
Tak terasa dua Minggu sudah pernikahan hambar ini Sasti dan Arnaf jalanin. Selain makan dan terapi, semua kegiatan dilakukan sendiri sendiri termasuk tidur.
Ya. Sudah dua minggu menempati rumah ini Sasti lebih memilih tidur di sofa depan televisi. Memprihatinan memang namun itulah keadaanya. Hati sasti belum siap untuk satu kamar bersama suaminya. Entah ini akan terjadi sampai kapan. Yang pasti kesalahan Arnaf masih menjadi alasan utama jarak itu terbentang panjang meski mereka berdekatan.
Sesak. Itu juga sangat dirasakan arnaf. Sikap Sasti benar benar membuatnya ingin meledak. Meski Sasti tak sedingin dulu namun dia bisa apa. Semua berawal dari dia. Jangankan untuk mengatakan kata cinta, untuk sekadar menyebut nama aja Arnaf sering merasa kecut sendiri.
Dan hari ini mereka sengaja ingin berkunjung ke kediaman utama keluarga besar Arsyadi. Karena sejak menikah dan tinggal terpisah, baik Arnaf maupun keluarganya, tak ada yang saling mengunjungi. Sasti tau apa yang menyebabkan hal itu terjadi, makanya dia berinisiatif mengajak suaminya kesana. Dan kebetulan juga disana ada acara tyasakuran khitan cucu dari tantenya Arnaf.
"Tapi nanti disana mereka mengabaikanmu gimana?" tanya Arnaf saat Sasti mengutarakan maksudnya tadi pagi di meja makan.
"Ya nggak apa apa, mungkin mereka memandang aku salah dulu.."
"Bukan karena itu.." ucap Arnaf sendu.
"Kalau bukan karena itu. terus karena apa lagi?"
"Mereka akan mengabaikanmu karena kamu datang bersamaku. Mungkin mamah papah dan Arnia mau menerima tapi nggak tahu ama yang lain, bahkan karena aku, nenek sampai sakit."
Sasti sedikit tercekat mendengarnya. Ternyata dampak dari kesalahan Arnaf begitu fatal.
"Apa mereka sebenci itu sama kamu?"
"Yah seperti kamu membenciku, begitu juga mereka."
"Tapi kalau mereka tidak kita dekati, bukankah akan semakin memberi jarak? bisa bisa hubungan keluarga putus kalau salah satu tidak ada yang mau mengalah.."
"Hmm, mau bagaimana lagi, semua memang salahku. Mau membela sekuat apapun kalau sudah salah ya tetap salah." sesalnya.
"Apakah separah itu?"
"Ya begitulah Sas, tapi aku bersyukur Sas, seenggaknya kamu mau berbicara sama aku.."
"Bagaimana lagi, rumah seluas ini hanya ada beberapa makhluk.." Arnaf pun mengulum senyum mendengar perkataan Sasti yang menurutnya lucu.
"Sebenernya rumah ini belum jadi, akan ada penambahan penambahan kamar dan ruangan lain.."
"Kenapa nggak di selesaikan sekalian?"
"Dulu pernah berharap, seandainya bertemu sama kamu, aku ingin kamu yang mengatur rumah ini, makanya aku cuma buat satu kamar dulu."
"Sudahlah, mending kita berangkat, mungkin acara tasyakuran cucu tante kamu sudah di mulai.."
"Baiklah, "
Dan meluncurlah mobil yang membawa ke kediaman utama keluarga besar irsyadi.
__ADS_1
Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Arnaf pun sampai. Seperti yang sudah di duga, mereka tak menyambut Arnaf dengan baik. Meski baru mobilnya yang terlihat, mereka tahu itu mobil Arnaf.
Kesalahan Arnaf yang menurut mereka adalah kesalahan yang sangat fatal membuat hampir semua anggota keluarga membencinya. Mereka sangat menjunjung tinggi kesetiaan, makanya jika ada anggota keluarganya berselingkuh sudah dipastikan akan diperlakukan seperti orang asing. Apalagi segelintir kabar juga mereka dengar kalau selingkuhan Arnaf sedang hamil dalam kecelakaan itu. Dan itulah tolak ukur yang menjadi kebencian itu terjadi.
Namun saat mobil itu terbuka, Mata mereka sontak terbelalak saat melihat sosok yang sangat mereka kenal keluar dari mobil bersama Arnaf.
Sasti..!!! Teriak beberapa orang hampir bersamaan. Dan berhamburlah mereka menyambut perempuan yang telah lama menghilang.
"Astaga Sasti, ini bener kamu?"
"Iya tante, siapa lagi.." Jawab Sasti ramah.
"Ya ampun kamu masih cantik nak, kamu kemana aja?"
"Nggak kemana mana tante, yang lain mana tant?"
"Semua ada di halaman belakang, Masuk aja."
Arnaf yang sedang didorong kursi rodanya hanya tersenyum kecut. Istrinya masih dianggap keluarga dan di sambut hangat sedangkan dia. Di sapa pun tidak. Dan saat Sasti sampai dihalaman belakang.
"Lihat siapa yang datang?" Teriak tante itu. dan semuanya menoleh.
"Prasasti.." Sapa mereka terkejut dan bahkan langsung beranjak menyambut kehadirannya.
"Tega banget kamu nak, ninggalin nenek tanpa kabar.." Ucap sang nenek cemberut.
"Maaf, yang penting kan sekarang sasti sudah datang, masa nenek cemberut? ya udah deh Sasti balik lagi.." Ledeknya dan seketika sang nenek tersenyum sumringah.
Arnaf yang terabaikan, hanya tersenyum ngilu melihat apa yang ada di hadapan matanya.
"Nggak ikut gabung kesana Naf?"
merasa ada yang tanya, Arnaf pun menoleh.
"Nggak pah, Arnaf disini saja.."
"Sekarang kamu bisa lihat kan, betapa keluargamu menyayangi Sasti?" Dan arnaf hanya mengangguk.
Arnaf ingat betul, pertama kali Sasti bertemu sama keluarganya, Sasti memang langsung mencuri perhatian, terutama sang nenek. Biasanya nenek orang yang sulit akrab dan butuh waktu yang lama untuk mengambil hatinya. Tapi Sasti, tidak butuh waktu sehari, sang nenek langsung memberinya ruang dihati. Ditambah kebaikan dan sikap sopan yang Sasti tunjukan.
Arnaf pun perlahan mendekati keluarganya meskipun dia tahu pasti akan diabaikan. Tapi dia tak peduli, karena Sasti juga ada disana dikelilingi tante dan om juga saudara serta keponakan keponakan Arnaf.
"Kirain kamu bohong Mia, eh ternyata kamu bener Sasti bersama Arnaf lagi.." Ucap salah satu tante Arnaf.
"Kenapa aku nggak dikasih tahu Mi?" Tanya nenek
__ADS_1
"Maaf bu, takutnya Sasti belum siap ketemu kalian.." jawab sang mertua.
Saat sedang enak enaknya ngobrol dan saling berbagi cerita, tiba tiba
"Sas, kenapa lo mau balik sama Arnaf? lo dijebak yah?" Tanya salah satu sepupu Arnaf yang perempuan.
"Di jebak apaan sih, ih enggaklah.." Ucap Sasti setenang mungkin.
"Ya kali aja lo dijebak? secara dia kan lumpuh? coba kalau nggak lumpuh, pasti lagi bahagia sama wanita keduanya.."
"Nina?" pekik Sasti lirih. Dia menoleh ke arah Arnaf yang tak jauh keberadaannya. Dan pastinya Arnaf pun mendengar sindiran sepupunya itu.
Mendadak suasana pun menjadi canggung.
"Maaf ya Om Tante, bukannya membuka luka lama, tapi kalian nggak kasian sama Sasti? Saat susah malah Arnaf seenaknya menikahi Sasti, dulu pas selingkuh apa dia nggak mikirin perasaan Sasti.."
"Sudah sih Na, jangan rusak acara bahagia ini, toh aku nggak apa apa, buktinya aku baik baik saja." pinta Sasti.
"Kamu memang terlalu baik Sas, pantes Arnaf mencarimu selama ini, mungkin dia tahu kelemahanmu, ya wajar sih, kalian sudah lama berhubungan jadi tau sifat satu sama lain.." Ucap sepupu yang lain.
"Lagian ya Sas, apa kamu nggak...? padahal dulu mereka belum halal? eh kebobolan lagi?" ucap sepupu yang lain lagi. Benar benar terasa pedas dan tanpa pandang keadaan. Pantas Arnaf memilih menyingkir dan menyendiri.
Sasti terdiam, dia menoleh ke arah Arnaf. Dia tahu Arnaf pasti tersudutkan. Dia juga menoleh ke arah mertuanya yang wajahnya pias antara marah dan malu. kemudian Sasti tersenyum.
"Nggak lah." Ucap Sasti membuat semua yang disana terkejut.
"Bahkan perempuan itu, denger denger sampai hamil loh Sas.."
"Aku tahu perempuan itu hamil.."
"Apa?"
"Aku tahu, dan itu bukan perbuatan Arnaf.."
"Haaah..???"
@@@@@
...Hai reader? Bagaimana ceritanya? Seru nggak? makin menarik kan? Jangan lupa dukungannya yah, biar othor makin semanga....
...Selagi nunggu yang ini up, yuk deh simak cerita seru lainnya, seperti cerita baru ini, cek deh kalu nggak percaya...
@@@@@
__ADS_1