MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN

MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN
Permintaan Nenek..


__ADS_3

Tak seperti biasanya, kini Arnaf nampak lebih semangat menjalani harinya. Tidak sia sia dia mengabulkan keingin istrinya untuk menghadriri acara tasyakuran keponakannya. meski awalnya penuh drama namun drama itu berakhir manis di atas ranjang.


Senyumnya hari ini juga nampak tak pernah ingin dia lepaskan. Apalagi jika dia ingat saat Sasti tanpa sadar tidur di atas dadanya, senyum itu seakan akan menjadi bukti apa yang sedang dirasakan hatinya.


"Sepertinya aku harus meminta rekomendasi terapis kaki yang bagus, biar bisa lekas sembuh dan mengejar cinta Sasti lagi." gumamnya sangat yakin.


Arnaf mengambil ponselnya dan sepertinya dia menghubungi sahabatnya yang berprofesi sebagai dokter. Dengan segera dia melakukan panggilan.


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di kediaman utama keluarga Arsyadi, Sasti nampak sedang berbincang dengan nenek dan ibu mertuanya.


"Sas.." panggil perempuan tua yang sering di sapa nenek.


"Iya nek, ada apa?" tanya Sasti lembut. kebetulan mereka duduknya berdampingan.


"Apa kamu tidak mau tinggal disini dulu?" saran sang nenek. Sejenak Sasti berpikir sembari mengulas senyum


"Sasti sih mau mau aja nek, tapi kan Sasti nggak bisa seenaknya, ada masa Arnaf yang harus aku ajak berunding nek."


"Arnaf pasti mau kok Sas kalau kamu yang ngomong.." sela Mia.


Sasti bingung mau jawab apa. Sasti tak berucap lagi dan dia menatap lekat manik mata ibu mertuanya.


Sejujurnya ada gundah jika Sasti tidur sekamar dengan suaminya. Rasa sakit yang pernah dia alami membuat dia ingin dengan rapat menutup pintu hatinya. Tapi kenyataannya itu sangat sulit. Dimanapun manusia berada, meski statusnya mantan pasti tetap ada ruang hati lain yang masih menyimpan kenangan dan rasa. Begitu juga hati Sasti. Sekeras apapun dia berjuang, tetap nama Arnaf tak bisa terhapus begitu saja. Ditambah lagi posisinya kini dia adalah istri Arnaf. Bukannya bisa melupakan kenangan yang lalu tapi malah membuat masala lalu itu terbuka kembali.


Sementara itu dua wanita yang kini ada dihadapan Sasti juga nampak memikirkan sesuatau melihat Sasti terdiam. Dan yang pasti mereka tahu pernikahan yang sedang dijalani Sasti masih tidak baik baik saja.


"Ya sudah, kalau kamu nggak mau jangan dipaksakan nak.." akhirnya sang nenek mengambil keputusan. Dan Sasti tentu saja merasa tak enak. Apalagi melihat wajah kecewa dari perempuan itu.


"Akan Sasti usahakan nanti ya nek?" tawar Sasti dan nenek itu hanya mengangguk dengan senyum yang dipaksakan.


"Apa kamu sangat terbebani dengan pernikahan kalian Sas?" ucap Mia yang hanya mampu diutarakan dalam hati.


Sementara di tempat lain. Tepatnya di sebuah toko yang menjual aneka pernak pernik hiasan dan segala aksesoris yang berhubungan dengan perempuan terlihat seorang perempuan sedang asyik membereskan tokonya. Dengan telaten dan rapi, perempuan itu menata kembali barang barang yang berantakan oleh konsumen yang rata rata adalah anak muda.


"Huft, akhirnya selesai juga. Kayaknya aku harus benar benar ngajak Sasti gabung lagi nih, nggak sanggup kalo sendirian, mana toko kudu di perbesar lagi." gumamnya.


Namun dia tak sadar ada seseorang di belakangnya yang tercengang saat orang itu mendengar nama sasti disebut dari bibir perempuan itu.


"Sasti? Sasti udah balik?" tanya orang itu tiba tiba. dan tentu saja membuat perempuan yang baru seleesai dengan kegiatannya terlonjak kaget. Dian memutar kepalanya.


"Fariq? ngagetin aja..!" bentak perempuan itu.


"Heheh sorry man, aku kaget aja waktu denger kamu ngomomg soal Sasti.."


perempuan yang akrab dipanggil Manda hanya mendengus dan berlalu menuju meja tempat dia dimana biasa berada. Laki laki itu mengikutinya dan duduk di hadapan Manda persis..

__ADS_1


"Sejak kapan kamu sudah ada di toko? baru buka juga.."


"Belum lama sih, eh itu bener Sasti sudah balik? kapan?" tanya Fariq dengan antusiasnya.


"Ngapain tanya tanya Sasti?" tanya Manda tak suka.


"Ya elah Man, namanya kangen, wajar dong tanya tanya."


"Kangen? Kamu masih suka dia?" tanya Manda tak percaya.


"Iyaa dong, masih setia aku, nggak kaya mantannya itu.." balas Fariq dengan sangat yakin.


"Pede banget,, belum tentu juga Sasti mau sama Kamu.." cibir Manda.


"Nggak peduli, aku harus kejar cinta Sasti lagi."


"Dan kamu bakalan patah hati lagi Fariq hahha.."


"maksudmu?" tanya Fariq penasaran dengan ucapan Manda.


"Karena Sasti sekarang sudah nikah." balas Manda enteng.


"Apa?" Serasa mendengar petir yang menggelegar, hati Fariq kembali merasa perih.


"Ya itu yang kamu dengar, Sasti udah nikah, aku aja kaget dengernya."


"Ya udah nyari cewek lain aja Riq? kamu tuh ganteng, kerjaan bagus. usaha juga lancar. pasti banyak cewek yang mau sama kamu." hibur Amanda.


"Entahlah man, nyari cewek yang tulus itu susah."


"Ya sudah cari laki laki aja," ledek Manda dan Fariq hanya mendengus. Manda ikutan terkekeh.


"Emang Sasti dulu ngilang kemana sih Man?"


"Jawa, kota kecil, malah jadi biduan dia disana." Jawab Manda antusias.


"Busyet, dia nikah sama orang jawa juga?"


"Bukan.."


"Lah trus nikah sama orang mana?"


Manda tak langsung jawab. Wajahnya berubah lesu. Dia juga tak berani memandang laki laki yang berdiri di depan meja mengahadapnya.


Dahi Fariq mengkerut. Raut wajah perempuan dihadapannya berubah. Tentu saja hal itu mengundang pertanyaan dalam benaknya.

__ADS_1


"Man? kamu kenapa?" Tanyanya.


"Eh nggak apa apa.." Kilah Manda terbata.


"Kamu mah nggak bisa bohong kali Man, kita kenal udah lama, apa kamu kenal sama suaminya Sasti?"


Dan mau tak mau Manda mengangguk.


"Siapa?" Tapi Manda tak langsung menjawab hingga mengundang Fariq semakin larut dalam rasa penasaran. pria itu pun berpikir dan tiba tiba matanya menbulat.


"Jangan bilang kalau pria itu adalah.." Manda terperangah. Fariq semakin yakin karena tidak ada sanggahan dari Manda, "Brengsek..!!!"


####


Dan waktu kini sudah merangkak menuju sore. Di dalam sebuah mobil, pasangan suami istri itu terdiam setelah keluar dari rumah sakit mengikuti terapi rutin.


"Apa ada yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Arnaf. dia diam diam sedari tadi memperhatikan istrinya yang nampak gelisah menatap ke arah luar.


Sasti menoleh sejenak kemudian kembali tatapannya berpaling.


"Ini tentang nenek?"


"Nenek? kenapa dengan nenek?" Tanya Arnaf penasaran.


"Nenek minta kita tinggal dirumah utama, sepertinya nenek kesepian.."


Arnaf tercengang. Sebenarnya ini berita membahagiakan. Jika tinggal di rumah besar, dia akan terus tidur seranjang dengan istrinya. Namun dia tak mau egois, takutnya nanti sasti salah paham.


"Kalau kamu nggak mau, kenapa kamu nggak tolak aja?" Saran Arnaf dan dia sadar sebenarnya dia yang keberatan menolaknya.


"Apa kamu nggak keberatan? jika aku menuruti keinginan nenek?"


"Maksudnya?" Tanya Arnaf terkejut.


"Jika aku menuruti kemauan nenek, bagaimana dengan kamu? Bukankah kamu enggan tinggal disana?"


Seketika Arnaf ternganga


@@@@


...Hai reader, gimana ceritanya? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....


...Sambil nunggu yang ini up, ngga ada salahnya dong baca cerita lainnya yang tak kalah uwuw, nih ada karya bagus dan romantis sangat....


__ADS_1



__ADS_2