MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN

MENJERAT CINTA MANTAN TUNANGAN
Cerita Malam Di Atas Ranjang..


__ADS_3

Malam kini menjelang. Beberapa nafas sudah terlelap dalam buaian mimpi dan beberapa nafas juga ada yang masih mengais rejeki di malam hari.


Entah kenapa udara yang tadi siang begitu cerah, namun menjelang malam malah gerimis membasahi bumi. Memang benar seperti yang diberitakan akhir akhir ini cuaca tak pernah bisa diprediksi.


Sama hal nya sebuah hubungan yang terjalin pada sepasang manusia yang sedang berkelana dengan pemikiran masing masing meski mereka kini berada diranjang yang sama.


Mereka memang saat ini berstatus suami istri. Namun hampir sebulan mereka menyandang status tersebut, belum ada tanda tanda cinta bersemi dari salah satu pasangan ini. Meski hubungan mereka semakin hari semakin membaik. Bahkan petengkaran pun sudah jarang terjadi, namun tiada yang tahu mau dibawa kemana hubungan mereka.


Sang peremuan sudah berselimut dengan posisi membelakangi sang suami. Sedangkan suaminya duduk bersandar dengan menatap layar laptop mengecek beberapa pekerjaan dan pastinya sesekali matanya melirik ke arah perempuan di sebelahnya.


"Sas.." panggil sang suami.


"Hum." sahut sang istri.


"Kirain sudah tidur."


"belum, belum ngantuk."


"Apa kamu keganggu dengan suara laptopku?"


"Enggak mas, jangan mikir aneh aneh deh.."


"Hehhe, maaf,.."


Kembali hening mendampingi suami istri tersebut untuk beberapa saat. Sasti yang semula membelakangi suaminya tiba tiba berganti posisi menghadap ke laki laki yang sedang setengah fokus ke laptopnya.


"Mas.." Panggilnya dan Arnaf menoleh.


"Ada apa?"


"Aku pake uang yang di kartu boleh?"


"Buat?"


"Buat bayar toko. Tokonya sempit sedangkan barangnya makin banyak."


"Ya boleh, kan aku sudah pernah bilang, itu nafkahku."


"Ya kan seenggaknya aku ijin dulu, soalnya sekali pake langsung banyak, takutnya kamu gimana gimana gitu."


Jujur saja, dalam hati Arnaf bahagia banget. Meski belum ada kata cinta terucap, Sasti sekarang sudah bisa menghargai status dan keberadaannya.

__ADS_1


"Asal jelas ya aku nggak bakalan marah lah Sas. Jangan lupa, buat Lilo juga." Ucap Arnaf lembut sekali.


"Ah iya, kemarin Lilo chat, dia mencari tempat buat PKL, Lilo boleh PKL di kantormu nggak mas?"


"Emang Lilo sekolahnya jurusan apa?"


"Administrasi perkantoran."


"Ya suruh datang aja, PKL berapa bulan?"


"Katanya sih empat bulan. Besok aku tanyakan lagi deh."


Arnaf hanya manggut manggut dan dia kembali menatap layar laptop.


"Gimana kabar bapak sam ibu Sas?"


"Kata mereka sih sehat. Cuma ya gitu bapak udah nggak boleh kecapean." Ucap Sasti yang kini posisinya telentang.


"Mungkin waktunya bapak istirahat. Kenapa nggak nyari orang aja buat jaga tokonya?"


"Maunya aku sih gitu mas, tapi kamu tahu sendiri kan bapak kaya apa sifatnya."


Lagi lagi Arnaf hanya manggut manggut. Pernah berhubungan sangat lama dengan Sasti, membuat Arnaf tahu keadaan dan sifat dari keluarga istrinya.


Tiba tiba Arnaf sedikit gusar. Dia teringat kejadian tadi siang. Arnaf merilik istrinya yang nampak terdiam namun belum terpejam. Dia menutup laptopnya dan menaruhnya di meja ranjang.


"Tadi aku ketemu Fariq." Ucap Arnaf tiba tiba dan hal itu berhasil menarik perhatian Sasti.


Perempuan itu pun berganti posisi miring menghadap suaminya.


"Kamu ke toko?" Tanya Sasti dan Arnaf mengangguk.


"Setelah pulang terapi, aku pikir kamu masih disitu. Eh taunya udah balik. Aku nggak enak, kamu pasti nungguin."


"Namanya juga udah janjian mas, ya nungguin lah, eh yang ditunggu malah kerumah sakit sendirian." Gerutu Sasti. Tangannya menarik guling dan memeluknya.


"Maka itu begitu selesai terapi aku langsung nyusul. Katanya kamu udah balik." ujar Arnaf.


"Orang mas Arnaf nggak ada kabar, ya udah aku balik. Eh begitu turun dari taksi mobil nenek keluar. Aku tanya mamah, katanya kamu udah berangkat. Ya udah aku ikut nenek sama mamah."


"Hehhe maaf ya." Sesal Arnaf.

__ADS_1


"Fariq ngomong apa sama kamu mas?"


Sebelum menjawab pertanyaan, Arnaf membaringkan badannya terlebih dahulu setelah mematikan lampu utama yang terlalu terang. Kini posisi keduanya berhadapan. Hanya terpisah dua guling.


"Yang pasti intinya ucapan Fariq adalah hinaan untuk aku Sas, apa lagi dia tahu aku nikahin kamu."


"Jangan didengerin. Dari dulu dia memang ucapannya ngga enak kan?" Saran Sasti.


"Nggak masalah, lagian ucapan dia bener kan? Aku yang salah."


"Jangan terus terusan bersikap seperti itu sih mas. Seenggaknya biar kita nyaman satu sama lain. Biarlah orang mau ngomong apa, selama kamu niat berubah ya udah berubah aja."


"Tapi kan jengah juga Sas, kalau kamu yang ngungkit sih oke lah aku maklum, karena kamu yang jalanin. Tapi kalau orang lain. Di pandang buruk terus itu nggak enak loh."


"Ya udah jangan diladenin, yang penting kan niat kamu gimana, kalo emang niat berubah ya jangan terlalu dipikirin."


"Tapi aku takut Sas." Ucap Arnaf, terdengar sendu. Bahkan posisi berbaringnya berubah membelakangi Sasti. Sasti tercengang.


"Takut kenapa?"


"Takut kamu terpengaruh orang lain. Aku merasa cinta Fariq ke kamu masih besar. Aku tahu dimasa lalu aku banyak salah. Tapi apa aku juga nggak berhak punya mimpi dimasa depan kan Sas? mimpi aku terus bersamamu."


Sasti tersenyum. Entah apa arti senyum itu yang pasti dia tahu pria dihadapannya hatinya masih rapuh. Memang semua salah dia, tapi yang membuat dia rapuh, tidak ada yang menguatkan hatinya selama berpisah dari Sasti.


Sementara Arnaf, pikirannya memang masih kalut. Apa lagi berita kembalinya Citra sangat membuatnya terkejut. Arnaf belum memenangkan hati Sasti kembali, dan Arnaf merasa sepertinya akan ada seseorang yang akan kembali menjauhkan dirinya dari sang istri.


Arnaf sebenarnya sudah siap menghadapi kemungkinan terburuk jika Citra berulah. Namun Arnaf belum siap jika Sasti belum yakin akan cinta dan kepercayaan padanya. Cuma dua hal itu yang sangat Arnaf harapkan dari istrinya. Akhir akhir ini Arnaf memang merasakan perubahan sikap pada diri Sasti, namun Arnaf belum merasakan ada cinta di setiap perhatian yang Sasti berikan. Sejatinya Arnaf rindu perhatian Sasti yang penuh cinta, kata kata sayang yang penuh kelembutan. Bukan perhatian karena tanggung jawab seorang istri. Arnaf rindu hal yang hilang dari istrinya meski dia sadar hal itu hilang karena ulahnya. Dan saat Arnaf sedang asyik dengan fikirannya tiba tiba.


Grep..


Arnaf terkejut. Ada tangan yang memeluk pinggangnya. Ada suara yang berkata pelan


"Bermimpilah terus, hingga mimpi itu jadi nyata. Jangan biarkan orang lain mengganggu mimpimu. Dan jangan dengarkan mereka yang berniat melemahkan mimpimu."


@@@@@


...Hai reader, gimana ceritanya? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....


...Sambil nunggu yang ini up, ngga ada salahnya dong baca cerita lainnya yang tak kalah uwuw, nih ada karya bagus dan romantis sangat....


__ADS_1



__ADS_2