MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN

MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN
Di Larang Menanam Benih..


__ADS_3

Terhina. aitulah ungkapan yang sedang dirasakan oleh wanita berusia dua puluh depan tahun. Rasa perih yang mendera tubuh bagian bawahnya seakan menajdi gambaran nyata rasa perih yang menggerogoti hatinya. Tatap matanya kosong menatap langit langit. Rambutnya acak acakan. tubuh polosnya penuh dengan keringat serta semburan benih yang nampak mengering dari pria pria yang telah menuntaskan hasratnya bersamaan. Tanda merah juga membanjiri tubuhnya.


Dia kini terlegelatak sendirian diatas hamparan karpet mahal tanpa busana. Empat pria yang telah menikmatinya pergi begitu saja setelah sang majikan menyuruh berhenti memberi hukuman kepada sang istri yang berbuat curang kepadanya.


Hampir empat jam, tubuh langsing itu dipaksa melayani empat pria dengan hasrat mereka yang begitu tinggi. Hukuman yang tidak pernah dia dapatkan dari lelaki manapun yang telah dia sakiti.


Dan ternyata hukum alam lebih mengerikan daripada hukuman penjara. Dulu dia sangat menikmati setiap laki laki yang lebih memilih menyakiti pasangannya demi wanita seperti dirinya. Dulu dia sangat menikmati setiap permaianan bersama laki laki bodoh yang sanggup dia perdaya. Hasratnya yan terlalu liar menutup hatinya sebagai wanita yang sejatinya lembut dan penuh kasih sayang. Terlalu lama dia asyik bermain dalam permainan penuh dosa.


Hingga dia saat ini, dia harus menemua karmanya. Entah doa dari perempuan mana yang dikabulkan Tuhan hingga wanita itu kini harus hidup sesuai peraturan sang pemilik rumah.


Setiap sang suami ingin menuntaskan hasratnya, sang suami tidak akan mengajaknya bermain ranjang bersamanya. Namun sang suami akan melihat dirinya bermain dengan empat orang mulai saat ini.


Ternyata sang suami mempunyai kelainan terpendam. Dia akan sangat bernafsu jika melihat satu wanita bermain dengan lebih dari dari satu pria. Dan hari ini adalah hari dimana ritual seperti itu akan dimulai di rumah ini.


Mungkin benar kata wanita yang telah menghinanya kalau dirinya memang sudah tidak punya harga diri. Dan sekarang harga dirinya akan terus di injak dengan permainan gila sang suami.


Perlahan dia bangkit dengan tubuh yang terasa sakit. Dia mancoba berdiri dan melangkah gontai menuju kamarnya. Mulai hari ni, dia tidak d ijinkan kemana mana tanpa sepengetahuan sang suami.


Dihempaskan tubuh lelahnya di atas ranjang dan ditariknya sebuah selimut untuk menutupi tubuhnya. Dan di pejamkan matanya, namun tak berapa lama butiran butiran bening mulai terlihat menetes dari sudut matanya. Isakan juga terdengar keluar dari mulutnya. Entah apa arti dari air mata itu, yang pasti wanita itu sedang tersedu karena nasib yang dijalaninya.


Sementara di hari yang sama di tempat lain, seorang laki laki sedang duduk sendiri diantara deretan baju wanita. Salah satu tangannya menopang dagu. Bibirnya sedikit maju, entah karena bosan atau apa, yang pasti diriinya sudah cukup lama menunggu seseorang yang sangat dicintainya saat ini sedang menikmati dunianya sendiri. Seakan akan dia lupa kalau dia datang bersama sang suami.


Disaat masa penantiannya, dari arah samping tiba tiba ada yang bertanya.


"Mas.." suara seorang priaberhasil membuatnya menoleh.


"Eh iya pak?" Jawab Pria bernama Arnaf.


"Nungguin istrinya belanja?" Tanya pria yang usianya terlihat lebih tua.


"Iya pak, bapak sendiri?" Jawab Arnaf.

__ADS_1


"Sama, dan membosankan." Ucap pria itu dengan wajah yang seperrtinya terlihat kesal.


"Membosankan gimana pak?" Tanya Arnaf.


"Wanita kalau sudah belanja, behh, nggak ingat dunia sekitar. Dikiranya yang nungguin nggak cape apa yah?"


Sebelum Arnaf menjawab, dia dikagetkan dengan suara istrinya.


"Mas Arnaf. ini bagusan yang mana?" Tunjuk sang istri dengan memperlihatkan tiga baju dengan model dan warna yang berbeda.


"Yang putih bangus." Tunjuk Arnaf. dan mata sang istri menatap baju warna putih dengan dahi berkerut.


"Apa nanti aku tidak kelihatan gendut pake baju ini? kalau yang biru bagaimana?"


"Bagus juga." Jawab Arnaf singkat.


"Tapi ini kayaknya terlalu pendek, ntar aku nggak nyaman makainya." Mendengar ucapn sang istri membuat Arnaf mengela nafasnya dalam dalam.


"Itu juga bagus." Jawaban Arnaf bukannya membuat istrinya senang malah malah tampak dari raut wajahnya kalau dia cemberut.


"Yang bener yang mana sih mas? jangan buat aku bingung deh." Gerutu Sasti.


"Ya ampun sayang. orang bagus semuanya. audah pilih semuanya aja." Bukannya semakin senang sang istri malah semakin terlihat kesal.


"Gimana sih mas, orang disuruh milihin salah satu, malah dibikin tambah bingung. Dah ah mau mencari yang lain saja." Ucap sang istri sambil berlalu meninggalkan sang suami yang ternganga sambil mengusap dada


Sementara pria di sebelahnya tertawa pelan hinga Arnaf menoleh dengan wajah heran.


"Itulah uniknya wanita mas, membuat kita merasa bersalah padahal kita tidak merasa berbuat salah."


Arnaf mencerna kata kata pria itu dan sejenak kemudian tawanya pecah.

__ADS_1


"Bener pak. Wanita memang makhluk paling susah dipahami."


"Hahha, entah kita yang bodoh karena terlalu cinta sama mereka atau apa mas, tapi pada kenyatannya laki laki selalu salah dimata wanita."


Dan tawankeduanya pun pecah hingga mereka tak sadar istri istri mereka sudah berada di belakang mereka dengan pandangan yang sangat susah diartikan.


"Papih lagi ngomogin mamih?" Seketika tawa mereka terhenti dan pria itu menolej


"Mas Arnaf lagi nggak ngegosipin aku kan?" Tentu saja Arnaf terkejut. Teryata istrinya juga berdiri di belakangnya.


"Kalau nggak suka menemani belanja, ngomong pih?" Ucap istri pria itu dengan wajah sebal.


"Astaga, egngak sayang, papih lagi nggak ngomongin mamih kok, orang lagi ngomong biasa saja. Tanya deh sama mas mas ini."


Sementara orang yang ditunjuk juga merasakan aura aura tak enak begitu dia menatap istrinya. Tatapn sang istri seakan akan menusuk kedua matanya hingga menembus ke jantung.


"Jadi selama ini papih nggak terima? Ngomong kalau ngggak terima?" Ucap istri pria itu terus mencerca suaminya. Bukan hanya pria itu yang mati kutu, Arnaf juga terlihat tak berkutik, padahal sang istri belum mengeluaran jurus omelannya. Dia mash setia dengan tatapn tanpa kedip menusuk mata sang suami.


"Orang lagi ngobrol biasa kok mih, ya mas ya. ngapain ngomongin mamih di belakang. Nggak ada untuungnya." Kilah pria itu.


"Nggak usah ngeles, kaya tukang ojeg aja doyan berkelit. emangnya mamih tuli apa? jelas jelas mamih denger apa yang diucapkan papih." ucap istri pria itu seakan akan dia tak tau sedang menjadi tontonan para pengunjung yang lain.


"Enggak sayang enggak. Serius, mana berani papih ngomongin mamih. Papih kan cinta mati sama mamih dari orok. Udah ya. kita bayar baju yang mamih pilih, mana yuk kita ke kasir yuk." Ucap pria itu mengeluarkan bujuk rayunya kepada sang istri sambil menarik tangannya menuju kasir.


Sementara Arnaf mengusap usap kedua lututnya dan memandang wajah sang istri dengan senyum senyum tak jelas. hingga senyumnya menhilang saat suara sang istri berkata.


"Satu minggu ke depan, tidak ada jatah menanam benih, Oke, deal."


Waduh


@@@@@@@

__ADS_1


__ADS_2