
"Dih, senyum senyum mulu." Ejek seorang wanita pada seorang pria yang sedang menikmati perjalanan pulang setelah konsultasi dokter beberapa saat lalu.
"Kan aku lagi seneng, wajar dong aku senyum terus." Balas sang pria di susul dengan suara tawa.
Bagaimana tidak bahagia. Setelah melakukan tes kesehatan, dokter malah memberi saran yang sangat mendukung semua keinginannya. Apalagi saran dokter bisa menjadi alat untuk mematahkan ancaman sang istri yang suka memberi hukuman. Itu adalah hukuman terberat bagi seorang suami yang sedang semangat semangatnya menghadirkan buah hati.
"Dasar kadal!" Gerutu Sang istri sembari melempar pandanganya ke arah depan. Sementara di kursi sebelahnya suara tawa semakin terdengar menggema.
"Kadal yang suka main di sarang tembem." Ucap sang suami semakin membuat sang istri sebal.
"Apa mas Arnaf nggak bosen? Ngajak main terus?" Tanya sang istri.
"Ya ampun, Sasti! Apa kamu berharap aku bosen bermain dengan istri sendiri?" Arnaf malah bertanya balik.
"Bukan itu maksudku Mas!" Geram Sasti.
"Terus?"
"Tahu, ah, nyebelin!" Mendengar sang istri merajuk, Arnaf malah semakin keras mengeluarkan suara tawanya.
"Aku nggak bakalan bosen lah, Sas. Orang pekerjaan enak kok bosen." Balas Arnaf.
"Iya, enak di kamu."
"Tapi kamu juga keenakan, iyakan?" Ledek Arnaf yang semakin membuat sang istri sebal meski hatinya sangat senang dan mengakui kalau dia selalu menikmati perlakuan sang suami.
"Sayang, kamu nggak ingin gitu menghambur hamburkan uang?" Tanya Arnaf sembari sesekali menoleh ke istrinya.
"Menghambur hamburkan uang gimana?" Tanya Sasti.
"Ya aku kan ngasih kamu black card, kenapa kamu malah nggak menggunakannya sih? Masa saldonya belum berkurang banyak?" Tanya Arnaf heran.
"Menggunakan buat apa? Kalau aku ingin apa apa tinggal bilang sama kamu aja lansgung di kasih." Jawab Sasti.
"Ya masa kamu nggak ingin gitu beli barang mewah, tas mahal, perhiasan atau apa?" Cicit Arnaf.
"Ya ampun, Mas. Kamu kan tahu aku nggak suka beli beli kayak gitu. Beli juga kalau lagi pengin dan butuh doang." Ujar Sasti
Mendengar jawaban sang istri, ada sesuatu yang menghangat di hati Arnaf. Dari dulu wanitanya benar benar tidak berubah. Dulu pas pacaran, meski Sasti tahu Arnaf anak orang kaya, jarang banget Sasti meminta sesuatu yang berlebihan. Dia lebih suka makan atau sekedar jalan jalan biasa yang tidak pernah menghabiskan uang berjuta juta.
__ADS_1
"Kita kemana dulu nih, Yang? Nyari makan atau belanja?" Tanya Arnaf.
"Loh, kita kan mau kembali ke rumah utama?" Ucap Sasti heran.
"Nggak, kita kembali ke rumah kita. Ingat kata dokter, kita harus sering menikmati waktu berdua." Balas Arnaf dengan sengum liciknya.
"Dih, maunya. Ya udah nyari makan dulu lah. Lapar." Pinta Sasti.
"Mau makan apa?"
"Seafood aja deh." Dan Arnaf pun menurutinya.
Segera mobil dilajukan mencari restoran seafood.
Sementara itu di sebuah toko di hari yang sama.
"Sasti nggak berangkat?" Tanya seorang pria yang tiba tiba saja sudah berada di depan wanita yang sedang fokus membaca pembukuan. Seketika wanita itu mendongak sejenak dan kembali menunduk.
"Akhir pekan ya dia nggak bakalan datang. Kenapa? Kangen?" Tanya wanita itu dan seorang pria di hadapannya malah terkekeh.
"Iya. Kangen sama yang sedang fokus menghadapi buku." Jawab pria itu dan wanita di hadapannya hanya mendengus sebal.
"Nggak percaya?" Tanya pria itu lagi dan dia melangkah mengitari meja dan
"Fariq!" Pekik wanita itu seketika dia kaget ketika tangan sang pria melingkar di pinggangnya.
"Kenapa? Orang beneran kangen?" Tanya Fariq.
"Ntar ada yang lihat. Nggak enak." Jawab wanita itu.
"Nggak enak sama orang lihat apa takut ketahuan Sasti? Tanya Fariq dan tentu saja wanita itu tak bisa langaung menjawabnya.
"Kenapa? Kamu masih ragu kalau aku tulus sama kamu, Man?" Tanya Fariq lagi.
"Bukan gitu." Jawab Manda bingung.
"Terus?" Desak pria itu.
Manda terdiam. Di sisi lain dia memang mencintai pria yang baru saja jadi kekasihnya beberapa hari. Namun dia juga takut kalau pria itu hanya menjadikan dia pelarian saja. Karena biar bagaimanapun Manda tahu betapa Fariq sangat mengharapkan sahabatnya.
__ADS_1
"Aku tahu kamu masih ragu, Man. Wajar. Tapi apa kamu tidak bisa mencoba percaya sedikitpun tentang perasaanku?" Tanya Fariq yang kini meletakkan dagunya di pundak wanitanya.
"Maaf. Aku hanya.." Jawab Manda terpotong. Dia juga bingung mau ngomong apa.
"Jangan khawatir. Aku akan menunggumu sampai kamu benar benar percaya sama aku. Tapi tolong, jangan terlalu lama dalam keraguan, Man. Aku juga punya hati yang bisa saja lelah menunggu yang tak pasti dan memilih pergi." Ucap Rafiq sendu.
Manda tetap terdiam.Hatinya berdekup kencang dan hening melanda diantara mereka.
Sementara di tempat lain. Tepatnya di sebuah hotel. Terlihat sepasang manusia baru menuntaskan geloranya. Keduanya nampak tersenyum senang meski hubungan itu bukan hubungan berdasarkan cinta.
"Sepertinya kamu jarang di sentuh ya, Cit?" Tanya sang pria pada seorang wanita di sebelahnya.
"Kenapa?" Tanya Citra.
"Masih sempit." Jawab pria itu.
"Ya kamu rasakan sendiri tadi kan Ndre." Ucap Citra pada laki laki bernama Andre.
"Bagus dong. Aku suka banget. Aset itu. Di jaga yah?" Pinta Andre dan tentu saja Citra mengiyakan.
"Tapi kamu benar kan, Ndre? Akan menjadikanku Artis di perusahaanmu?" Tanya Citra yang kini menggeser tubuhnya pindah di dada bidang lelaki di sampingnya.
"Pasti dong. Tapi kamu harus ingat, kamu harus mau melayaniku setiap aku ingin." Ucap Andre.
"Iya dong pasti. Kapan? Sekarang?" Tawar Citra.
"Ntar dulu. Coba kamu sekarang berdiri dihadapanku." Perintah Andre dan Citrapun menurutinya.
Kini mata Andre nampak fokus meneliti keindahan yang dimiliki Citra. Sesekali jari jarinya memijit di beberapa bagian membuat si pemilik keindahan merintih nikmat.
"Kapan terakhir ini di pakai?" Tanya Andre yang masih sibuk memijit keindahan milik Citra.
"Setahun yang lalu." Dustanya.
Padahal Citra selalu melakukan terapi sendiri untuk merawat apa yang menjadi aset berharga termasuk yang sekarang sedang di sentuh Andre.
Terapi itu dia dapatkan dari seorang tukang pijat yang sering melayani wanita wanita malam. Awalnya Citra hanya menjadi pasien namun karena rasa penasarannya tinggi dan juga ada tujuan lain lagi, jadi Citra memutuskan belajar memijat dari sang tukang.
Dan hasilnya memang tidak sia sia. Meski beberapa waktu kemarin sering di pakai dengan beberapa pria secara paksa, namun dia beruntung keahlian memijitnya dapat mengurangi kelonggaran miliknya jadi selalu terkesan masih sempit.
__ADS_1
"Bener bener barang bagus dan permainannya sangat memuaskan. Sebelum ku jadikan artis mending aku puas puasin dulu main sama Citra." Ucap Andre dalam hati diiringi seringai jahatnya.
...@@@@@...