
"Kenapa nasibku begini amat yah?" Keluh seorang perempuan dengan tatapan mata lurus ke depan di sebuah bangku taman.
Perempuan itu sedang merenungi nasib buruk yang menimpanya. Jalan hidup indah yanh selama ini dia anut seketika berbalik menjadi jalan hidup yang penuh dengan duri. Bertahun tahun hidupnya dihabiskan dengan menjadi benalu pada laki laki berduit yang mencari kesenangan diluar rumah tangganya,kini justru nasibnya juga hancur karena laki laki berduit juga hanya dalam hitungan hari.
Citra, dia lah wanita itu. Sebenarnya jika di perhatikan, dia wanita yang cantik dan menarik. tubuh langsing, senyum berlesung pipit, ceria dan mudah bergaul. Karena fisiknya yang nyaris sempurna dia banyak menuai pujian dari mulut para pria. Dan karena sering terlalu mendapat pujian pula dia gunakan kecantikannya untuk melumpuhkan hati pria pria.
Melarikan diri dari kurungan sang suami membuat dirinya merasa lega. Mahendra, laki laki yang menjadi suaminya bisa setega memperlakukan dirinya layaknya manusia tak bermoral. Citra memang tak bermoral namun perlakuan Mahendra akibat dari kesalahan sang istri membuat Citra semakin terlihat tak bermoral lagi.
Bagaiamana bisa ada laki laki yang sedang bergairah, bukannya bermain dengan istrinya namun malah menyuruh asisten rumah tangganya yang memainkan sang istri dan Mahendra hanya menontonnya sambil bersolo ria.
Masih mending yang disuruh bermain cuma satu orang, nah Mahendra memerintahkan lebih dari satu asisten rumah tangga pria yang ada untuk bermain dengan istrinya.
Beruntung saat Citra kabur, dia sudah menyimpan banyak uang selama hidup dengan Mahendra jadi dia bisa gunakan uang itu untuk bertahan hidup sambil memikirkan rencana apa yang akan dilakukannya.
Kembali ke tempat semula, Citra tak mungkin berani. Bisa bisa suruhan Mahendra mencari kesana. Dia saja sekarang bersembunyi di kontrakan tempat kumuh demi menghindari Mahendra.
Di saat pemikiran Citra sedang asyik berkelana, tiba tiba.
"Apa saya boleh ikut duduk di sini nona?" Suara seorang pria mengagetkannya. Dan seketika Citra menoleh.
Sejenak Citra tertegun dengan penampilan pria itu. Tampan masih muda dan dari penampilannya terlihat kalau dia bukan pria dari kalangan biasa.
"Silahkan." Ucap Citra dengan manisnya. Sudah pasti dia akan bersikap ramah dengan pria pria yang dimatanya terlihat kaya.
"Terima kasih." Segera pria itu duduk di samping Citra.
"Anda sendiri saja?" Tanya pria itu.
"Ya, seperti yang anda lihat." Jawab Citra.
"Pasangan anda mana?" Tanya pria itu tiba tiba hingga membuat Citra mengernyit, "Maaf aku.."
"Tidak ada." Jawab Citra dengan wajah sendu. Tentu saja agar pria di sebelahnya bersimpati.
"Oh maaf, kirain sudah ada pasangan. Padahal anda cantik." Ucap pria itu dan senyum seketika terkembang di bibir keduanya.
__ADS_1
"Cantik nggak jadi jaminan pria setia tuan." Ucap Citra terus berusaha mencari simpati.
"Maksudnya? Anda?"
"Ya. Seperti yang anda pikirkan. Suami saya selingkuh. Dan harus berakhir di meja perceraian." Dusta Citra semakin lancar.
"Wah, sayang sekali. Apa mantan suami anda pria bodoh?" Tanya pria itu dan sepertinya dia telah masuk ke dalam perangkap Citra.
"Pria bodoh? maksudnya?" Tanya Citra bingung.
"Hanya pria bodoh yang tega melepas wanita secantik anda nona. Pria bodoh dan tidak tahu diri." Citra yang mendengar penuturan pria di sebelahnya seketika tertawa renyah.
"Entah bodoh atau apa, udah takdirnya, tuan."
"Benar juga." Dan keduanya serentak tertawa bersama.
"Anda tidak mencari pengganti?" Pertanyaan yang sangat ditunggu Citra akhirnya keluar juga.
"Mencari pengganti sudah pasti aku lakukan, tapi aku nggak terlalu berharap sih. Masih trauma, tuan. Takut gagal lagi." Jawab Citra semakin lancar ketika berdusta.
"Apa anda berpikir semua laki laki sama?" Tanya Pria itu menatap wajah Citra sejenak.
"Haha bisa saja, nona. Terus kenapa anda siang siang begini di sini? Apa anda tidak bekerja?"
"Hm, itu masalah yang sedang aku hadapi tuan. Susah sekali mencari pekerjaan. Apa lagi status janda. Malah dipandang gimana gitu. Ingin usaha, modal belum cukup." Kini wajah Citra terlihat sendu kembali.
"Bagaimana kalau anda bekerja di tempat saya?" Tentu saja tawaran pria itu membuat Citra terkejut sekaligus senang. Namun wajah senangnya dia sembunyikan dulu.
"Bekerja di tempat anda? Emang pekerjaan apa tuan?" Tanya Citra terlihat nampak bersemangat.
"Saya mendirikan sebuah rumah produksi film yang bekerja sama dengan perusahaan film negara negara eropa dan amerika. Apa anda punya kemampuan di bidang make up?" Tanya pria itu terlihat serius.
"Tentu saja, tuan. Kebetulan aku suka merias." Jawab Citra antusias.
"Kalau begitu nanti akan saya tempatkan anda di bidang make up artis bagaimana?" Tawar pria itu dan tentu saja Citra tak ingin melewatkan kesempatan itu.
__ADS_1
"Benarkah?" Tanya Citra masih masih nampak tak percaya dengan tawaran pria di sebelahnya.
"Iya, dan seandainya kamu punya bakat akting, saya bisa membantu anda menjadi bintang." Ucap pria itu terlihat begitu meyakinkan. Dan tentu saja Citra sangat tergiur dengan tawaran seperti yang dia dengar.
"Jadi Artis? Wah." Tanya Citra takjub. Pria itu merogoh sakunya dan membuka dompet serta mengambil kartu nama.
"Kalau anda berminat, anda hubungi saya saja. Ini nomer saya." Citra dengan senang hati menerimanya kartu nama yang pria itu berikan.
"Triple X production?" Tanya Citra saat membaca nama kartu nama tersebut.
"Iya. Itu nama perusahaan film milik saya." Jawab Pria itu.
"Kok saya baru dengar?" Tanya Citra yang memang merasa asing dengan rumah produksi tersebut.
"Tentu saja. Karena film yang tim saya produksi tidak di edarkan di negara kita. Saya memasarkan film film saya keluar negeri. Bukankah tadi anda dengar perusahaan saya bekerja sama dengan perusahaan eropa dan amerika?" jelas Pria itu panjang lebar dan tentu saja Citra makin tergiur.
"Wah hebat. Bisa terkenal di luar negeri dong jika main di film anda?" Tanya Citra dan pria itu mengangguk tanpa ragu.
"Baiklah, saya akan segera menghubungi anda." Ucap Citra selanjutnya.
"Saya tunggu kabar baiknya nona cantik." Dan Citra hanya menjawab melalui isyarat.
"Apa hari ini anda sedang tidak bekerja?" Tanya Citra.
"Ngapain saya bekerja kalau saya mempunyai karyawan yang bisa saya andalkan?" Jawab pria itu.
"Wah senangnya. Berarti saat ini anda punya banyak waktu luang yah?" Tanya Citra dan jurus menggodanya mulai dia keluarkan.
"Kenapa? Apa anda juga saat ini punya waktu luang?" Tanya pria itu.
"Ya seperti yang anda lihat. Menjadi pengangguran tentu saja punya waktu luang." Jawab Citra genit.
"Bagaimana kalau kita pergi menghabiskan waktu luang bersama?" Usul sang pria.
"Ide yang bagus." Sambut Citra dengan riang.
__ADS_1
Dan mereka segera saja pergi meninggalkan taman tersebut untuk menghabiskan waktu berdua.
...@@@@@...