
Sruupp Akhhh.
Terdengar suara lega dari bibir manis seorang perempuan yang sepertinya sangat kehausan. Setengah gelas besar es jeruk dia habiskan dalam sekali tenggak. Padahal dirinya sedang berada di dalam ruangan ber AC.
Mungkin perempuan itu terasa lega bukan karena haus, melainkan dia merasa puas karena amarah yang dia pendam meluap begitu saja tanpa halangan apapun.
Sedangkan dihadapannya, seorang pria terus menatap tingkah wanita dihadapannya dengan bibir terus mengulum senyum.
Selain merasa bahagia, pria itu juga begitu penasaran, bagaimana mungkin wanita yang kini menjabat sebagai istrinya itu dengan santai merendahkan, bahkan membuat seorang pimpinan perusahaan ternama terbungkam tanpa perlawanan yang berarti.
Padahal rencana awal, dirinya lah yang akan meladeni pihak lawan dalam rencana mediasi untuk menyelesaikan masalah yang menghimpit dirinya. Sedangkan sang istri hanya akan menjadi penonton dalam mediasi tersebut.
Namun pada kenyataannya, justru dia lah yang paling banyak terdiam karena takjub dengan tingkah istrinya yang benar benar diluar perkiraan.
"Kenapa senyum senyum gitu?" Tanya sang istri jutek sambil salah satu tangannya digerakkan seperti sedang mengipasi badannya.
"Istriku keren sekali." Jawabnya dengan senyum yang terus terkembang sedangkan sang istri hanya mendengus mendengar gombalan suaminya.
"Dendam aku tuh sama mantan selingkuhanmu itu, masih kurang aku menyerangnya eh malah keburu pergi." Ucap Sasti. Tangannya kembali meraih gelas es jeruk dihadapannya.
"Lah, emang tadi kurang puas?" Tanya Arnaf sedikit terkejut.
"Kuranglah, enak aja, menghina segitu doang, tadi tuh baru pemanasan. Udah sejak dulu aku tuh pengin ngerujak tu muka Citra." Ucap Sasti menggebu gebu.
Dahi Arnaf berkerut. Ternyata amarah yang Sasti tunjukkan ada kaitannya dengan kasus perselingkuhannya dulu.
"Kenapa nggak dari dulu melampiaskan amarahmu?"
"Penginnya sih, tapi males melihat kalian begitu bahagia saat itu. Mending aku mengalah, toh mengalah bukan berarti kalah."
"Iya sih, aku malah yang kalah dalam permainanku sendiri." Ucap Arnaf nampak terlihat masih ada penyesalan dari balik suaranya. Dan perkataan itu membuat Sasti merasa tak enak hati.
"Maaf, nggak sengaja ngunngkit masa lalu." Cicit Sasti dan Arnaf sedikit tertawa kemudian dia berdiri melangkah ke arah pintu kantornya kemudian menguncinya. Setelah itu dia kembali menuju ke arah istrinya dan kali ini dia duduk disebelah sang istri.
Setelah duduk sejenak, Arnaf langung merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri. Tangannya bersilang dada, matanya dipejamkan.
"Kamu selalu berhasil menyelamatkanku Sas." Ucap Arnaf. Sasti yang hanya melongo melihat tingkah suaminya kemudian menyunggingkan senyum. Digerakannya salah satu tangannya dan mengusap pipi sang suami sejenak dan usapan itu berhenti di dagu Arnaf yang penuh dengan bulu tipis.
__ADS_1
Arnaf begitu menikmati setiap sentuhan sentuhan yang dilakukan istrinya. Sekarang semua perlakuaan yang dulu Arnaf rasakan sudah kembali lagi setelah perpisahan tiga tahun lamanya. Meski mulut Sasti belum terucap kata cinta sekalipun, namun Arnaf sudah begitu merasakan cinta atas perlakuan sang istri.
Sekarang tugas Arnaf adalah menjaga keadaan agar tetap seperti ini. Kehilangan Sasti tiga tahun lamanya cukup memberi pelajaran yang baru datang belum tentu yang terbaik.
Mata Arnaf terbuka dan dia menatap istrinya yang juga sedang menatapnya sembari bermain jambang di dagu Arnaf. Diraihnya tangan sang istri lalu diciumnya dalam dalam.
"Makasih ya sayang.." Ucap Arnaf dan sang istri hanya mendengus. Meski senyum juga tersungging setelahnya.
Setelah puas mencium tangan sang istri, kini tangan Arnaf terangkat mengusap pipi halus istrinya. Dari pipi, tangan itu berpindah ke hidung, dan dari hidung turun ke bibir. Setelah puas ke bibir, tangan itu turun lagi ke dagu.
Sasti memicingkan matanya melihat gelagat aneh sang suami, namun dia diam saja menunggu apa yang akan dilakukan tangan Arnaf selanjutnya.
Benar saja, setelah puas bermain main dagu sang istri, kini tangan Arnaf turun menjelajahi leher jenjang istrinya. Dan tangan itu perhalan turun namun pasti hingga hampir menyentuh bukit kembar Sasti dan dengan segera di tepis tangan itu oleh istrinya.
"Di kiranya aku nggak tahu yah? Huu dasar suami mesum."
Cetak.
"Aduh." Pekik Arnaf sembari mengusap kepalanya yang kena jitak istrinya.
"Sakit sayang."
Klek klek klek.
Pintu itu tak bisa dibuka. Sasti langsung melayangkan tatapan tajam ke arah suaminya. Dan ternyata sang suami malah mesam mesem tidak jelas.
"Mau kemana sayang?" Tanya Arnaf santai.
"Buka mas, pengin ke kantin." Rengek Sasti tanpa mau beranjak.
"Loh, ini jajan di meja siapa yang mau habisin?" Tunjuk Arnaf.
"Mas Arnaf aja yang habisin, aku pengin jajan yang lain."
"Aku? Mana doyan. Mending makan kamu yang enak dan nggak ada habisnya." Ledek Arnaf dan tentu saja Sasti bergidik.
"Cepet bukain mas."
__ADS_1
"Ya sini, ambil kuncinya. Aku lagi males bergerak."
Mau tak mau, Sasti pun kembali mendekati Arnaf.
"Sini." Pinta Sasti dengan tangan terulur.
Arnaf tersenyum penuh arti. Dia mengepalkan tangannya mengarah tangan Sasti dan bukannya memberikan kunci, Arnaf malah menarik tangan istrinya hingga dia jatuh dalam dekapan sang suami.
"Ya ampun mas, lepas, aku pengin jajan." Ucap Sasti sambil berusaha melepas jeratan tangan Arnaf yang meningkar di pinggang.
"Aku lapar sayang." Ucap Arnaf beralasan.
"Nah itu makanan..!" Tunjuk Sasti.
"Tapi aku pengin makan kamu." Ucap Arnaf sambil memberi serangan ke leher sang istri dengan bibirnya.
"Jangan ngada ngada deh, awas ini lepasin." Pekik Sasti namun Arnaf tak mempedulikannya.
Arnaf terus menyerang leher sang istri tanpa ampun. Bahkan dia merubah posisinya dengan merebahkan tubuh Sasti di sofa.
Sasti terus menolak namun Arnaf juga tak mau menyerah.
"Mas ih, aku pengin jajan." Pinta Sasti lagi.
"Ntar setelah aku kenyang, aku sendiri yang akan ke kantin." Ucap Arnaf dengan entengnya dan dia kembali menghujani Sasti dengan ciumannya.
"Semalam kan sudah, dua ronde malah."
"Masih kurang, aku penginnya tiap hari malah. Biar cepet jadi benih. Sore pagi siang malam, harusnya kita selalu mencobanya."
"Yang bener aja, emangnya hidup cuma dilewati hanya dengan bikin anak apa?" Dengus Sasti yang disambut tertawa oleh sang suami.
Namun sekuat apapun Sasti menolak, lama lama dia pasrah juga. Apalagi Arnaf sudah mengetahui titik titik terlemahnya, membuat Sasti akhirnya larut dan ikut menikmati permainan suaminya.
Sementara itu di sebuah rumah mewah, suasana nampak begitu mencekam. Seorang pria tua terduduk di sebuah sofa memandang sinis kepada perempuan yang sedang berlutut di hadapannya.
Perempuan itu jelas sekali terlihat ketakutan. Apalagi jika matanya beradu dengan mata pria dihadapanya, jelas sekali dia tak berani.
__ADS_1
Entah apa yang akan terjadi, yang pasti suasana diruangan itu sungguh mencekam.
@@@@@@