MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN

MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN
Lebih Dekat Lagi..


__ADS_3

Semilir angin malam berhembus menelusup melalui celah celah tirai bagian atas. Tidak terlalu dingin namun cukup membuat tubuh sedikit menggigil jika hembusan itu langsung menerpa kulit.


Seorang perempuan terlihat duduk menyendiri di sebuah ruangan di lantai atas dekat dengan kamar yang akan dia gunakan untuk tidur.


Sepertinya ada sesuatu yang sedang dia pikirkan. Berkali kali dia menghembuskan nafasnya secara kasar, bahkan tak jarang pula dia memijit pelipisnya.


Tak jauh dari keberadaanya, disana juga nampak seorang pria yang sedang memperhatikannya. Wajah pria berkursi roda pun tak kalah serius memperhatikan perempuan yang sudah menyandang gelar istri untuknya. Pria itu pun mendekat.


"Sudah malam? kenapa tak tidur?" tanya pria itu dan mungkin suaranya sedikit mengagetkan hingga sang istri nampak terkejut.


"Belum ngantuk mas.." jawabnya setelah tadi menoleh sejenak. Dia kembali memiringkan kepalanya di sisi sofa.


"Apa ada yang kamu pikirkan?" pria itu mendekat dan perlahan berpindah tempat duduk di sofa yang berhadapan dengan istrinya. perempuan itu hanya memperhatikan suaminya.


"Nampaknya kaki kamu sudah banyak kemajuan mas.." sang suami kaget, ternyata istrinya memperhatikannya.


"Iya, alhamdulillah, aku pengin secepatnya sembuh.." jawab sang suami canggung.


"Harusnya dari dulu punya pemikiran seperti itu, kenapa baru sekarang?" ujar Sasti tanpa mengubah posisi duduknya.


"Hehhe, kamu sudah tahu alasannya Sas, dan yah, anggap aja ini hidayah.."


Sasti hanya menggukan kepalanya beberapa kali kemudian dia kembali terdiam meski matanya menatap suaminya.


"Ada apa? sepertinya kamu sedang gelisah?" tanya sang suami yang sedari tadi merasakan sikap beda istrinya.


"Entah lah mas, aku bingung.."


"Bingung" perempuan itu mengangguk.


"Bingung kenapa?" tanya sang suami kembali.


"Nenek sama mamah minta cucu?"


Bluss.


wajah Arnaf merona. hatinya berdegup tak karuan.


"Kamu jawab apa?" tanya Arnaf penasaran.


"Ya aku jawab, mau fokusin nnyembuhin kaki kamu dulu."

__ADS_1


Byuk..


Jawaban yang tidak diharapkan keluar dari bibir istrinya. meski kecewa, Arnaf merasa jawaban istrinya untuk saat ini benar adanya. Mungkin kalau Arnaf tidak lumpuh, justru Sasti bingung harus memakai alasan apa buat menutupi kedaan rumah tangganya.


"Oh, ya bagus kamu punya pemikiran seperti itu.." ucap Arnaf dengan menunjukkan wajah tenangnya seolah olah dia tidak kecewa sama sekali.


Sasti menatap pria yang sedang tersenyum kearahnya. Sasti tahu suaminya pasti kecewa namun Sasti memang benar benarr belum yakin dengan hatinya. Luka itu masih menjadi pengaruh untuk menjaga hatinya agar tak tersakiti lagi.


"Maaf.." ucap Sasti lirih namun masih samar samar terdengar oleh suaminya.


"Maaf? maaf untuk apa?"


"Aku belum..." Sasti menggantung ucapannya dan hal itu membuat arnaf tergelak.


"Nggak apa apa, aku ngerti kok. Aku tidak akan menuntutmu sampai kamu sendiri sudah siap.."


"Terimakasih.." ucap Sasti lega dan Arnaf hanya mengangguk sembarii tetap memperlihatkan senyum tegarnya.


Sejenak suasana menjadi hening.


"Mas.." panggil Sasti membuat Arnaf yang sedang memejamkan matanya sembari bersandar kembali memposisikan duduknya seperti semula.


"Mengapa kamu ingin bunuh diri?"


Degg.


Arnaf tertegun. Dia mengira Sasti sudah lupa hal ini dari kemari malam. Tapi ternyata Sasti menunggu waktu yang tepat untuk bertanya dan inilah saatnya.


"Aku gelap mata" jawab Arnaf dan dia kembali bersandar untuk menghindari tatapan Sasti.


"Saat itu aku kecewa dengan perbuatanku sendiri. dengan mudahnya aku tergoda wanita yang entah kenapa tutur katanya membuat aku nyaman. jujur aku malu pada diriku sendiri. Kamu benar aku bodoh kalau berhubungan dengan hati dan perasaan."


Arnaf menjeda ucapannya. Pikirannya melayang saat dia dengann penuh amarah mengajak Citra mati bersama.


Dia kembali memposisikan duduknya seperti semula dan mencoba menatap Sasti yang terus menatapnya.


"Jika aku tidak membongkar semuanya mungkin sekarang dia sudah menjadi istrimu." ucap Sasti tenang seperti tanpa beban. Padahal dia juga masih merasakan sakit di relung hatinya.


"Belum tentu.." balas Arnaf gamang.


"Kenapa? kamu selingkuh juga pasti menemukan kelebihan yang tidak kamu dapatkan saat masih bersamaku bukan?"

__ADS_1


Arnaf tercekat. Mulutnya terbungkam. Dia ingin mengakhiri obrolan ini namun sepertinya Sasti tak akan melepaskannya begitu saja.


"Aku tahu, dibandingkan dengan Citra, aku bukanlah apa apa. Maka itu aku memilih mundur dan menghilang dari hidupmu.." ucap Sasti.


"Dan aku sedang menjalani hukumanku karena kesalahanku itu." potong Arnaf ketika Sasti hendak melanjutkan kata kata yang pasti akan membuka luka lamanya.


"Benar kata Manda, aku pria yang menjijikkan. Tapi apa aku salah jika aku ingin berubah dan menginginkan kesempatan walau itu kesempatan terakhir? jujur, aku sangat malu, malu sekali. Saat aku tahu dan sadar, Kamu justru melindungiku dari rencana yang Citra siapkan. Maka itu setelah kesembuhanku. Aku memilih tidak mencintai perempuan lagi dan memutuskan memakai kursi roda. Dulu aku mencarimu hanya ingin meminta maaf, karena aku tahu seberapa besar luka yang sudah aku berikan."


Kembali suasana hening tercipta. Yang ada hanya wajah dua orang yang saling memandang.


"Pikiranmu terlaiu sempit mas,.." dan Sasti pun membaringkan tubuhnya di sofa yang sedang dia duduki.


"Apa kamu mau tidur di situ?" tanya Arnaf yang sudah mulai merasa tak enak akibat obrolannya malam ini.


"Tidak, aku hanya ingin rebahan." jawab Sasti yang pasti Arnaf ragu dengan jawaban itu.


"Langsung saja rebahan di kamar. Biar tidur sekalian. ini sudah malam ntar nenek lihat, bisa mikir yang tidak tidak lagi.." dan Sasti nampaknya terpengaruh dengan ucapan suaminya. Dia bangkit dan duduk sejenak, kemudian dia berdiri dan beranjak menuju kamar meninggalkan Arnaf yang sedang menyunggingkan senyum manisnya. Tak lama kemudian Arnaf pun menyusul dan memasuki kamar yang sama.


Sementara itu di tempat lain tepatnya di sebuah kamar. Terlihat seorang pria terkapar diatas ranjang dengan bau alkohol yang sangat menyengat. Matanya terpejam tanda dia sedang tidak sadarkan diri.


Dan disebelahnya juga terbaring perempuan yang tesenyum memandang pria mabuk itu. senyuman itu sepertinya senyuman yang penuh arti.


"Apa kamu mencintai istrinya Arnaf?" gumam perempuann itu sembari mengusap wajah laki laki disebelahnya.


"Kalau kamu mencintainya? mengapa kamu tidak rebut saja dia dan hancurkan pria lumpuh itu? Apa kamu memerlukan bantuanku?" Tanya perempuan itu lagi sembari menurunkan gerakan jarinya ke dada bidang laki laki yang masih terbungkus kaos.


"Baiklah, aku akan membantumu, aku juga nggak rela Arnaf bahagia? dia sudah menghancurkan hidupku eh dia malah berbahagia dengan wanita lain," perempuan itu bermonolog sendiri.


"Setelah malam ini, aku yakin besok kamu akan menuruti semua perintahku dan aku pastikan kamu tak akan mampu menolaknya.."


Entah apa yang direncaanakan perempuan itu. Yang pasti perempuan itu mulai melucuti pakaian pria mabuk itu dan juga pakaiannya.


@@@@@


...Hai reader, gimana ceritanya? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....


...Sambil nunggu yang ini up, ngga ada salahnya dong baca cerita lainnya yang tak kalah uwuw, nih ada karya bagus dan romantis sangat....



__ADS_1


__ADS_2