
Sejak kejadian malam itu, hubungan Sasti dan Arnaf memang semakin membaik. Meski belum ada kata cinta dari bibir sang istri, namun dari sikap dan perlakuan yang ditunjukan Sasti selama ini membuktikan dia sudah mulai membuka diri untuk menerima suaminya.
Waktu pun tak terasa berlalu begitu cepat. Dua bulan melakukan terapi di rumah sakit dan di rumah pribadi, kini kaki Arnaf sudah terlihat ada kemajuan. Dia tidak mengunakan kursi roda lagi dan kini dia dibantu tongkat untuk membantunya berjalan. Ditambah lagi Sasti dengan telatennya memberikan pijatan pijatan ringan dikaki suaminya seperti yang dia ketahui dari saran Baim dan juga video video yang dia tonton.
Kini Arnaf sedang berkumpul dengan kedua sahabatnya di kantor Arnaf. Sudah lama mereka tidak bercengkrama bersama karena sibuk dengan urusan masing masing.
"Sepertinya hubungan kamu dengan Sasti sudah membaik Naf?" tanya Fatir. yang tangannya terlihat sedang memegang secangkir kopi.
"Yah seperti yang Baim lihat, gimana hubunganku dengan dia." jawab Arnaf santai. dia pun nampak sedang menyeruput es berwarna merah jambu.
"Baguslah. setidaknya dia sudah mulai percaya kamu kembali."
"Itu yang aku harapkan."
"Udah belh duren belum?"
"Belum lah. dia belum ngajakin." ucap Arnaf lesu tiap kali ditanya tentang malam pertama. Dua bulan menikah dia memang memang belum pernah menyinggung soal malam pertama dengan istrinya.
"Kenapa nggak minta? bukankah itu hak dan kewajiban kalian?" giliran Baim yang bertanya.
"Gimana mau minta. orang dia dulu penginnya lihat aku sembuh"
"Lah, sekarang kan memang sudah sembuh. nggak pake kursi roda lagi. diminta dong?" ucap Fatir bikin panas.
"Urusanku itu, kenapa kamu yang ngotot?" sungut Arnaf.
"Hahah, ya kan kali aja kamu sudah pengin. Baru kamu doang loh naf, berumah tangga tapi belum belah duren."
"Jangan gitu Tir. Ntar Arnaf malah kegoda cewek lain lagi gimana? bukankah dulu Arnaf selingkuh juga pengin ada adegan ranjangnya." Naim ikut bersuara.
"Ah iya, hhahah sorry sorry, cuman ya aku miris aja. Masa nikah udah dua bulanan belum belah duren. Aku aja yang belum nikah udah berapa kali tuh belah duren."
"Kamu mah emang rakus, siapa aja di embat." cibir Baim dan di iyakan oleh Arnaf.
"Loh, tapi kan bukan aku yang minta. Mereka yang nawarin, masa iya aku tolak. rugi dong." ucap Fatir bangga.
ya. Itulah Fatir. Profesinya yang sebagai seorang fotografer kalas atas dan ketampanan yang dimilikinya, mengantarkan dia bertemu dengan perempuan perempuan cantik kelas atas juga dari beberapa model, eksekutif muda dan profesi lainnya. Dimana perempuan itu tak memikirkan hubungan pernikahan yang katanya hanya akan mempersempit geraknya menjadi wanita karir.dan sebagai penyalur hasrat, mereka tak segan segan menjalin cinta satu malam. Mungkin dengan rekan kerja atau siapapun yang memiliki pandangan sama.
__ADS_1
Meski Fatir bukan penganut cinta satu malam dan dia juga menginginkan hidup berumah tangga. Namun sering kali dia mendapatkan ajakan dari beberapa rekan wanitanya hanya untuk menghabiskan malam bersama. Prinsip Fatir, dia yang diminta bukan yang meminta. Dan jika Fatir meminta itu tanda bagi Fatir kalau dia jatuh cinta.
"Kira kira udah berapa orang perempuan yang kamu tidurin Tir." tanya Arnaf.
"Sekitar empat puluh ada kali yah.."
"Banyak bener. semua itu masih snggle apa ada yang sudah nikah?"
"Rata rata sih singgle. tapi ada juga yang sudah berumah tangga dan masih perawan."
"Apa? masih perawan?"
"Iya, aku aja heran. Dulu malah ada yang rela menukar keperawannya asal dia jadi model. Dan yah sekarang dia memang jadi model. Maka itu sejak dia terkenal, dia selalu berusaha memberi jatah ranjang sebagai ucapan terimakasih karena telah menjadikannya terkenal."
"Seneng bener. bagi dong satu biji." ucap Baim.
"Biji, emangnya buah. lagian bukankah yang pengin sama kamu tuh banyak juga ya Im?"
"Tapi aku lebih memilih kaya Arnaf. Mau melakukannya dengan satu wanita saja yaitu istri, iya nggak naf?" dan Arnaf hanya mengangguk disertai gelak tawa.
Sementara dua orang yang sedang asyik mengatur toko barunya juga nampak sedang bercakap cakap serius. Kini Sasti dan Manda sudah mempunyai toko baru. Tokonya lebih luas dan lebih nyaman dan tempatnya juga sangat strategis.
"Ngemil apa?"
"Apa aja deh, yang ada di depan sekolah."
"Oke oke."
Manda segera meraih kunci motor dan beranjak meningalkan toko sebentar. Padahal jarak toko ke komplek sangat dekat dan arahnya lurus tapi biar lebih cepet Manda menggunakan motor pergi kesana.
Tak perlu menunggu lama, Manda sudah membawa begitu banyak cemilan dan juga es.
"Kamu nyidam? tumben minta cemilan?" tanya Manda begitu dia meletakkan jajanan yang dia beli di atas meja dihadapan Sasti.
"Ngidam apaan. belum tersentuh aku"
"Hah.!! kok bisa?"
__ADS_1
"Ya bisa lah, ni buktinya ada didepan kamu." ucap Sasti. tangannya meraih bugkus berisi cimol.
"Kalian nikah udah berapa lama coba? masa belum melakukan? nggak kasian sama suami kamu?" tanya Manda. dia pun meraih satu bungkus makanan berupa siomay.
"Kasian sih, apa lagi dulu dia selingkuh juga salah satunya juga pengin itu. Tapi mau gimana lagi. Dia juga nggak pernah mminta."
"Ya ampun Sasti. mungkin dia nggak minta juga karena nggak enak sama kamu. Apalagi dilihat dari masa lalunya, mungkin dia sudah mikir yang enggak engak."
"Mungkin. tapi biarlah, nunggu dia yang minta duluan."
"Ya ampun, kamu ini, apa kamu nggak mengenal suamimu sendiri? bukankah Arnaf kalau sama kamu jarang banget ada inisiatif? orang ciuman pertama aja kalau bukan kamu yang minta mungkin sampai sekarang kalian ngga pernah ciuman haha."
"Iya yah. kok aku nggak kepikiran kesana yah."
"Nah tuh tahu. Nahkan dia juga nggak pernah bersikap romantis selama pacaran kan?"
"Hhhaha iya benar. Selalu aku yang insiatif"
"Makanya Sas, waktu denger dia selingkuh aku tuh kaget bukan main. Kalau bukan perempuannya yang menggoda, siapa lagi. Nah suami kamu laki laki polos dikasih buaian dan perhatian wanita, ya luluh. Kamu mau kejadian seperti itu terjadi lagi."
"Amit amit deh Man, ya jangan lah, tapi kan semua juga tergantung dia sih kalau saat ini mah."
"Jangan terlalu tergantung sama dia dong Sas. ini juga perlu campur tangan dari kamu. Emang kamu mau pernikahan kamu tuh gagal?"
"Dih amit amit kalau ngomong kamu Man." Sungut Sasti.
"Ya makanya, kasih hak suami kamu. itu kewajiban loh Sas sebagai istri."
"Iya, iya, nanti aku pikirkan, bawel."
Dan entah itu karena takdir atau apa. Sasti dan Arnaf sama sama memikirkan tentang malam pertama di tempat yang berbeda.
@@@@@
...Hai reader, gimana ceritanya? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....
...Sambil nunggu yang ini up, ngga ada salahnya dong baca cerita lainnya yang tak kalah uwuw, nih ada karya bagus dan romantis sangat....
__ADS_1