
Di satu tempat, terlihat seorang pria keluar dari sebuah cafe. Sebelum beranjak sejenak pria itu melihat jam mahal yang melingkar di tanggannya. di sana menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia pun bergegas menuju ke tempat dimana mobilnya terparkir.
Beberapa saat kemudian kini dia sudah berada di depan pintu mobil. Dia segera membuka pintu mobil dan memasukinya. Namun saat dia baru saja mendaratkan badannya di jok mobil, dia di kejutkan oleh seseorang yang menerobos masuk begitu saja ke dalam mobil.
Seketika pria itu langsung menoleh ke arah belakang dan betapa kagetnya dia melihat seorang wanita dalam keadaan panik dam seperti hendak menahan sesuatu dengan perasaan gelisah. Dan pria itu mengenali siapa wanita di dalam mobilnya.
"Arnia!" Pekiknya.
"Mas Baim, cepet tolong, bawa aku dari sini, tolong." Pinta perempuan itu yang ternyata adalah adik dari sahabatnya.
"Apa yang terjadi Ni?" Tanya Baim penasaran karena adiknya Arnaf nampak begitu kacau dan sepertinya dia sedang dalam pengaruh obat. Sebagai dokter dia tahu betul hanya dengan melihat tanda tanda dari tingkah gadis berusia dua puluh tahun itu.
"Ceritanya nanti mas, tolong bawa aku dari sini dulu." Mohon Arnia dengan wajah yang nampak gelisah dan tangan yang selalu mengibas ngibaskan lehernya seperti orang kepanasan.
"Baik baik." Dan mobil pun segera keluar dari area parkir.
Sepanjang perjalanan, Baim terus memperhatikan tingkah adik sahabatnya yang terus menggeliat tak beraturan.
"Sepertinya Arnia minum obat perangsang. Bisa gawat ini. Aku harus segera membawanya pulang." Gumam Baim. Dia segera melajukan mobilnya ke arah rumah Arsyadi.
Perjalanan yang seharusnya lancar kini harus tersendat karena Arnia yang sedang dalam pengaruh obat tiba tiba menyerang Baim dari belakang.
"Mas, tolong aku mas, ini panas sekali, aku nggak tahan. tolong." Rintihnya. Dan gerakan Arnia semakin liar.
Tentu saja fokus Baim menjadi terganggu. Antara menatap ke depan jalanan dan menahan serangan serangan yang di lakukan Arnia.
"Iya Arnia, tolong kamu duduk yang tenang ya, aku akan mengantarmu pulang, oke, tolong jangan seperti ini." Pinta Baim yang tidak tahan dengan perlakuan Arnia yang semakin liar.
Bahkan gadis itu terlihat hendak melepaskan pakaiannnya dan tentu saja Baim sangat terkejut.
__ADS_1
"Nia, tahan! Jangan begitu!" Bentak Baim.
"Tapi aku udah nggak tahan Mas, ini panas sekali dan rasanya nyut nyutan." Jawab Arnia yang nafasnya sudah tak beraturan membuat Baim semakin frustasi.
Semaki paniklah Baim dibuatnya. Jarak rumah Arnia masih lumayan jauh. Tapi jika Arnia dibiarkan seperti ini, lama kelamaan jiwa nakal Baim bangkit. Baim berpikir cepat mencari solusi sambil menahan serangan yang Arnia lakukan.
Bahkan Arnia sekarang sudah berpindah tempat duduknya maka semakin paniklah pria berusia dua puluh tujuh tahun itu.
"Ni, jangan gini dong, ini aku lagi nyetir, nanti kita celaka." Ucap Baim memperingati namun Arnia tak mempedulikannya. Pengaruh obat yang Arnia minum munngkin dosisnya sangat tinggi hingga secara tak sadar Arnia berkali kali menggerayangi tubuh Baim dan bahkan menyerang dengan bibirnya.
"Bener bener ini nggak bisa dibiarkan. Mending aku cari hotel dan nyuruh dia berendam di kamar mandi. Bisa gawat kalau gini terus." Ucap Baim dalam hati.
Tak butuh waktu lama, kini Baim sudah menemukan hotel terdekat dari perjalanannya. Dengan susah payah dan melalui proses yang ada, akhirnya Baim bisa membawa Arnia masuk ke salah satu kamar hotel tersebut.
Pertama yang dia lakukan adalah membaringkan Arnia di atas ranjang, kemudian dia menuju kamar mandi mengisi penuh bak mandi untuk berendam.
Arnia yang memamg hasratnya sudah di ubun ubun seketika langsung berpindah di atas tubuh dokter muda itu.
"Astaga Nia, jangan seperti ini tolong." Pinta Baim yang terus berusaha menahan serangan serangan gadis tersebut. Dia berusaha sekuat tenaga menyingkirkan tubuh Arnia dari atas tubuhnya namun Arnia tetap menyerangnya.
"Aku udah nggak tahan mas, bantu aku, cepat." Rintihnya. Arnia mulai pakaiannya dan tentu saja Baim semakin terkejut dibuatnya.
"Nia, hentikan!" Bentak Baim namun Arnia tak peduli sama sekali. Satu kain sudah terlepas.
Terpampanglah dua benda kembar yang sepertinya tersiksa akibat kain yang menjeratnya. Baim yang baru pertama kali melihat secara langsung benda indah dihadapannya seketika kesulitan menelan ludahnya sendiri. Namun dia terus berusaha menepis pikiran kotornya, karena biar bagaimanapun perempuan ini adalah adiknya Arnaf dan dia wajib menjaganya juga. Dengan segera Baim terpaksa mengangkat tubuh Arnia dan membawanya ke kamar mandi. Namun naas karena terlalu panik dan terburu buru, di tambah serangan serangan yang Arnia lakukan membuat dia fokusnya terbagi. Saking terburu burunya tiba tiba.
Dugg..
"Akhh!" Pekik Baim. Dengan keras kakinya membentur Sisi ranjang yang terbuat dari kayu jati. Tentu saja, keseimbangannya terguncang dan
__ADS_1
Brakk..
Mereka terjaruh kelantai dan posisi Baim diatas tubuh Arnia dengan posisi melintang. Dan sialnya wajah Baim jatuh tepat diatas gundukan kembar yang tak sengaja terlepas dari jeratan kain yang mengingatnya. Entah sejak kapan kain itu berpindah ke daerah perut yang jelas Baim terpana dengan apa yang disentuh wajahnya.
Antara panik dan malu, wajah Baim pun nampak tersipu. Ini pertama kalinya dia menyentuh benda indah seperti itu. Jiwa laki lakinya sangat menikmati kejadian itu. Namun tak lama kemudian dia segera menyadarkan diri kalau wanita itu adalah adik sahabatnya. Dengan susah payah dia mencoba bangkit dan kembali mengangkat tubuh Arnia menuju kamar mandi.
Rintihan san serangan yang dilakukannya benar benar dia tahan setengah mati. Dia juga tak menghiraukan kakinya yang sakit akibat benturan tersebut. Yang dia harus lakukan adalah menyelamatkan kehormatan dirinya dan gadis itu.
Byurr..
Akhirnya Baim berhasil membawa Arnia ke dalam bak mandi.
"Berendamlah disini sampai pengaruh obatnya hilang." Ucapnya dan dia segera keluar dan menutup pintu kamar mandi.
Lega. Itulah yang dirasakan Baim. Dia terduduk di lantai bersandar pintu kamar mandi.
"Gila gila, kenapa Arnia bisa meminum obat seperti itu? apa ada yang mengerjainya?" Gumam Baim. Dia segera bangkit dan menuju tas kerjanya kemudian mengambil ponsel di dalam tas tersebut.
Dinyalakannya benda pipih tersebut dan di carinya nomer sahabatnya dan diapun segera menghubungi nomer tersebut.
Sementara orang yang dihubungi Baim tak peduli dengan nada ponsel yang berdering tak jauh dari keberadaannya. Orang itu lagi asyik memaju mundurkan betutu yang sedang barmain di belahan daging tembem kesukaanya.
"Yang cepat sedikit mas?"
"Iya sayang."
Plok plok plok.
...@@@@@...
__ADS_1