MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN

MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN
Dingin..


__ADS_3

"Sah..!!!"


Akhirnya kata itu berkumandang dari para tamu yang menyaksikan jalannya pernikahan dadakan sang mempelai pria. Dengan mas kawin sejumlah uang seadanya yang dia bawa.


Demi tak mau nengecewakan sang orangtua dan membuat malu, Sasti pun pasrah menerima keputusan ayah dan menikah dengan orang yang pernah menorehkan luka di hatinya. Apalagi kesaksian keluarga dan dua sahabat Arnaf memberikan keyakinan kalau Arnaf sama sekali belum menikah membuat dia menyetujui pernikahan yang terasa hambar ini.


Sebagai laki laki yang pernah membuat luka dengan perselingkuhan, Arnaf meyakini akan begitu susah untuk meluluhkan hati Sasti, apalagi Sasti dulu pergi begitu saja tanpa ada penjelasan dan permintaan maaf darinya.


"Gila lo Naf, dapat keberanian darimana lo melakukan ini semua?" Tanya Baim, begitu acara nikahan selesai dan semua tamu pada bubar.Arnaf memilih menyingkir agak jauh dari kerumunan keluarganya dan keluarga Sasti berkumpul.


"Entah, mungkin ini keberuntungan gw.."


"Cihh, keberuntungan, tapi bagus sih, seenggaknya Sasti lepas dari laki laki buaya.." Ucap Fatir.


"Ingat bro, Arnaf juga mantan buaya hahha.."


"Sialan kau.."


"Lo sudah siap mental menghadapi amarah Sasti?"


"Siap nggak siap Tir, mau gimana lagi, gw yang salah.."


"Semangat Bro, gw yakin lo bisa."


"Tapi sayang yah naf, lo nggak bisa menikmati malam pertama Hahha.."


"Ahhaha sial kalian, gimana mau malam.pertama kalau lawannya aja ngibarin bendera perang."


"Lagian, apa punya lo bisa berdiri Naf?"


"ngece sampean kisanak, meski gw lumpuh, tapi tidak dengan gada alugara gw, Fungsi tak terkendali."


"Hahhaa jadi nggak bisa bayangin, orang lumpuh kalau lagi main sama istrinya gimana? apa istrinya yang agresif?"


"Paling juga gitu, duh jadi nggak kebayang kalau Arnaf yang main ahhaha.."


"Sial kalian, yang penting kaki gw nggak lumpuh total, begitu Sasti maafin gw, gw akan terapi penyembuhan buat membahagiakan dia termasuk minta hak gw hehhe.."


"Hilllaaahh, sudah direncanakan semuanya toh, astaga.."

__ADS_1


Sementara itu ditempat yang sàma tak jauh dari tiga lelaki itu.


"Akhirnya kita jadi besan Ratih, aku seneng banget.." Ucap Mia penuh rasa syukur.


"Alhamdulillah mba, Arnaf menolong kami dari rasa malu."


"Mungkin mereka masih jodoh, yah walaupun Sasti pasti akan sulit memaafkan Arnaf, tapi mungkin dengan cara ini akan ada jalan buat mereka berdua. "


"Saya sih cuma berharap Gus, anak saya tidak tersakiti lagi, biar bagaimanapun sebagai orang tua saya ngga rido kalau anak saya disakiti.."


"aku ngerti Wahyu, aku juga punya anak perempuan pasti ngerti gimana rasanya. semoga Arnaf tidak melakukan kesalahan lagi.."


"Aamiin.."


Sementara dikamar pengantin, Sasti masih berkutat di hadapan cermin. Dia masih tak percaya kalau hari ini dia sudah resmi menjadi istri dari seorang laki laki yang sudah menghianati cintanya. Laki laki yang dengan mudah mengingkari janji demi tergoda sebuah penampilan dan kelembutan tutur kata dalam memikat lawan jenis. Laki laki brengsek yang sudah susah payah dia hilangkan dalam ingatannya, kini malah menjadi suami sah dan akan selamanya hidup bersama. Segala pemikiran buruk pun seketika tertuju pada laki laki yang sekarang memakai kursi roda. Entah apa yang terjadi sama laki laki yang sekarang menyandang status suami itu. Tapi yang pasti Sasti tidak ada kepercayaan sama sekali. Bahkan rasa cintanya pun sudah dia kubur dalam dalam bersama luka yang laki laki itu berikan. Saat Prasasti sedang berkutat dengan lamunannya tiba tiba ada yang mengetuk pintu kamar.


"Siapa?" Namun hening tak ada jawaban. Sasti pun merasa terusik dan dia bangkit menuju ke arah pintu.


Saat pintu sudah dibuka, dirinya tertegun. Sang suami nampak tersenyum cangnggung ke arahnya.


"Boleh saya masuk?" Tanya Arnaf ragu.


Arnaf pun masuk, dia memandang ke sekeliling kamar pengantin yang sudah di hias sedemikian cantiknya. Kamar yang tak terlalu luas tapi terlihat cukup nyaman dengan kamar mandi ada di dalamnya.


Pandangan Arnaf berhenti pada sosok istrinya. Hatinya berdegup kencang, namun mulutnya seakan terkunci. Tidak ada keberanian membuka suara walau hanya sekedar basa basi.


"Tante Mia masih diluar?" Tanya Sasti memecah kecanggungan diantara mereka.


"Masih.." Jawab Arnaf pelan.


Sasti pun bangkit. dia membuka lemari dan mengambil pakaian yang nampak seperti baru berikut celana, handuk dan perlengkapan pria lainnya.


"Mandilah dulu, aku akan menemui tante mia, apa perlu bantuan?" Tanya Sasti tanpa memandang ke arah Arnaf.


"tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri.."


"Jangan sungkan, biar bagaimanapun aku sekarang istrimu.."


"Maaf, aku..."

__ADS_1


"Mandilah, semoga pakaian ini pas di badan kamu.."


"Sasti..."


"Aku lagi nggak ingin membahas apapun, mas Arnaf mandilah dulu, aku akan menemui tante Mia. jika ada apa apa panggil saja.."


Arnaf pun tak berkata apa apa lagi. Sasti benar benar bersikap dingin padanya saat ini. Dia pun akhirnya mengarahkan kursi roda yang di desain khusus itu ke kamar mandi setelah beberapa saat tadi mengambil peralatan mandinya.


Malam kini telah hadir menemani kehidupan manusia. Bagi kebanyakan pengantin baru, mungkin malam setelah adanya kata sah adalah malam yang paling dinanti, namun tidak bagi pria yang sedang duduk di atas ranjang pengantinnya. Setelah makan malam bersama istri dan keluarga barunya, dia lebih memilih menyendiri di kamarnya bertemankan game di ponselnya, sedangkan sang istri masih nampak sibuk diluar dengan urusannya yang suaminya tidak mengetahuinya.


Setelah cukup lama menunggu, sang istri pun masuk ke dalam kamar. Sang suami segera menghentikan bermain game nya. kecanggungan benar benar terasa di antara mereka berdua. Bahkan sang istri lebih bersikap dingin dari tiga tahun lalu ketika masih menjadi kekasihnya.


"Tidurlah, sudah malam.." Perintah Sasti namun dia nampak sibuk mengambil bantal dan menggelar badcover dilantai sebagai alas. membuat Arnaf mengerutkan keningnya.


"Kamu sedang ngapain?"


Sasti tak menjawab, dia malah mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu meja yang cahayanya tidak terlalu terang.


"Maaf, aku tidak terbiasa tidur dengan lampu yang terlalu terang.." Dan Sasti pun merebahkan tubuhnya di lantai beralaskan bad cover yang dia gelar.


"Sas, naiklah, jangan tidur disitu?" Pinta Arnaf. Tapi Sasti tak bergeming. dia semakin merapatkan selimutnya.


"Sas..."


"Tidurlah mas.."


"Sas..."


"Tidurlah, jangan buat keributan, ngga enak sama bapak dan ibu.."


Arnaf menghela dalam dalam nafasnya. Dadanya benar benar bergemuruh. Dia sadar betul Sasti belum bisa menerima kehadirannya. Apalagi dengan kesalahan yang Arnaf perbuat dulu.


Beberapa saat kemudian, entah dapat keberanian darimana, Arnaf memindahkan tubuhnya ke kursi roda, secara perlahan dia mendekati Sasti. Arnaf pun pelan pelan turun dari kursi rodanya. Dia mendekati Sasti yang posisinya membelakangi. Arnaf pun merebahkan tubuhnya di samping Sasti dan


Grepp..


Arnaf memeluk Sasti dari belakang, Sasti sedikit kaget namun dia diam saja dan pura pura tertidur.


"Maaf, Maafkan aku.." Bisik Arnaf dan Sasti pun meneteskan airmatanya.

__ADS_1


@@@@@


__ADS_2