enggan pulang.


"Baik lah gw pulang, tolong panggilkan supir gw.."


"biar gw yang mengantar lo sampai ke lift.."


Dan Arnaf hanya mengangguk.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Arnaf terus terdiam dengan pikiran yang berkelana. Sesekali nafasnya berhembus terasa berat.


Seperti biasa, Sasti pun sudah menyiapkan makan malam, meski pernikahannya tak berjalan dengan baik setidaknya dia tahu kewajibannya sebagai seorang istri. Apalagi mendengar kisah Arnaf selama berpisah, hatinya sedikit tergerak. Meski bukan karena cinta. Dan ini lebih karena kewajiban.


Tak lama kemudian mobil yang membawa Arnaf pulang pun sampai di letaran rumahnya. Sebelum turun Arnaf hanya menatap rumahnya malas. Mobil terbuka dan dia segera turun dengan bantuan di tahan oleh sang sopir.


Namun hal mengejutkan terjadi. Sasti menyambutnya. Arnaf tercengang.

__ADS_1


"Sini pak biar saya yang membawanya masuk.." Ucap Sasti kepada sang sopir. Dan sopir itu pun menganggukan kepalanya. Sasti mendorong kursi roda Arnaf memasuki rumahnya. Sedangkan Arnaf perasaannya tak menentu antara takjub dan bahagia. Yang pasti senyumnya sedikit tersirat.


"Mau mandi dulu apa langsung makan??"


Lagi lagi Arnaf terkejut dengan tawaran sang istri.


"Ehmn apa kamu sudah makan??" Tanya Arnaf gugup.


"Belum.." Arnaf pun merasa bersalah, mungkin Sasti dari tadi menunggunya.


"Makan aja dulu.." Pintanya.


"Baiklah.." Dan Sasti mendorong kursi rodanya menuju meja makan.


Dan tak lama kemudian, mereka pun terlihat sedang menikmati makanannya.


Hati Arnaf sedikit menghangat dengan sikap Sasti yang tidak bersikap dingin lagi seperti dua hari kemarin. Mungkin ini karena kedatangan Manda? pikirnya.


"Apa asisten rumah tangganya belum datang?" Tanya Arnaf mencoba mencairkan suasana dan sekalian menguji Sasti apa akan menjawab pertanyaannya.


"Sudah, mungkin dia lagi istirahat, apa kamu butuh sesuatu?"


"Tidak, kirain belum datang, soalnya masakannya..."


"Aku yang masak, daripada bingung nggak ada kerjaan.."


Arnaf hanya manggut manggut. Hatinya pun sedikit tenang dan bahagia pastinya.


Kembali suasana hening menyelimuti. Arnaf jadi bingung membuka obrolan. Takut salah jadi dia lebih baik memilih diam.


"Apa kakimu bisa disembuhkan?"


Arnaf terkesiap, sejenak dia memandang Sasti dan untuk pertama kalinya sasti membalas tatapannya tanpa terlihat amarah disana.


"Ehmmm.."


"Sembuhkanlah, jangan menyiksa dirimu sendiri hanya karena penyesalan.."


Degg..


@@@@@

__ADS_1


...Hai reader. Makasih ya sudah mengikuti kisah ini. Jangan lupa dukungannya plis, biar makin semangat nulisnya. jangan diem diem wae atuh hhihii. Dukungan kalian adalah semangat bagi saya untuk terus berkarya. Terimakasih...


__ADS_2