
"Jika aku menuruti kemauan nenek, bagaimana dengan kamu? bukankah kamu dikucilkan keluarga kamu?"
Seketika Arnaf tercengang. jawabaan Sasti sungguh di luar ekspetasinya. Tentu saja Arnaf tidak akan pernah keberatan selagi di rumah utama dia bisa tidur seranjang dengan Sasti. Meski sebagian keluarganya masih bersikap beda, Arnaf tak peduli, yang penting dia bisa sekamar dengan Sasti. itu tujuan dia.
"Ya sudah, kalau mau menginap dirumah nenek, aku nggak apa apa kok."
Sasti menoleh sejenak. Menatap dan mencari sesuatu di balik tatapan mungkin dia dapat menangkap keraguan pada wajah suaminya namun ternyata suaminya terlihat sangat yakin.
"Kamu yakin?" tanya Sasti memastikan.
"Demi nenek, aku nggak apa apa Sasti.." jawab Arnaf mantap. Padahal dalam hatinya berkata, "Demi hubungan kita agar semakin lebih baik."
"Baiklah. Ini kita langsung pulang atau kamu mau ingin kemana?"
"Kemana? nggak tahu. Nggak ada rencana."
"Kamu belum menggunakan kartu yang aku kasih?" tanya Arnaf, sebenarnya dia penasaran sudah lama, karena tidak ada pemberitahuan satupun dari kartu ajaib yang dia berikan.
"Belum? mau kamu ambil lagi?"
"Nggak, aku cuma tanya. Itu kan kewajiban aku nafkahin kamu.."
"Belum ada keinginan beli apapun, apa aku boleh menggunakan untuk memperluaas tokoku dulu?" pinta Sasti.
"Ya boleh, sekalian untuk membiayai sekolah Lilo, biar bapak dan ibu lebih ringan bebannya." dan Sasti hanya mengagunguk.
"Kamu mau gabung lagi sama Manda?" tanya Arnaf kembali.
"Penginnya. Toh itu usaha aku bersama dia dulu."
"Kalau butuh apa apa ngomong sama aku, kali aja aku bisa bantu." tawar Arnaf.
"Kamu fokus aja sama kakimu mas. Hasilnya udah bagus itu." dan Arnaf tersenyum senang mendengar penuturan Sasti yanng begitu perhatian.
"Di depan ada cafe, apa nggak sebaiknya kita mampir dulu buat cari angin?" tawar Arnaf lagi.
"Nggak lah, aku nggak suka cafe." Arnaf mengernyit mendengar jawaban istrinya.
"Nggak suka? bukankah dulu.."
"Udah nggak suka lagi sejak cafe memberi kenangan buruk." jawab Sasti Tanpa menolah
dan Arnaf tahu maksud kenangan buruk itu apa. senyumnya pun memudar.
###
"Brengsek.!!" teriak seorang pria di dalam sebuah barr. Sepertinya pria itu terlihat mabuk berat. Botol botol kosong berjejer di atas meja.
__ADS_1
"Arnaf sialan, laki laki nggak tahu diri. brengsek kau alArnaf!!" teriaknya hingga adan seseorang yang sepertinya terusik dengan umpatan yang pria itu lontarkan. Orang itu pun mendekat dan duduk di sebelah pria mabuk itu.
"Arnaf? kamu mengenal Arnaf?" tanya orang itu. Pria mabuk itu menoleh memandang orang yang baru saja melontarkan pertanyaan. ternyata dia seorang perempuan dengan Pakaian yang terlihat ketat dimana mana.
"Siapa kau?" tanya pria mabuk sedikit membentak.
"Nggak perlu tahu siapa aku. Kamu kenal yang namanya Arnaf?" tanya perempuann itu lagi.
"Siapa yang tidak kenal dengan pria brengsek seperti dia. Udah nyakitin cewek incaranku eh malah seenaknya ngajak cewek incaran itu nikah." perempuann itu nampak syok mendengar penuturan dari pria mabuk itu.
"Apa? Arnaf nikah? dengan siapa?" tanya nya penasaran.
"Sama wanita incaran aku lah." jawab pria itu masih dengan nada ketus.
"Siapa wanita incaran kamu? kenapa nggak embat aja?"
"Aku bukan serendah itu. Aku bukan perebut bini orang.."
"Cihh, sok suci. Kalau cinta ya bertindak dong, jangan kaya pengecut begini. Larinya ke mabok, apa perlu aku bantu?" pria mabok itu tercengang.
"maksudmu?"
"Gimana kalau kita kerja sama, gini gini aku juga pernah loh berhasil merayu Arnaf. Angga aja, aku balas dendam sama laki laki brengsek yang sudah menghancurkan hidup Aku itu."
pria mabuk itu kembali tercengang. sejenak dia berpikir dan seketika matanya membulat.
###
Di kediaman Arsyadi, nampaklah kini hanya tinggal beberapa orang saja. Nenek Asti, Mia, Bagus, Arnia dan Arnaf beserta istrinya. Sedangkan keluarga yang lain sepertinya sudah pulang ke rumahnya masing masing. mungkin ini alasan nenek meminta Sasti tingal di kediaman utama. Karena rumah terlihat sangat sepi.
Setelah makan malam, entah kenapa orang orang nampak berpencar menjadi dua kubu. Arnaf dan ayahnya berada diruang kerja dan yang pasti mereka membahas tentang pekerjaan dan perkembanganya. Sedangkan yang perempuan memilih taman belakang untuk menghabiskan waktu bersama.
"Gimana tadi terapinya Arnaf Sas?" tanya Mia setelah menyeruput jahe hangat dicangkir yang dia pegang.
"Alhamdulillah mah, banyak kemajuan. Udah bisa berdiri tadi." terang Sasti.
"Yukurlah Sas, makasih ya, kamu mau menemani dia.." ucap Mia tulus dan merasa tidak enak sudah merepotkan menantunya. Apalagi jika mengingat perselingkuhan sang anak. Rasanya Arnaf tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu.
"Nggak apa apa mah, kan sudah tugas Sasti.."
"Tapi tugas kalian memberi cicit pada nenek sudah apa belum?" sela Nenek Ningrum.
Sasti sedkiti tercekat. Hal ini belum pernah dia pikirkan selama menikah dengan Arnaf. Bagaimana mau buat anak, mau bermesraan aja masih berat untuk Sasti lakukan.
"Maafkan Sasti ya nek. Kita belum kepikiran ke arah sana. Mau fokus menyembuhkan kaki mas Arnaf dulu." jawab Sasti beralasan setepat mungkin dan sepertinya perempuan dihadapannya percaya.
"Nenek cuma bisa berdoa semoga pernikahan kalian langgeng, meskipun nenek tahu awal pernikahan kalian bagaimana."
__ADS_1
"Hehhe, Arnia mana sih mah? kok ngak kelihatan?" tanya Sasti untuk mengalihkan pembicaraan.
"Di kamarnya. kalau mau kesana ya silahkan Sas."
"Nggak sish mah, cuma tanya. Dia lagi sibuk mungkin yah."
"Iya, namanya juga mahasiswa baru."
dan Sasti hanya manggut manggut.
Sementara diruang kerja pembicaraan serius juga nampak terjadi antara bapak dan anak. setelah berbagi saran dan kritik akhirnya mereka bisa menyelesaikan pekerjaan yang cukup menyita perhatian.
"skhirnya, bisa cepat istirahat nih.." eletuk Arnaf lega.
"Emang istirahat harus sesenang itu?" tanya Bagus saat melihat putranya senyum senyum dan nampak begitu semangat.
"Iya dong pah, semangat. hehhe"
"syukurlah, kalau sudah ada kemajuan dalam hubungan kalian. Tapi ingat ini masih nggak mudah, iyakan?" terka Bagus.
"Yaa gitu deh pah. Ternyata menaklukan hati perempuan susah banget ya pah.." ucap Arnaf sendu.
"Baru tahu kamu?"
"Kan papah tahu, dari jaman sekolah aku pemalu dan juga rata rata perempuan yang pada berjuang ingin menjadi pacarku. Dan Sasti salah satunya."
"Makanya kali ini niatmu harus kuat."
"Niat sih pasti kuat pah. Tapi Sasti seakan akan sudah membangun tembok tinggi banget."
"Setinggi tingginya tembok kalau terus di kikis sedikit demi sedikit pasti akan hancur juga. Apalagi hati perempuan." ujar ayahnya setelah meregangkan otot ototnya dan beranjak pindah tempat duduk disofa.
"Itu yang sedang Arnaf usahakan pah."
"Baguslah. dan papah ingatkan. Jangan memberi celah untuk wanita lain. Ingat masih banyak diluar sana yang menginginkan istrimu menjadi miliknya."
"iya pah saya tahu."
@@@@@
...Hai reader, gimana ceritanya? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....
...Sambil nunggu yang ini up, ngga ada salahnya dong baca cerita lainnya yang tak kalah uwuw, nih ada karya bagus dan romantis sangat....
__ADS_1