
"Aku kan sudah bilang, Itu ponsel bunyi terus coba di angkat, siapa tahu penting, eh malah ngeyel. Gangggu lah ini lah itu lah."
"Iya sayang, ya ampun, udah dong ngomelnya."
"Udah dong, udah dong. orang di omongin kok malah udah udah. Arnia itu adik kamu loh mas, adik kamu! Kalau terjadi apa apa bagaimana? Sedangkan kakaknya cuek banget nggak ada perhatian."
"Iya sayang, udah ya, ini kita lagi pulang kan? Udah, okeh."
"Kalau aku nggak ngecek ponsel juga Mas Arnaf nggak bakalan mau pulang. Nggak ngerti adiknya nggak pulang. Nggak tau ada kabar. Heran. Disuruh ngecek ponsel aja susahnya minta ampun. Lihat kalau ada apa apa sama Arnia, siapa yang akan menyesal?"
"Astaga, iya sayang, maaf."
Dan itulah serentetan omelan Sasti kepada suaminya sepanjang perjalanan pulang. Setelah mendapat kabar kalau Arnia semalam tak pulang, Sasti dan segera saja kembali menuju rumah utama.
Sepanjang perjalanan, Arnaf hanya mengerucutkan bibirnya karena dihujani omelan sang istri yang tiada henti. Ingin marah balik pun Arnaf tidak berani. Toh dalam hal ini dia memang sedang menjadi tersangka. Meski hatinya kesal dimarahi sepanjang jalan, namun dia juga merasa senang Sasti sangat perhatian kepada adiknya. Mungkin karena dulu mereka juga sangat dekat jadi wajar Sasti sangat peduli dengan adik sang suami.
Dan beberapa lama kemudian, tiba lah Arnaf dan Sasti di kediaman utama. Terlihat disana Arnia sudah di kelilingi anggota keluarga yang lainnya. Baim juga nampak duduk di salah satu sofa. Bahkan Fatir pun ikut datang.
"Gimana ceritanya Arnia? Kenapa kamu bisa seceroboh itu?" Tanya Arnaf begitu dia masuk dan duduk di samping adiknya.
"Siapa yang ceroboh. Orang Nia nggak tahu." Bela Arnia.
"Kalau nggak ceroboh, kenapa kamu bisa berada di pesta itu coba? Kenap mau maunya di ajak temen ke tempat kayak gitu? Apa kamu nggak bisa nolak?" Tanya Arnaf terus menyudutkan Arnia.
"Ya ampun mas, kamu kok malah menyalahkan Arnia?" Ucap Sasti heran.
"Bukan menyalahkan Sas, aku kan lagi bertanya." Kilah Arnaf.
"Tapi pertanyaanmu itu seakan akan menuduh adikmu salah besar. Baru kali ini kan Arnia ke pesta temannya di perlakukan begini. Kemarin kemarin juga enggak." Bela Sasti yang memang sudah kesal sama sikap suaminya sejak tadi.
"Iya nih, adik hampir celaka malah di pojokin." Gerutu Arnia.
Sementara yang lain hanya ternganga menyaksikan drama keluarga di hadapan mereka.
"Di tanya baik baik, apa yang terjadi? gimana ceritanya kok bisa kayak gitu? Lah ini, malah nyerocos nggak beraturan. Udah Nia ayok masuk ikut mba. Percuma ngomong sama kakak kamu. Nggak ada gunanya. Awas saja mas, tunggu hukuman dari ku!" Ancam Sasti dan tentu saja Arnaf seketika terkesiap.
"Aduh, kok dihukum sih, Yang? Jangan. Orang aku nggak salah." Ucap Arnaf panik seketika.
__ADS_1
"Bodo amat!" Sasti segera saja menggandeng Arni masuk meninggalkan Arnaf yang wajahnya berubah panik.
"Ya ampun cucuku mau di hukum lagi." Ledek Nenek dan di sambut tawa oleh Bagus dan Mia yang segera masuk mengikuti Sasti. Tentu saja Arnaf semakin tambah kesal.
Baim dan Fatir juga ikutan terpingkal melihat ekspresi sahabatnya.
"Istriku kalau lagi marah mengerikan sekali." Cicit Arnaf.
"Lagian kamu tanya kayak introgasi gitu. Wajarlah mereka kesel." Balas Fatir.
"Eh tapi kenapa kamu bisa ada di sini Tir?" Tanya Arnaf kemudian.
"Inih si Baim yang ngasih kabar dan maksa nyuruh aku kesini. Padahal aku sudah siap siap mau melanjutkan ronde ke tiga sama si Ayunda eh gagal." Geruru Fatir.
"Ayunda? Bintang sabun mandi itu?" Tanya Baim dan Fatir mengangguk.
"Gila!"
"Gak takut kena penyakit kamu Tir?" Tanya Arnaf.
"Aku selalu cek rutin lah Naf. Aku juga gak mau kena penyakit." Jawab Fatir.
"Udah deh, kita disini mau membahas aku apa membahas adikmu?" Ucap Fatir sedikit kesal.
"Ah iya, gimana ceritanya, Im? Kok bisa Arnia ketemu kamu?" Tanya Arnaf yang kini mengalihkan arah pandangnya.
"Jadi begini..." Baim pun menceritakan semuanya tanpa ada tambahan dan pengurangan apapun. Rinci dan jelas hingga kedua sahabatnya pun mengangguk tanda paham.
"Kenapa kamu nggak makan aja Im? Lumayan loh gratisan?" ledek Fatir dan tentu saja kedua sahabatnya langsung melotot dan Fatir hanya mesam mesem tanpa dosa.
"Padahal semalam sempat mencium ininya sih." Ucap Baim sambil menunjuk dadanya.
"Gila kamu!" Bentak Arnaf.
"Kan nggak sengaja. Orang kami terjatuh eh pas bibirku jatuh tepat disana. Coba kalau aku nggak mikir dia adikmu. Udah pasti lah aku makan." Bela Baim dan Arnaf hanya mendengus sebal.
"Mending selidiki deh Naf. Pasti itu perbuatan di sengaja." Usul Fatir.
__ADS_1
"Aku juga mikirnya begitu."
"Kamu tanya baik baik sama Arnia. Mungkin saja ada seseorang yang sakit hati sama dia atau gimana? Nggak mungkin ada kejadian seperti kalau nggak ada sebab." Giliran Baim yang memberi saran.
"Besok deh aku akan nyuruh orang."
Dan keduanya pun setuju. Mereka melanjutkan obrolan ke hal yang lainnya.
Sementara di ruangan berbeda Arnia nampak sudah tenang setelah menceritakan segalanya ke Sasti. Bagi Arnia, kakak iparnya adalah tempat curhat terbaik yang dia punya. Makanya dulu Arnia begitu kecewa saat kakak iparnya menghilang gara gara ulah Arnaf.
Dan waktu pun berlalu. Sesuai rencana, Sasti dan Arnaf pergi untuk memeriksa kesehatan. Terutama tentang kesuburan. Meski mereka merasa sehat tapi usulan Sasti untuk memeriksakan kesehatan juga bagus. Setidaknya entah kabar baik ataupun kabar buruk yang mereka terima nanti, mereka sudah bersiap diri sejak dini dan bisa segera mencari solusi.
Keduanya pun nampak tegang. Setelah melakukan serangkaian tes yang diperintah dokter, kini mereka sedang harap harap cemas duduk di ruang tunggu menanti hasil tes. Berkali kali mereka melirik jam dan berkali kali mereka saling menenangkan satu sama lain.
Hingga tak lama kemudian nama mereka pun di panggil dan sepasang suami istri tersebut segera masuk keruangan dokter.
"Gimana hasilnya dok?" Tanya Arnaf begitu dia duduk di kursi depan meja sang dokter. Arnaf sudah tak sabar menunggu kabar dari sang dokter.
Terlihat disana dokter sedang membaca hasil tes keduanya.
"Semuanya bagus, tidak ada masaalah. Hanya saja mungkin kalian terlalu sibuk ya." Jawaban dokter membuat Sasti dan Arnaf bernafas lega.
"Beneran dok, kita berdua sehat."
"Iya, emang kalian menikah sudah berapa lama?"
"Baru jalan tiga bulan lebih sih dok." Terlihat Arnaf yang paling bersemangat menjawab.
"Berusaha lebih keras lagi ya? Baru tiga bulan belum jadi ya nggak apa apa, nikmati aja dulu waktu berdua dan jangan terlalu stres. Di bikin rileks biar nggak berpengaruh."
"Tuh sayang denger, berusaha lebih keras lagi, jadi nggak ada hukuman hukuman. paham!"
Seketika sang dokter dan Sasti ternganga mendengar ucapan seorang Arnaf.
...@@@@@...
Ada suami modelan kayak Arnaf nggak? hihihii. Hai hai pendukung Arnaf dan Sasti. Makasih ya yang sudah setia mendukung hubungan mereka sampai sini dan makasih juga dukungannya.
__ADS_1
Dan Othor juga ingin memperkenalkan karya pertama othor nih. Seru loh. Cek aja, pasti gemes juga nanti. Bagi yang sudi mampir jangan lupa dukungannya juga ya . Makasih.