
"Arnaf kenapa Sas?" Bisik nenek ketika mereka hendak sarapan. Sang nenek heran melihat wajah Arnaf cemberut pagi ini. Dia terlihat sangat tidak bersemangat menikmati sarapannya.
Sasti pun hanya memandanginya dengan tersenyum penuh arti. Suaminya jika lagi merajuk benar benar menggemaskan.
"Semalam minta jatah nggak Sasti kasih nek." Jawab Sasti turut berbisik pula dan seketika tawa sang nenek pecah hingga membuat yang ada di meja makan merasa heran.
"Astaga, jadi ada yang lagi ngambek karena semalam nggak dikasih jatah?" Ucap nenek sedikit keras dan tentu saja ucapan nenek menarik perhatian semua yag mengitari meja makan. Semua mata tertuju pada sang nenek namun saat nenek melayangkan arah pandangnya kemana semua mengikuti arah pandang nenek dan arah pandang itu tertuju pada pria yang sedang cemberut tak bersemangat menikmati sarapannya. Tawa pun seketika pecah mengiringi acara sarapan di pagi itu.
"Jadi cemberut dari tadi karena nggak dapat jatah semalam?" Bisik Bagus dan tentu saja Arnaf semakin sebal di ledek seperti itu.
Ya. Sejak malam tadi Arnaf mulai mendapatkan hukumannya karena ketahuan bergosip saat mereka di mall. Betapa frustasinya Arnaf semalam merengek bagaikan bayi meminta mainan namun tak tidak dituruti oleh sang istri. Berbagai bujuk rayu dia lakukan namun Sasti tetap teguh pada pendirian.
"akenapa nggak kamu paksa?" Bisik Bagus lagi.
"Gimana mau maksa kalau dia ngancam akan berhenti ngasih jatah ranjang sebulan. Mana aku bisa coba pah." Rajuk Arnaf pada ayahnya.
"Ternyata Sasti tidak seperti mamahmu. Dia mah dibujuk dengan tas mahal aja lagsung mau lepas celana."
Arnaf semakin mendengus ketika papahnya malah menertawainya dan membandingan istrinya dengan sang mamah.
Seusai sarapan Arnaf segera besiap berangkat ke kantor. Wajahnya di tekuk hingga dia masuk ke dalam mobil. Sasti hanya tersenyum dan sesekali menggelengkan kepalanya melihat tingkah menggemaskan dari sang suami.
Sepanjang perjalanan tak ada obrolan yang tercipta diantara keduannya. Arnaf masih setia dengan wajah cemberutnya sedangkan Sasti juga masih setia menikmati wajah cemberut sang suami.
Sakin tak kuasa menahan rasa gemasnya, Sasti melayangkan cubitan di pipi sang suami.
"Aduhh, sakit sayang. apaan sih." Pekik Arnaf dengan nada ketus sembari mengusap pipi yang kena cubit dengan salah satu tangannya.
"Gemesin banget sih kalau lagi ngambek." Lagi lagi Arnaf hanya mencebikan bibirnya.
"Tahu ah, istri nyebelin, lagi semangatt semangatnya bikin anak malah disuruh puasa semingu."
"Hhahha, ya ampun mas, seminggu kan cepet. Ini aja tinggal enam hari." Ledek Sasti dan membuat Arnaf semakin cemberut.
"Nyebelin banget yah, pake ketawa lagi. seneng ya melihat suami menderita?" Sungut Arnaf.
__ADS_1
"Hahha, lucu kamu deh mas, dari dulu kamu kalau merajuk memang tak ada yang berubah ya? makin ganteng." Rayu Sasti.
"Nggak perlu gombal. Pokoknya aku lagi sebel." Ketus Arnaf.
Lagi lagi Sasti hanya tergelak hinga dia sampai ke tempat tujuannya. Sebelum sasti turun dari mobil, Sasti memberi kecupan di pipi sang suami. Tantu saja hati Arnaf terbang melayang namun dia tak mau tunjukkan di depan Sasti. Cukup hatinya saja yang tahu.
"Aku turun yang sayang, kerja yang bener loh, jangan nakal." Ucap Sasti dengan genitnya.
Lagi lagi Arnaf hanya mendengus hingga Sasti turun dan menutup pintu Arnaf masih menekuk wajahnya. Namun setelah mobil itu menjauh, senyum Arnaf terkembang sembari memegangi pipi yang mendapatkan kecupan dari sang istri.
Saat sudah berada di kantor pun Arnaf masih di buat uring uringan. Berkali kali dia menatap kalender dimejanya.
"Satu minggu kenapa lama baget sih?" Gumamnya.
Sang asisten yang bediri di hadapannya pun merasa heran dengann sikap atasannya.
"Tuan lagi ada masalah?" Tanya Tito. Arnaf hanya melirik Tito sejenak. Dia sangat terlihat tidak bersemangat hari ini.
"Iyah nih To, masalah berat." Jawab Arnaf tak bersemangat.
"Bukan, ini lebih mengerikan."
"mengerikan.?" dan arnaf mengangguk.
"Istriku libur ngasih aku jatah ranjang seminggu. Apa nggak mengerikan namanya?" Tito yang awalnya memasang wajah serius, seketika tawanya pecah hingga membuat Arnaf melotot ke arahnya.
"Maaf tuan maaf, kirain mengerikan apaan, ternyata masalah ranjang." Ucap Tito dan dia perlahan meredupkan suara tawanya.
"Ya mengerikan lah To, ntar kalau aku ngga tahan terus ada godaan dari wanita yang disalahkan siapa." Ucap Arnaf membenarkan tingkahnya.
"Jadi tuan punya niat selingkuh?" Terka Arnaf dan tentu saja Arnaf lagi lagi melotot.
"Engak lah, amit amit, inikan seandainya kalau terjadi pada pria lain, bisa jadi kan pria itu malah selingkuh." Terang Arnaf.
"Ya belum tentu tuan, itu mah tergantung laki lakinya saja. Kalau emang hobi selingkuh, mau istri tetap ngasih jatah ranjang pun perselingkuhan itu akan tetap terjadi. Tergantung laki lakinya itu mah tuan." Jawab Tito panjang lebar.
__ADS_1
Arnaf hanya manggut manggutnsembari mencerna perkataan asistennya.
"Terus bagaimana caranya agar hukuman ini tidak terlalu lama To? Sungguh satu minggu tak menyentuh istri sangat nyiksa banget. Padahal aku mah satu sehari sekali aja kuranga." Ucapan Arnaf benar benar membuat Tito melongo.
"Ya tuan cob rayu istri tuan dong, bujuk dia dengan iming iming memberi hadiah hadiah mahal atau apa." Usul Tito.
"Sayangnya istri aku bukan tpe tipe orang seperti itu Tito. Dikasih black card aja jarang make apalagi membeli barang barang mewah dan edisi erbatas, mana mau dia.." Terang Arnaf.
"Ya agak susah sih kalau kaya gitu tuan. Mungkin memang duah nasib tuan harus puasa satu minggu." Ucap Tito yang justru malah membuat Arnaf semakin sebal.
Arnaf menghembuskan nafasnya secara kasar. Sungguh hukuman yang Sasti berikan benar benar meyiksa lahir batin.
"Gini aja tuan, kalau tuan nggak tahan, bagaimana kalau tuan mengikuti cara saya?" Usul Tito dan seketika dahi Arnaf berkerut.
"Caranya bagaimana ?" Tanya Arnaf penasaran.
"Begini tuan..." Tito pun segera memberitahu rencana untuk tuannya. Terlihat Arnaf serius mendengarkan apa yang Tito katakan. Bahkan sesekali senyumnya terkembang dan juga dia j terlihat manggut maanggut.
"Gimana tuan? Baguskan ide saya?" Tanya Tito sembari menaik turunkan alisnya.
"Apa nggak berbahaya?" Tanya Arnaf agak ragu.
"Enggak lah, asal sesuai dengan petunjuk." Jawab Tito meyakinkan.
"Oke deh To. Aku ikutin cara kamu, tapi kamu yang nyari barangnya ya?"
"Siap tuan, gampag itu mah, serahkan semuanya kepada saya."
"Ya sudah aku tunggu, siang ini harus sudah ada. Dudah nggak tahan aku."
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi."
Setelah Tito pergi, Arnaf kembali melamun. Namun kali ini lamunannya melayang tentang rencananya yang baru saja di usulkan oleh asistennya. Senyumnya pun terkembang membayangkan apa yang akan terjadi jika rencananya berhasil.
@@@@@
__ADS_1