
"Lepasin dulu mas. Nanti ini gosong." Pekik seorang istri yang gemas dengan tingkah laku suaminya.
Ya hari ini Arnaf dan Sasti kembali kerumah yang dibangun Arnaf beberapa tahun lalu. Entah karena apa, Arnaf benar benar ingin menghabiskan waktu berdua dengan sang istri.
Terlihat di salah satu ruang rumah itu. Tepatnya dari arah dapur, Sasti sedang mengolah hati ayam menjadi masakan yang lezat. Namun sayang kegiatan memasaknya benar benar terganggu oleh ulah suaminya yang selalu nempel tak ingin lepas. Dari memotong cabai hingga mulai menumis bumbu, Arnaf benar benar tak melepaskan jeratan tangannya di pinggang sang istri. Setiap sang istri protes atau sedikit kesal, bukannya melepaskan tapi tangan kekar Arnaf semakin kencang memeluk tubuh langsing istrinya. Belum lagi telapak tangan yang suka sekali memainkan benda kembar milil sang istri membuat Sasti kewalahan menghadapinya.
Sasti bukannya tak suka dengan sikap berlebih yang ditunjukkan Arnaf. Dan memang selama di tinggal di rumah utama, Arnaf dan Sasti tidak pernah bermesraan di tempat lain selain di kamar. Karena alasan itulah Sasti mau kembali ke rumah Arnaf demi mewujudkan keinginan suaminya.
Yang membuat Sasti kesal. Dari semenjak datang hingga detik ini Sasti memasak, Selalu ada saja yang dilakukan suaminya. Seperti contoh tadi saat mandi. Biasanya Sasti mandi paling butuh waktu dua puluh menit, gara gara ulah suaminya, dia mandi hampir mandi satu jam. Tentu saja bukan hanya ritual mandi yang mereka lakukan, tapi ada hal lain hingga mereka lama berada di kamar mandi. Belum lagi saat berpakaian. Arnaf menyuruh Sasti untuk diam dan dia sendiri yang memilihkan pakaian yang dipakai istrinya. Dan parahnya, Sasti hanya di perbolehkan memakai daster. Tidak boleh memakai apapun lagi. Sebenarnya hal itu masih mending. Awalnya Sasti dilarang memakai baju sama sekali dengan alasan kalau sudah ingin tinggal langsung tancap. Tentu saja Sasti menolak mentah mentah dan mereke terlibat negosiasi hingga akhirnya Sasti hanya di ijinkan pakai daster. Sedangkan Arnaf, tentu saja dia hanya memakai boxer.
Dan saat ini, Arnaf benar benar tak melepaskan Sasti sedetikpun hingga Sasti benar benar merasa jengah namun tidak bisa berbuat apa apa.
"Mas ih, lepasin dulu napa, ini nanti gosong, nggak jadi dimakan." Protes Sasti.
"Ya ampun sayang, mas kan nggak ngapa ngapain." Jawab Arnaf. bilangnya tidak melakukan apa apa tapi nyatanya tangannya dari tadi bermain benda kembar terus.
"Apa kamu nggak lapar? Ini kalau diganggu terus digangguin seperti ini kapan selesainya."
"Lapar, tapi aku lebih suka makan ini yang." Ucap Arnaf sembari memegang benda kembar dengan kedua tangannya. Sasti hanya mendengus tak bisa berkata apa apa lagi.
Dan setelah perjuangan yang cukup lama akhirnya semua hidangan selesai dan tertata rapi di meja makan. Meski hanya ada tiga menu, tapi itu semua cukuplah buat mereka berdua.
Rempela ati cabai ijo, tahu goreng tanpa tepung, tumis kacang panjang. Masakan sederhana yang sangat dirindukan seorang Arnaf.
Sejak dari pacaran, Arnaf memang sudah sering menikmati masakan istrinya. Tapi dirumah utama, Sasti benar benar tak pernah memasakan makanan untuk suaminya maka itu Arnaf terlihat antusias menyantapnya.
"Katanya nggak suka makanan itu, nyatanya habis tuh tanpa sisa." Sindir Sasti di dela sela makan bersama.
"Siapa yang bilang nggak suka?" Kilah Arnaf dan tentu saja sambil senyum senyum.
__ADS_1
"Mas Arnaf lah." Tuduh Sasti.
"Jangan asal nuduh. Justru aku tuh ingin tiap hari makan masakan kamu Sas. Kangen tahu sama masakanmu." Ucap Arnaf jujur.
"Tadi bilangnya cuma mau makan ini." Kata Sasti sambil menujukan benda kembarnya dan seketika Arnaf terbahak.
"Ya beda lah sayang, masakan kamu tuh paling enak di dunia dan itu kamu tuh benda paling enak dan nggak ngebosenin tahu." Kelakar Arnaf dan Sasti hanya mengernyitkan dahinya.
"Astaga, ish ish ish, ntar sih kalau kita punya anak bagaimana? bisa bisa anak kita nggak kebagian jatah karena bapaknya rakus." Gerutu Sasti.
"Ya nggak lah, yang pasti aku akan berbagi sama anakku. Kalau anak ambil yang sebeleha kiri, aku yang sebelah kanan, begitu juga sebaliknya." Mendengar perkataan Arnaf, seketika Sasti langsung membayangkan jika hal itu benar benar terjadi.
"Astaga, pikirannya yah." Ucap Sasti dan Arnaf hanya terkekeh.
"Mas, kita ke dokter yuk." Ucap Sasti lagi tiba tiba dan Arnaf langsung menghentikan tertawanya.
"Ke dokter? ngapain?" Tanya Arnaf heran.
"Baik lah, besok kita ke dokter."
"Beneran?" Dan Arnaf mengangguk, " Yee.." Sasti nampak senang.
Tentu saja Arnaf ikut senang. Biar bagaimanapun tujuan Arnaf saat ini adalah membuat istrinya bahagia. Dan lagi usulan Sasti ada benarnya juga. Tidak perlu menunggu sakit saat ingin mengecek kesehatan.
Setelah acara makan selesai, Sasti sibuk membereskan meja makan sedangkan Arnaf memilih duduk santai di sofa sambil nonton televisi.
Tak lama kemudian setelah urusan beres beres selesai, Sasti menyusuk ke tempat di mana sang suami berada.
"Orang habis makan kok malah tiduran sih mas?" Ucap Sasti begitu sampai dan melihat Arnaf sedang berbaring di sofa depan televisi. Sasti memilih duduk di sebelah sofa dimana letak kaki Arnaf berada.
__ADS_1
Arnaf yang melihat sang istri datang dan duduk di ujung sofa yang lain pun segera bangkit dan merubah posisi berbaringnya dengan menaruh kepalanya di pangkuan sang istri.
"Duduk dulu mas, orang habis makan kok rebahan gitu." Perintah Sasti.
"Sudah, dari tadi duduk pas nungguin kamu." Ucap Arnaf. Matanya tertuju pada layar datar yang lumayan lebar. Arnaf sedang menikmati film action.
"Lama banget nggak sesantai ini aku Sas." Ucap Arnaf tiba tiba.
"Kenapa?" Tanya Sasti heran.
"Lama aku nggak merasakan hal kayak gini. Santai bersama kamu, di perhatiin kamu, manja manjaan sama kamu. Kangen hal hal kecil yang sering kita lakukan dulu." Jawab Arnaf tanpa merubah pandangannya.
Sasti mengulas senyum. Dia mengangkat tangannya dan meraih dagu Arnaf yang ditumbuhi bulu tipis. Dari dulu Sasti juga senang melakukan hal itu. Bermain main di dagu Arnaf membuat dia sering merasa gemas sendiri.
Arnaf meraih tangan Sasti dan mencium punggung tangan itu dalam dalam.
Damai. Itulah yang Arnaf rasakan saat ini. Kedamaian yang dia rindukan kini hadir kembali. Begitu juga Sasti. Apa yang dia rasakan sama dengan yang dirasakan suaminya.
"Sayang." Panggil Arnaf.
"Hum.." Jawab Sasti yang terus menatap wajah suaminya.
"Makasih ya, selalu memberiku kebahagiaan."
Sasti hanya tersenyum. Ucapan suaminya tak perlu dia tanggapi, karena Sasti juga merasakan bahagia dengan apa yang dilakukan suaminya.
...@@@@@...
Hy reader, makasih atas dukungannya ya. cuma mau ngenalin karya baru othor ini. Kisah yang tak biasa dari laki laki sederhana. Ikutin yuk
__ADS_1