
Setelah kejadian semalam, dimana sepasang pengantin baru memilih tidur di lantai daripada di ranjang, kini keduanya sedang sibuk dengan kegiatan masing masing.
Sasti sibuk memasukan barang dalam koper, sedangkan Arnaf sibuk memandangi Sasti nyaris tak berkedip.
Tidak ada kata kata mesra layaknya pengantin baru, yang ada hanya saling diam entah mau bicara apa.
Harusnya Arnaf senang, dengan cepat Sasti akan ikut dan tinggal bersama dengannya. Tapi pada kenyataannya, Sasti minta ijin secepatnya pindah kerumah Arnaf karena Sasti tak ingin melukai perasaan orangtuanya jika melihat pernikahan anaknya tidak baik baik saja.
Yang namanya manusia, kalau sudah di cap salah, mau melakukan apapun jadi bingung dan serba salah. Itulah yang dirasakan Arnaf. Dia benar benar bingung sendiri, bagaimana cara memulai komunikasi dengan istrinya.
Semua yang pernah melekat pada Sasti dulu, kini seakan akan telah menguap seiring luka yang pernah Arnaf torehkan. Belum lagi rasa cinta Sasti yang dulu benar benar tercurah hanya untuk Arnaf, mungkin sekarang sudah memudar dengan adanya pria lain yang hampir saja menikahi Sasti.
"Sas.." Ucap Arnaf akhirnya mampu mengeluarkan suara meski ada keraguan.
"Hummm?" Jawab Sasti tanpa menoleh.
"Yakin pindah hari ini??"
"Yah, seperti yang kamu lihat.."
"Kalau masih mau tinggal disini ya enggak apa apa.."
"Bukankah kamu harus kerja??"
"Aku bisa ambil libur.."
"Terserah kamu lah mas, kamu memang selalu berhak mengambil keputusan sendiri.."
Degg..
Arnaf tercengang dengan apa yang barusan dia dengar.
"Apa tidak bisa ngomong baik baik??"
"ngomong baik baik untuk apa? bukankah ujung ujungnya aku yang harus ngalah??"
"Sas.."
"Sudahlah, aku lagi males berdebat."
"Kenapa kamu selalu ngomong kaya gitu sih Sas??"
"Terus aku harus bagaimana? kamu ingin semua orang tahu kalau pernikahan ini tidak baik baik saja? Silahkan? Kalau emang itu mau kamu, oke, kita nggak jadi pergi, biar malu, malu sekalian.."
"Bukan begitu maksud aku, apa kamu nggak mau mendengarkan aku bicara??"
__ADS_1
"Ya sudah cepat ngomong, mau kamu apa??"
Arnaf lagi lagi terhenyak. Sasti dihadapannya bukan Sasti yang dulu. Sasti yang sekarang adalah Sasti yang penuh luka bukan Sasti yang penuh cinta. Tatatapannya penuh kebencian, tak seteduh tatapan gadis manja yang berbinar jika sedang bersamanya dulu.
Perih, itulah yang Arnaf rasakan saat ini. Mungkin perihnya sama dengan yang Sasti rasakan saat perselingkuhannya ketahuan.
Matanya terus terpaku pada sosok yang masih sibuk mengemas barang barangnya. Hinga tak terasa ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
"Sasti.."
"Iya bu.."
"Mertuamu sudah datang tuh.."
"Iya bu, bentar lagi kita keluar.."
"Iya baiklah.."
Setelah suara ibu menghilang, Sasti berdiri mendekat ke arah Arnaf dan dia menyiapkan kursi roda untuk Arnaf.
Tanpa berbicara pun Arnaf mengerti, dia pindah perlahan dari ranjang ke kursi rodanya. Dan Sasti mulai mendorong kursi roda itu keluar kamar.
"Duh pengantin baru, seger bener??" ledek Arnia.
"Apa sih Ni, masih kecil ngomongnya.."
Arnaf dan Sasti cuma tersenyum untuk menutupi gundah dalam hati masing masing.
"Gimana? udah siap?" Tanya Bagus.
"Sudah pah.."
"Baiklah kita berangkat sekarang aja bagaimana? biar nggak kemalaman nyampe kota dan juga males kalau hujan.."
"Terserah papah saja gimana baiknya.."
"Ya udah, nanti ibu panggil Lilo dulu suruh bawa koper.."Ucap Ratih.
Tak lama kemudian semua sudah berkumpul di halaman depan.
Bu, pak, Sasti pamit yah?? bapak jaga kesehatan, kalau ada apa apa kabarin Sasti.."
"Iya nak, maaf bapak nggak bisa ngantar kamu, kamu tau sendiri kan urusan rumah belum seselai, bapak juga harus kontrol.."
"Iya pak, Sasti ngerti kok.."
__ADS_1
"Jaga diri disana nak, jangan melawan suamimu, bersikaplah selayaknya istri. rawat suamimu dengan baik ya nak." Nasehat ibu.
"Doain Sasti ya bu, semoga Sasti bisa.."
Semua yang mendengar, hanya mengamini ucapan Sasti dalam hati. Meski Sasti terkesan menutup nutupi, tapi keluarga Sasti maupun keluarga Arnaf tahu kalau pernikahan anak anaknya tidak seperti pernikahan pada umumnya.
"Arnaf pamit pak, bu.." Ucap Arnaf sambil menyalami kedua mertuanya.
"Hati hati ya nak, semoga kamu lekas sembuh. jaga Sasti, jaga pernikahan kalian baik baik. Jangan sampai masa lalu terulang kembali.." Nasehat Wahyu.
"Iya pak, doain Arnaf ya, semoga tidak menyakiti anak bapak lagi?? Arnaf ngga bisa berjanji karena takut Arnaf mengingkari lagi, tapi Arnaf akan berusaha.."
Sasti tercengang mendengar keduanya. Sasti tidak menyangka orangtuanya tahu cerita pilu masa lalunya dengan pria yang kini sudah sah menjadi suaminya. Mungkin ini salah satu alasan kenapa bapak menyetujui pernikahannya tetap dilangsungkan kemarin.
"Bapak sama ibu kalau mau maen, maen saja, kapanpun rumah kami terbuka untuk kalian.."
"Iya nak Arnaf, pasti kalau ada kesempatan kita maen kesana.."
"Lo, jaga ibu sama bapak, kalau ada apa apa telfon mba??"
"Tenang mba, pasti itu.."
Setelah semuanya berpamitan dengan penuh rasa haru, kini mobil yang membawa pasangan pengantin baru pun mulai melaju.
Arnaf dan Sasti memakai mobil terpisah dengan orangtua Arnaf. Sebenarnya Sasti enggan semobil dengan Arnaf tapi mau bagaimana lagi, dia yang kini berstatus seorang istri mau tak mau dia harus satu mobil dengan Arnaf. Walaupun di depan ada sopir, tetap Sasti masih merasa enggan untuk berduaan dengan Arnaf.
Arnaf sesekali melirik Sasti yang terus menatap ke jendela. Ingin rasanya dia mengajak Sasti berbicara ringan tapi Sasti seperti menaruh benteng yang kokoh hingga Arnaf benar benar tak bisa berbuat apa apa.
Sesampainya di kota, tepatnya di sebuah komplek perumahan elit, Sasti tertegun. Dia paham komplek rumah ini tapi ini bukan jalan yang menuju rumah Arnaf.
Setelah menyusuri jalan perkomplekan, tak lama kemudian mobil berhenti di depan sebuah gerbang yang tingggi menjulang. Sesaat kemudian gerbang itu terbuka. Sasti tercengang dengan rumah yang ada di balik gerbang tadi. Sebenarnya dia banyak yang ingin dia tanyakan tapi dia pikir buat apa.
"Kita tinggal disini hanya berdua.." Ucap Arnaf tiba tiba seakan mengerti apa yang ada dalam pikiran istrinya.
Sementara Sasti menoleh sejenak kemudian kembali lurus menatap depan.
Tak lama mobil pun berhenti dan kedunya turun kemudian Sasti mendorong kursi roda Arnaf menuju ke dalam rumah.
Rumah itu begitu luas namun tak bertingkat hanya ada lantai datar dari ruang ke ruang. Mungkin Arnaf sengaja membuatnya karena dia memakai kursi roda.
"Apa semua ini juga termasuk rencanamu?" Tanya Sasti. Dan tentu saja hal itu membuat Arnaf terkejut.
"Rencana? Rencana apa maksud kamu?"
"Aku tahu semuanya kok, sejak gagalnya pernikahan aku kemarin, sudah aku pastikan kalau semua yang terjadi, ada campur tanganmu dalam drama pernikahan ini.."
__ADS_1
Degggg
@@@@