
"Geli mas.." Ucap Sasti ketika tengkuk dan pundak serta punggungnya berkali kali dihujani ciuman sang suami. Bukan karena ciumannya yang membuat geli, namun bulu bulu tipis yang tumbuh di dagu sang suami.
Namun ucapan sang istri tak bisa menghentikan hujaman bibir yang Arnaf berikan. Pria itu terlalu bahagia karena ketakutannya akan kehilangan sang istri sirna seketika.
Rasa frustasinya tadi siang benar benar tidak membuatnya sadar kalau jam yang melingkar di tangannya mempunyai banyak fungsi termasuk merekam sesuatu dan itu bisa terkoneksi dengan ponsel.
Karena yang Arnaf pikirkan hanya sang istri. Ketakutannya akan kehilangan istrinya membuat Arnaf tak sanggup berpikir jernih.
"Geli mas ih.." Ucap Sasti berusaha menahan serangan bibir dengan tangannya. Namun Arnaf tak peduli. Dia dengan mudah menyingkirkan tangan Sasti dan terus menciumi punggungnya.
"Kamu dari pulang kerja belum mandi, belum makan loh mas."
"Lah ini aku sedang makan."
"Mas. Geli ih.."
"Loh, salah siapa coba? pulang kerja mas mau ngomong eh malah di ajak enak enak. Ya udah, aku kan cuma menuruti ajakanmu." Ucap Arnaf santai dengan salah satu tangannya memainkan benda kembar sang istri.
"Ya udah sekarang mandi trus makan. Sana.."
"Nggak mau. Mau makan kamu aja. Lagian di luar pada lihatinnya gimana gitu. Nggak percaya banget sama keluarga sendiri."
"Ya udah, mas Arnaf mandi, aku ambilin makanan kalau mas nggak mau keluar."
"Begitu juga boleh."
"Ya sudah tungguin."
Sasti beranjak turun dari ranjang menuju lemari pakaian mengambil baju tidur. Setelah itu dia beranjak keluar mengambil makanan.
Begitu Sasti sampai di meja, semua mata yang di lewati Sasti, menatap Sasti dengan pandangan heran.
"Sas, kamu ambil makanan buat siapa?" Tanya tante Arnaf yang saat itu juga berada di meja makan.
"Buat mas Arnaf tante." Ucap Sasti sembari mengulas senyum.
__ADS_1
"Lah Arnafnya mana? kok dari tadi pulang kerja nggak keluar kamar?" Tanya tante lagi dengan penuh selidik.
"Dia capek tante, makanya minta saya membawa makanannya ke kamar." Ucap Sasti tetap dengan ramahnya.
"Capek apa menghindar?" Sasti hanya mengulas senyum dengan cibiran sang tante.
Setelah cukup mengambil makanan, Sasti segera membawanya menuju kemar.
"Sas Arnaf mana?" Tanya mamah mertuanya begitu Sasti sampai depan kamar.
"Lagi istirahat mah di kamar, kenapa?" Tanya Sasti.
"Kalian nggak apa apa kan? nggak bertengkar?" Tanya Mia. Sudah pasti dia juga mengalami rasa khawatir.
"Kita nggak bertengkar kok. Nih Sasti malah bawain dia makan. Katanya lapar tapi males keluar kamar." Ucap Sasti santai dengan senyum yang tersungging dari bibirnya.
Melihat Sasti baik baik saja, Mia pun merasa lega. Kekhawatirannya sedikit berkurang. Meski esok hari entah apa yang akan terjadi.
"Sasti masuk dulu ya mah, kasian mas Arnaf mungkin dia sudah lapar."
Dan Sasti pun segera masuk.
Di ranjang Arnaf masih terlihat bermalas malasan hanya memakai selimut menutupi tubuh bagian bawahnya sambil memegangi lingerie yang baru saja dipakai istrinya. Dia masih heran saja dengan sikap istrinya dari tadi. Di saat dia dirundung masalah, Sasti malah mengajaknya bermain. Bahkan istrinya memakai baju yang paling Sasti benci.
"Katanya mandi?" Ucap Sasti begitu melihat sang suami masih asyik berada di ranjangnya. Dia meletakkan makanan di meja dekat ranjangnya.
"Ini kamu punya ide darimana sih? kok berani pakai baju kayak gini?" Bukannya menjawab, Arnaf malah balik memberi pertanyaan yang membuat wajah Sasti bersemu merah.
"Biar aku terlihat sexy dan kamu matanya nggak jelalatan lihatin Citra." Ucap Sasti sebal. dia merebut lingerie yang dipegang suaminya kemudian melemparnya ke sembarang arah.
Tentu saja Arnaf kaget sekaligus terbahak dengan apa yang Sasti ucapkan.
"Kamu cemburu?" Tanya Arnaf sambil meraih pinggang Sasti. Istrinya hanya memasang wajah cemberut.
"Hahhah senangnya, sang istri mulai cemburu. Duh makin sayang kalau kaya gini."
__ADS_1
Sasti hanya mendengus. Dia mengambil makanan yang tadi dia bawa dan entah kenapa bukannya memberi makanan itu ke Arnaf, Zasti malah menyendok makanan itu dan menyuapi suaminya.
"Seneng yah satu ruangan berdua dengan cewek seksi." Cibir Sasti dan tentu saja Arnaf jadi semakin tergelak.
"Kan kamu denger sendiri di rekaman tadi. Seneng darimananya coba?" Bela Arnaf sembari menerima suapan demi suapan makanan yang Sasti sodorkan.
"Lagiann lebih seneng sama istri sendiri, lebih bebas kayak gini tanpa takut dosa dan was was." Ucap Arnaf dan tanganya kini membuka kancing baju tidur Sasti hngga benda kembar yang tidak ada penahannya itu terlihat menggantung indah.Arnaf memainkan benda kembar itu sambil terus menerima suapan makanan dari sang istri.
"Terus apa yang akan kamu lakukan besok mas? Jika berita itu menyebar bagaimana?"
"Yang pasti aku juga akan mengambil langkah hukum lah sayang. Toh aku juga punya bukti kuat. Tapi yang penting saat ini, kamu masih percaya sama aku. Aku nggak tahu kalau kepercayaan itu hilang lagi darimu sayang."
Sasti hanya manggut manggut dan dia melanjutkan menyuapi suaminya.
"Aku juga tadinya takut. Jika benar benar kamu bersalah, mungkin ini akan jadi malam terkahir kita. tapi ternyata." Sasti menghentikan ucapannya.
"Makasih, karena bagi aku, kamu yang paling penting. Aku nggak apa apa namaku buruk, asal masih mendapat kepercayaan dari kamu, itu cukup membuatku kuat Sas."
Tak butuh waktu lama, sepiring nasi dan lauk pun habis tanpa sisa. Setelah minum, Arnaf semakin mengencangkan tangannya di pinggang Sasti. mereka terdiam dan hanyut dalam pikiran masing masing.
"Tadi Mas Arnaf kenapa bisa lengah dan kecolongan oleh Citra?" Tanya Sati sembari mengusap punggung tangan suaminya.
"Aku saat itu lagi serius dengan laptopku yang. Aku pikir Citra masih duduk di ujung meja yang lain eh ternyata."
"Makanya lain kali hati hati. Banyak wanita yang menginginkan menjadi posisi seperti saya. contohnya Citra. Dia melakukan segala cara agar terlihat terhormat. Mungkin ke depannya akan banyak bermunculan citra citra yang lainnya."
"Iya, aku tahu. dan semoga ke depannya tidak ada godaan yang akan menghancurkan rumah tangga kita. Aku berharap kita selamanya seperti ini."
Kembali Sasti hanya manggut mangut. Dan sesaat mereka terdiam. Namun diamnya Arnaf kali ini berbeda. Salah satu tangannya menelusup masuk ke dalam celana tidur Sasti. di sana dia mulai memainkan sesuatu yang tersenyumbnyi di dalam celana tersebut. Menggesek, menekan, memijit dengan lembut hingga sang pemlik sesuatu itu mulai merintih.
Tangan Arnaf yang lain juga bermain di benda kembar sang istri secara bergantian. Sentuhan lembut Arnaf membuat sasti melayang tinggi.
"Main lagi ya sayang?" Bisik Arnaf dan Sasti hanya mengangguk dengan perasaan yang sudah melayang tinggi.
@@@@@
__ADS_1