
Semua nampak terkejut dengan pertanyaan yang Sasti lontarkan. Bahkan pihak Mahendra langsung melayangkan tatapan tajam. Sedangkan Sasti tetap menunjukkan sikap tenangnya.
Sejujurnya di hati Sasti, ini adalah saat yang tepat untuk menjatuhkan perempuan ular yang duduk diseberang meja. Hatinya benar bena sudah emosi. Selain masalah yang ditimbulkan kemarin dengan sang suami, Sasti juga ingin menumpahkan amarahnya yang sudah dia pendam selama tiga tahun lamanya.
Biar bagaimana pun Sasti juga memiliki jiwa bar bar. Dulu dia diam langsung pergi meninggalkan Arnaf bukan karena dia lemah. Sasti sebenarnya juga ngin melabrak Citra pada saat itu, namun keadaan tidak mendukung. Saat ini perempuan itu malah berulah kembali dan tentu saja ini menjadi momen tyang tepat untuk Sasti menghancurkan perempuan yang merasa paling cantik tersebut.
"Maksud anda apa bertanya seperti itu?" Tanya pengacara tuan Mahendra dengan wajah tenangnya.
"Sudah jelaskan pertanyaan saya? Tuan Mahendra memungut sampah seperti Citra dari pembuangan daerah mana?"
Amarah jelas sekali terlihat dari wajah Mahendra dan Citra. Namun tidak bagi pihak Arnaf. Mereka malah takjub dengan perbuatan perempuan yang duduk disebelah Arnaf. Bahkan secara tidak langsung mereka membiarkan Sasti mengeluarkan unek uneknya.
"Anda jangan lancang nyonya, tolong jaga bicara anda. Anda bisa kami tuntut dengan tuduhan pencemaran nama baik." Ucap pengacara bernama Bambang dengan lantangnya.
"Nama baik? Nama baik siapa yang kalian lindungi? Nama baik perempuan itu?" Tunjuk Sasti. Dan semua yang dikubu Mahendra semakin meradang.
"Tanya sama perempuan itu, apa benar dia masih mempunyai nama baik?" Pertanyaan Sasti benar benar menohok pihak Mahendra. Terutama perempuan yang menjadi tersangka utama. Wajahnya nampak merah padam. Padahal Sasti baru sedikit mengelurkan unek uneknya namun perempuan itu seakan akan telah merasa hancur lebur dengan amarah yang makin membuncah.
"Jaga bicara anda nyonya Arsyadi..!!" kali ini Mahendra yang memberi peringatan.
"Anda seharunya takut, karena suami anda sebentar lagi akan mendekam dipenjara." lanjut Mahendra dengan kobaran amarah yang sangat terlihat.
"Sebelumm anda membuat suami saya mendekam di penjara, tanyakan dulu sama istri anda, berapa istri anda membayar supir anda, tukang kebun anda, dan satpam rumah anda untk memuaskan hasrat istri anda yang tak pernah dia dapat dari anda?" Tanya Sasti lantang tak mau kalah
Mata Mahendra membulat sempurna. Amarahnya kini semakin membahana dan atatapan matanya beralih ke sang istri. Tentu saja nyali sang istri langsung menciut melihat amarah disebelahnya.
__ADS_1
"Jangan percaya perkataanya sayang. dia bohong, dia hanya ingi menghancurkan hubungan kita dan dia sebenarnya takut kalah sayang." Ucap Citra dengan nada yang sudah bergetar karena panik.
"Lagian tuan Mahendra, anda itu orang terhormat, orang yang berpendidikan tinggi, masa iya nggak bisa membedakan wanita baik baik dan tidak. Anda pastu ingat perkenalan anda dengan wanita itu dimana? saya rasa jabatan tinggi anda sebagai seorang pimpinan perusaahan sangat dipertanyakan deh kepintarannya." Cibir Sasti dan tentu saja Arnaf dan yang lain semakin terperangah.
"Istri aku kenapa berani sekali?" Gumam Arnaf namun hatinya tetap bersorak mendukung tindakan Sasti. Bagus dan pengacara Arnaf juga mendukung tindakan Sasti. Mereka memilih diam menyaksikan drama dihadapan mata mereka.
"Silahkan Tuan Mahendra mau menjebloskan suami saya kepenjara. Paling dua tiga tahun doang disana. aapalag mertua saya orang berpengaruh, kayaknya suami saya tidak akan lama medekam di penjara. Itu sih kalau memang suami saya terbukti bersalah. kalau tidak. yang malu siapa kira kira tuan Mahendra?"
Ucapan Sasti benar benar terus memukul ulu hati Mahendra dan juga pengacaranya. Mereka bahkan seperti kehabisan kata kata untuk membungkam mulut perempuan itu.
"Ingat tuan Mahendra, supir anda, satpam rumah anda, dan tukang kebun anda, bisa ikut jadi saksi loh bagaimana mereka ikut menikmati tubuh wanita yang anda ciintai itu."
"Cukupp..!!" Bentak Mahendra.
Tentu saja Sasti tahu. Berasal dari rekaman jam tangan yang dia dapat, Sasti cukup mengolah kata kata yang bisa meyakinkan dan melumpuhkan pihak musuh.
"Apakah anda pikir saya akan percaya dengan ucapan anda? Tidak nonya. saya akan tetap menuntut suami anda dan tentunya penghinaan yang anda lakukan hari ini." Ancam Mahendra.
"Silahkan, tapi anda juga harus bersiap siap menangung malu seumur hidup anda dan yang pasti karena perbuatan anda, perusahaa anda akan merosot dan hancur lembur. Apakah anda yakin disaat anda hancur wanita disebelah anda akan tetap berada disamping anda? aku rasa tidak mungkin." Ucap Sasti dan ucapannya benar benar membuat Mahendra geram bukan main.
"Tuan Bagus Arsyadi. Apakah pantas seorang memantu dari kalangan terhormat. Bisa bertindak memalukan seperti itu." Ucap Mahendra sinis. Sedangkan Bagus hanya tersenyum mendengar penuturan rekan kerjanya.
"Terus lebih memalukan mana dengan istri muda anda tuan Mahendra?" Tanya Bagus santai. Dan tentu saja Mahendra mengerutkan keningnya.
"Menantu saya dan istri anda itu punya dendam lama yang belum tertuntaskan." Dan tentu saja ucapan Bagus semakin membuat Mahendra penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Apa maksud anda?" Tanya Mahendra.
"Jangan didengarkan sayang, paling itu hanya akal akalan mereka saja, supaya kamu nggak jadi menuntut mereka." Ucap Citra berusaha mempengaruhi sang suami.
"Diam.!!" hardik Mahendra dan tentu saja Citra langsung terdiam.
"Kamu punya istri dan anak setia, dengan tak berperasaan membuang mereka demi wanita yang tidak akan pernah memberimu keturunan. Harusnya kamu sadar, saat dia mau kamu tidurin demi uang, saat itu kamu berpikir mana ada wanita baik baik yang mau membuka kakinya untuk laki laki dengan senang hati. Dan sepertinya menantu saya dulu punya beberapa video istrimu dengan pria lain sedang asyik diranjang, tanyakan saja."
"Oh iya, aku masih ada videonya, tuan Mahendra ingin lihat videonya? Bagus loh."
"Dan lagian Mahendra, coba gunakan otak kamu, mana ada pria baik baik memperkosa wanita yang sudah di cicipi berbagai macam laki laki." Kini sang pengacara Arnaf yang berbicara.
Merasa terpojokkan tuan Mahendra menatap tajam istrinya yang nampak ketakutan. Tanpa banyak pertanyaan, Mahendra langsung menarik tangan Citra keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan yang sangat berkecamuk.
"Jika omongan mereka terbukti dan kamu tidur dengan orang orang rumah, maka tamat riwayatmu Citra. Kamu benar benar telah mempermalukanku."
"Sayang itu tidak benar.."
"Diam... !!! Aku akan menyelidikinya."
Disaat Mahendra sedang dalam kondisi amarah yang memuncak tiba tiba ponselnya berbunyi. Dia langsung menghentikan langkahnya dan mengambil ponsel tersebut.
Dia menyalakan layar ponselnya dan saat dia menekan menu chat, ada beberapa kiriman video. Dan saat dia memutar video tersebut matanya langsung membelalak dan amarahnya semakin membara.
@@@@@
__ADS_1