MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN

MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN
Syukurlah..


__ADS_3

"Citra... !" Pekik Sasti dalam hati.


Wanita itu muncul kembali. Entah kebetulan atau sengaja, wanita yang dulu membuat Arnaf berpaling, saat ini berada di tempat yang sama dengn Dirinya. Citra melewatinya. bahkan dia juga melewati ibu dan nenek Arnaf. Sengaja atau tidak, tapi dari kisahnya dulu tidak mungkin Citra tidak mengenali dirinya dan juga dua perempuaan disebelah Sasti.


Kalaupun Citra lupa tentang Sasti itu tak jadi soal baginya. Tapi Citra tidak mungkin melupakan seseorang yang sekarang telah jadi suaminya. Bicara soal suami, Sasti jadi mengingat beberapa waktu lalu Arnaf tidak menjemputnya ditoko Manda. Ditelfon tidak diangkat. Begitu saat Sasti pulang dan menanyakan keberadaan Arnaf ke mamah mertua, katanya Arnaf sudah berangkat menjemputnya. lalu kemana Arnaf? apa dia sudah tahu kehadiran Citra? Tapi sepertinya tidak mungkin? Gumam Sasti dalam pikirannya.


Sasti menghela nafasnya dalam dalam. Dia benci berpikiran buruk. Dia tidak suka menerka nerka yang hanya akan membuat hatinya menjadi ragu. Biarlah dia nanti mencari kejujuran pada suaminya dengan caranya.


Sementara dikediamannya, Arnaf dibuat semakin gusar. Sudah hampir dua jam sang istri tak ada kabar. bahkan dua orang perempuan lainnya tak nampak batang hidungnya. Seluruh asisten ditanya tak ada yang tahu. bagaimana mungkin mereka tahu. Saat sasti baru pukang dan dia baru mau masuk gerbang sudah disongsong mobil yang membawa nenek dan mertuanya.


Sementara wanita paling muda di rumah ini nampak baru pulang dari kuliahnya. Wajahnya yang lusuh dan berantakan memperlihatkan kalau perempuan itu sangat letih.


"Mas Arnaf ngapain disini?" tanya Arnia saat melihat kakaknya duduk di ruang tamu dengan wajah terlihat cemas.


"Nungguin istri mas." jawab Arnaf lesu. Matanya lekat menatap kaca yang mengarah keluar arah datang setiap yang hendak masuk kerumah besar Arsyadi.


"Emang mba Sasti kemana?" tanya Arnia lagi dan dia mendudukan dirinya di sofa sejenak kemudian dia menjatuhkan badannya.


"Tadi pamit ke toko. pas mas jemput kata Manda, Sasti dah pulang. tapi sampai sekarang nggak kelihatan."


Arnia tak merespon perkataan kakaknya. Dia menggeliat meregangkan otot otonya. Namun pikirannya tiba tiba teringat sesuatu.


"Ikut mamah ke salon mungkin.."


"Salon?" Tanya Arnaf menoleh.


"Iya. Tadi pagi mamah sama nenek rencananya mau ke salon. coba dihubungi."


"Kok aku nggak tahu?" tanya Arnaf sembari meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dia langsung mencari kontak mamahnya.


Benar saja. Sasti memang lagi bersama mamah dan nenek. Wajah cemas Arnaf berangsung pudar.


"Gimana?" tanya Arnia menatap kakaknya.


"Iya, lagi di salon. Kirain pergi kemana."


"Mba Sasti kan memang dari dulu jarang keluyuran. Kalau nggak pergi sama mba Manda pasti pergi sama mas Arnaf kan?" dan Arnaf membenarkan ucapan adiknya dengan anggukan.

__ADS_1


Arnia bangkit hendak pergi menuju kamarnya. Namun sebelum melangkah dirinya berucap.


"Jangan mikir macem macem mas. Mba Sasti bukan tipe tipe penghianat."


Arnaf tercekat. dia menatap kepergian Arnia dengan tatapan tak menentu. Dia merutuki pikiran bodohnya. Sempat sempatnya terlintas pemikiran kalau Sasti ada sesuatu dengan Rafiq. Nyatanya itu hanya pemikirannya saja.


Dan tak terasa waktu berlalu terasa cepat. Tiga wanita beda usia itu kini sudah sampai di kediamannya.


"Loh mas Arnaf.." pekik Sasti lirih.


dia terkejut melihat suaminya terlelap disofa ruang tamu. Sasti pun mendekat. Begitu juga Mamah dan nenek.


"Mungki dia dari tadi nungguin Sas?" ujar nenek.


"Kayaknya nek. Padahal kan tadi pas telfon mamah, dia udah tahu Sasti dimana."


"Ya udah kamu bangunin, nanti suruh pindah ke kamar." perintah mamah.


"Baik mah, tapi kayaknya mas Arnaf belum makan."


"Ya nanti kalau bangun suruh makan dulu. untung mamah beli makanan."


Kedua perempuan itu beranjak masuk sedangkan Sasti berjongkok memandang wajah teduh suaminya yang sedang terlelap.


Sebelum membangunkan Arnaf, Sasti menikmati dulu pemandangan di depan matanya. Meski pria itu dulu sangat menyakitii perasaannya, yang namanya hati tetap ada ruang khusus untuk seseorang meski statusnya hanya mantan. Apa lagi keadaan mereka sekarang adalah suami istri. Hubungan yang dulu pernah mereka impikan. Meski kini memang menjadi kenyataan namun belum ada keromtisan sama sekali diantara keduanya.


"Mas.." pangil Sasti pelan, namun tak ada reaksi dari suaminya.


"Mas Arnaf. bangun.." Sasti mecoba lagi sambil menepuk bahu sang suami.


"Eughh..!!" lenguh sang suami seperti orang kaget. Badannya bergerak pelan kekanan dan kekiri. Perlahan Arnaf membuka matanya. Dan seketika dia terlonjak, Sasti ada dihapan wajahnya.


"Sasti? kapan pulang?" tanya Arnaf sambil memegangi kepalanya. Sepertinya karena kaget, kepalanya sedikit pusing.


"Kenapa ngggak langsung tidur di kamar aja mas?" bukannya menjawab, Sasti malah bertanya balik.


"Nggak sengaja tadi. Nungguin kamu." jawab Arnaf. dia menyandarkan tubuhnya yang masih lemas ke sofa.

__ADS_1


"Kan tadi mamah sudah bilang kita lagi di salon. Lagian katanya mau jemput malah ngilang. Ditelfon nggak mau ngangkat."


"Maaf, tadi aku lihat kamu sama Manda seperti sedang sibuk ngomong serius jadi aku mutusin ke rumah sakit sendirian."


"Mas Arnaf kerumah sakit sendirian?" arnaf mengangguk.


"Tapi kok pas ditelfon nggak diangkat?"


"Aku lagi terapi sama Baim, hp aku tinggal dimeja Baim, lupa." bohong Arnaf. Walaupun tidak sepenuhnya bohong karena kenyataannya dia memang berada di rumah sakit.


"Oh, kirain kemana?" ucap Sasti. ada perasaan lega dalam hatinya. Setidaknya Arnaf memang jujur kali ini. Seenggaknya rasa takut juga masih ada dihati Sasti.


"Mas Arnaf sudah makan?" Arnaf menggeleng.


"Ya sudah makan aja dulu. Untung mamah tadi beli makanan." dan Arnaf mengiyakan.


Sasti meraih kursi roda dan meletakkanya menghadap Arnaf. Perlahan Arnaf memindahkan tubuhnya. Sasti takjub dengan perubahan yang dia lihat.


"Kakinya udah kuat mas? kok kaya nggak kesakitan?"


"Iya, apa lagi aku kan minta pihak rumah sakit menyediakan terapis yang benar benar ahli dan kemungkinan aku bisa sembuh lebih cepat."


"Ya syukurlah, jadi kamu nggak kesusahan terus terusan pakai kursi roda." dan mereka berdua kini masuk menuju meja makan.


Sementara di tempat lain tepatnya di sebuah kamar, seorang perempuan sedang duduk didepan meja rias. Matanya tertuju pada foto yang ditampilkan benda pipih ditangannya. Sesekali senyum jahatnya muncul. Nampak sekali dari sorot matanya, Ada begitu besar rasa benci pada seorang pria yang duduk dikursi roda dalam foto tersebut. Dia tidak terima melihat laki laki itu bahagia sedangkan dirinya sejak kecelakaan itu kehilangan segalanya. Dari keluarga bahkan hal yang paling penting dalam hidup wanita yaitu rahimnya. Tidak ada laki laki manapun yang mau memperistri dirinya. Yang mau sama dia hanya para lelaki hidung belang yang bisanya cuma sayang satu malam saja.


"Citra... ! pelangan datang..!" teriak sesorang perempuan dari luar kamarnya. Citra mematikan layar ponselnya dan merias diri bersiap beranjak.


"Arnaf, tunggu saja kehadiranku. aku ingin kamu membayar semuanya." gumamnya disertai seringai licik dari bibirnya. Kemudian dia melenggang pergi menemui pelanggan penikmat tubuhnya.


@@@@@


...Hai reader, gimana ceritanya? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....


...Sambil nunggu yang ini up, ngga ada salahnya dong baca cerita lainnya yang tak kalah uwuw, nih ada karya bagus dan romantis sangat....


__ADS_1



__ADS_2