MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN

MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN
Bulan Madu??


__ADS_3

Arnaf dan Sasti seketika saling pandang begitu Ratih mengucapkan kata cucu. Tentu saja keduanya terkejut. Jangankan cucu, mereka saja masih belum pernah membicarakan ke hal yang menjurus kesana. Pernah suatu kali mereka membahasnya ketika nenek meminta, namun saat itu kondisi Arnaf belum sepenuhnya sembuh. Tapi sekarang, kaki Arnaf sudah terlihat baikan, terus jika mereka bertanya, alasan apa lagi yang akan digunakan?


"Jangankan cucu Tih, mereka aja sepertinya belum ada rencana bulan madu." celetuk nenek dan tentu saja wajah keduanya nampak bersemu. Sedangkan para orangtua malah terbahak meski mereka juga merasa aneh.


"Kan Sasti sudah bilang nek, fokus kesembuhan kaki Arnaf dulu." ucap Arnaf berusaha membela istri dan dirinya.


"Nah, sekarang kan sudah sembuh, berarti sudah waktunya dong melaksanakan program kehamilan." Giliran Mia yang bersuara.


Lagi lagi wajah Sasti dan Arnaf bersemu merah. Bahkan keduanya bersamaan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kalian tuh anak anak pertama kita loh, masa ngga kasian sama kita kita yang pengin punya cucu?" Ucap Nagus dan sepertinya dia memang sengaja bertanya seperti itu untuk memberi tekanan kepada Arnaf dan Sasti. biar bagaimanapun dia tahu rumah tangga anaknya bagaimana.


"Iya Naf, nggak mungkin nunggu Arnia nikah kan?" sambung Mia.


"Mamah sama papah apa apaan sih, kan aku sama Sasti perlu membicarakannya dulu." bela Arnaf merasa geram.


"Ya sudah, bicarakan saja sekarang dihadapan kita. Mau bulan madu dimana? buat program kehamilan. Kan sekarang kakimu sudah sembuh. Sudah bisa dong dengan berbagai gaya?" ucap Mia santai dan tentu saja Arnaf dan Sasti membulatkan matanya.


"Mamah ih, ada anak kecil juga." sungut Arnia.


"Eh iya, maaf sayang. Abis mamah gemes sama kakakmu."


Sedangkan Arnaf dan Sasti sesekali saling pandang dan seolah olah mata mereka saling berkata, "bagaimana ini?"


"Apa kamu benar benar tidak pengin punya anak nak?" tanya Ratih tiba tiba ssambil menggenggam tangan putrinya.


"Ibu.." ucap Sasti.


"Kenapa?"


Untuk sesaat Sasti terdiam. dia melirik sekilas sang suami.


"Yang namanya perempuan ya tentu saja ingin punya anak lah bu. Tapi kan lihat kondisi sang suami juga bu. Sasti nggak mau egois." ucap Sasti semampunya.


"Sekarang suami kamu sudah sembuh, terus apa lagi yang ditunggu?"


Sasti terdiam. Dia lagi lagi melirik suaminya berharap suaminya berinisatif menjawab pertanyaan ibunya.


"Nanti kita akan bicarakan kok bu." jawab Arnaf.


"Nah emang harus gitu. Kalian mau bulan madu dimana? biar nanti mamah yang urus.."


"Ya nanti kami bicarakan berdua dulu yah."


Dan semuanya akhirnya pasrah dengan keputusan Arnaf.


Tanpa disengaja dan tak terencanakan, kedua orang tua Sasti dan juga orang tua Arnaf memang menginginkan hubungan anak anaknya benar benar menyatu dalam arti yang sesungguhnya. Mereka berharap dengan hadirnya seorang anak, apa yang dulu pernah hilang diantara mereka bisa bersemi lagi dan terjalin dengan baik.

__ADS_1


"Ya udah biarkan anak anak membicarakannya dulu, yang tua tua ayok kita makan. Sepertinya makanan sudah siap, ayok." ucap nenek dan semuanya menyetujui


dan mereka semua berpinah ke meja makan.


Suasana hangat benar benar tercipta antara keluarga Arnaf dan keluarga Sasti. Mereka memang sudah kenal sejak lama dan juga sudah berpisah lama pula jadi bisa dikatakan mereka sedang melepas rindu sesama kawan lama.


Seusai makan malam mereka berempat pun memilih pergi untuk sekedar jalam jalan cari angin meninggalkan nenek dan anak anak mereka.


Sedangkan yang ditingal memilih beristirahat di kamar masing masing termasuk Lilo. Adik Sasti itu selama PKL di perusahaan kaka iparnya, dia juga di ijinkan tingal dirumah itu.


Agar tidak jenuh, Arnia juga sering mengajak Lilo pergi jalan jalan. Toh mereka juga memang sudah akrab sejak kakak kakak mereka menjalin hubungan dulu.


Sedangkan Sasti dan Arnaf kini berada di kamar dengan perasaan canggung dan tak menentu. Pikiran mereka masih tertuju pada perminataan orangtua yang ingin punya cucu.


Mereka berdua duduk di atas ranjang dan bersandar pada tepi ranjang sambil memainkan ponsel mereka untuk menghilangkan rasa cangung yang melanda.


"Gimana ngomongnya?" batin Sasti.


"Apa aku yang berinisiatif duluan?" batin Arnaf.


Mereka benar benar bergulat dengan suara batinnya.


"Sas.."


"Mas.."


Panggil mereka bebarengan dan mereka malah terkejut sendiri. Sesaat mereka terdiam dan kemudan tergelak.


"Enggak, kamu dulu."


"Mas dulu."


"Kamu dulu Sasti."


"Mas Arnaf dulu ih."


"Baik lah." Arnaf pun mengalah. Mamun seketika dia terdiam. Bingung dengan apa yang mau dia katakan. Sedangakn Sasti tercenung menunggu apa yang akan Arnaf katakan.


Ditungu bebeerapa menit, Arnaf tak bersuara. Malah terlihat dia sedang berpikir.


"Mas.." panggil Sasti dan Arnaf malah kaget.


"Eh iya.."


"Mau ngomong apa sih?"


"Lupa tadi Sas. Maaf, ini lagi dingat ingat."

__ADS_1


"Tentang permintaan orang tua kita?" Arnaf terpaku. Matanya dalam menatap mata istrinya dan dia mengangguk.


"Apa kamu siap?" tanya Arnaf ragu.


"Siap nggak siap memang hal itu harus terjadi kan mas?"


"Iya, aku tahu, tapi aku nggak ingin kita melakukannya karena ada paksaan Sas."


"Mas, jangan mengingat hal yang dulu dulu. Sekarang masalah kita bukan hanya tentang masa lalu, tapi juga masa depan."


"Lah terus apa keputusanmu?"


Sebelum menjawab Sasti beralih posisi. Dengan kaki bersila dan menaruh bantal diatasnya menghadap suaminya.


"Kita tuh sekarang sudah suami istri mas, kita sama sama punya hak dan kewajiban. Dan lagian kita sama sama sudah halal, masa iya kita harus melakukannya dengan keterpaksaan." Jelas Sasti dan Arnaf tertegun


"Berarti kamu sudah siap jika aku minta?"


Wajah Sasti bersemu dan dia langsung berbalik membelakaingi suaminya. Arnaf tersenyum. Bahkan Arnaf melihat sasti menagngguk. Hati Arnaf bersorak namun dia tak ada pergerakan. Firinya masih ragu dan cangung.


"Tapi aku tidak tahu caranya." Seketika Sasti menoleh mendengar penuturan Arnaf.


"Maksudnya?"


"Aku ngga tahu bagaimana cara memulainya, " Mata Sasti membulat.


"Astaga, masa nggak tahu?" tanya Sasti.


"Beneran nggak tahu. "


Entah apa yang Sasti rasakan. Antara ingin ketawa atau miris. Sasti juga belum tahu tapi seenggakknya dimasa mudanya dia pernah nonton film begituan.


"Gini aja deh mas. Mungkin benar usulan mamah, kita bulan madu saja dan kita sama sama belajar. Kalau dirumah kan banyak gangguan?"


Arnaf nampak berpikir sejenak dan dia membenarkan kalau dirumah memang banyak gangguan. Belum soal pekkerjaan dan yang lainnya. dlDengan bulan madu mereka hanya akan fokus pada diri mereka berdua.


"Baiklah kalau menurutmu itu yang terbaik. secepatnya kita bulan madu. Kamu mau kemana?"


"Terserah kamu saja mas, aku ngikut."


"Oke.."


@@@@@


...Hai reader, gimana ceritanya? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....


...Kali ini aku coba kasih visual abang Arnaf deh, dalam khayalanku sih cocok, nggak tahu dalam halunya reader ...

__ADS_1




__ADS_2