
Suasana canggung menelusup direlung tiga insan yang mengitari meja dalam sebuah toko. Pria satu satunya diantara mereka itu selalu mencari cari kesempatan untuk berinteraksi dengan salah satu wanita tanpa peduli dengan sorotan tajam wanita lain yang ada diantara mereka.
"Kamu nggak ada kerjaan apa Rik? jam segini keluyuran?" Tanya Manda ketus. terlihat jelas sekali kalau dia tak menyulai kedatangan pria yang sedang tebar pesona pada sahabatnya.
"Ya ampun Man, kayak nggak tahu aku aja kamu tuh, kerjaku santai lah." Jawab Fariq tanpa melepas tatapannya pada perempuan bersuami disebelahnya.
"Sas, suami kamu mana? katanya mau jemput?" pertanyaan Manda yang terkesan sengaja mendapat cebikan dari pria dihadapannya.
"Iya nih, tadi sih bilang udah mau jalan. Ntar ya aku coba telfon lagi.."Ucap Sasti dan dia beranjak agak menjauh dari Manda dan Fariq.
Sementara orang yang di telfon Sasti membiarkan ponselnya berdering tanpa berniat mengangkatnya. Padahal dia tahu istrinya menelfon tapi rasa cemburu yang membakar hati membuat dia membiarkannya membuat sahabatnya yang merangkap sebagi dokter merasa terganggu.
"Kenapa nggak kamu angkat telfonnya?" Tanya Baim. Ya saat ini Arnaf lagi menemui Baim dirumah sakit. Awal rencana dia akan kerumah sakit bareng Sasti, namun rencana itu dia batalkan sendiri begitu melihat Sasti bersama laki laki lain ditokonya.
"Biarin aja." Jawwab Arnaf ketus.
"Kekanakan.." Cibir Baim.
"Aku apa dia yang kekanakan?" Tanya Arnaf tak terima.
"Kamu lah, baru aja lihat, langsung mikir yang nggak nggak.."
"Mikir yang nggak nggak gimana? Udah jelas jelas itu nyata. Kalau dia ada rasa sama Fariq ya ngomong lah, nggak perlu sembunyi sembunyi kaya gitu." Ujar Arnaf emosi.
"Kamu nyadar nggak sih sama tuduhan kamu?" Tanya Baim yang nampaknya juga mulai jengah dengan sikap sahabatnya.
"Sadar lah, sadar sesadar sadarnya.."
"Kamu nuduh Sasti kayak gitu karena kamu sendiri juga pernah diam diam ketemuan sama Citra dibelakang Sasti, iya?"
"Apa maksudmu? ini nggak ada hubungannya dengan masa lalu."
"Tentu ada...!!" Bentak Baim.
"Kamu sadar dong, kalau kamu sudah jelas dan bahkan sangat jelas kamu selingkuh dan hendak menyingkirkan Sasti. tapi sekarang, karena perbuatanmu dimasa lalu, kamu berpikiran Sasti akan membalasnya. Keterlaluan kamu nggak?"
Arnaf terkesiap. Seketika mulutnya terbungkam. Hanya tatap tajamnya dia alihkan kesembarang arah.
"Kalau Sasti hendak membalasmu? ngapain dia repot repot menghilang? ngapain dia membantumu untuk sembuh? Pikir pake otak, kamu yang pernah selingkuh dan kamu mau mencari pembenaran dengan menuduh Sasti? Bagaimana kalau dia tahu hal ini? Apa dia nggak akan semakin membentengi diri membuka hatinya buat kamu? Pikir..!!!"
__ADS_1
Arnaf terperanjat. Selain bentakan Baim yang mengagetkan, ucapannya juga benar. dia benar benar meraa begitu bodoh, hanya karena cemburu langsung berpikir tak rasional.
"Bertindaklah bodoh semaumu, maka kau siap siap aja kehilangan kesempatan memilikinya lagi." peringat Baim dan dia langsung pergi.
Menyadari kesalahannya, Arnaf segera meraih ponselnya dan mencari kontak istrinya namun saat dia melakukan panggilan tak ada sambutan dari ujung sana. Arnaf langsung keluar ruangan Baim memanggil sopirnya yang menunggu di depan ruangan itu dan bergegas menuju mobil kembali ke toko lama milik istri dan sahabatnya.
Arnaf tidak melihat keberadaan istrinya setelah sampai ditempat yang dia dituju. Disana hanya ada sahabatnya dan laki laki yang sejak dulu mengejar cinta istrinya. Dengan bantuan supir, Arnaf mendekati mereka.
"Loh, Arnaf? nyari Sasti?" tanya Manda begitu melihat Arnaf muncul ke dlam tokonya.
"Iya, dia kemana?" tanya Arnaf. Matanya hanya lurus menatap Manda. Dia tak menghiraukan tatapan pria yang tak jauh dari keberadaanya.
"Bukankah dari tadi dia menghubungi kamu?"
"Iya aku tahu, tadi aku dijalan, toh kita emang udah rencana mau ke dokter bareng." bohong Arnaf.
"Yakin tuh lagi di jalan? atau jangan jangan lagi.." tiba tiba Fariq menyela membuat Arnaf dan Manda menoleh seketika dengan tatapan penuh tanya.
"Maksudmu apa?" tanya Arnaf berusaha biasa saja.
"Ya kali aja kamu tadi ngga dijalan. Bisa aja lagi di cafe atau.."
"Kamu jangan bikin keruh suasana deh Riq."
"Loh, aku mah cuma nebak. bukankah cewek selingkuhan pria ini udah kembali di kota ini?"
"Apa?" tanya Arnaf dan Manda bersamaan.
"Iya, Citra kembali. Kembali dengan membawa cintanya untukmu."
Degg.
Arnaf terperangah, begitu juga Manda.
"Jangan bohong kamu Riq?" tanya Manda nggak percaya.
"Tanya aja tuh sama pemilik bar langgananku."
Pikiran Arnaf menjadi tak karuan. Tadi dia berpikiran buruk tentang Sasti. Sekarang dia sendiri yang ketakutan Sasti berpikir buruk tentang dirinya. Apalagi tadi Arnaf melihat Sasti duduk bersama Fariq. dia takut Fariq sudah meracuni pikiran Sasti.
__ADS_1
"Hati hati kamu Naf. Citra akan membuat perhitungan sama kamu." tukas Fariq dan dia melenggang pergi.
"Jangan dengerin ucapan Fariq Naf. rese banget jadi orang."
"Tapi seenggaknya aku harus waspada kan Man? jika memang bener Citra kembali, aku harus berbuat sesuatu. Aku nggak mau Sasti lepas lagi dari tanganku."
"Ya tergantung kamu itu mah. Sekarang Sasti mungkin sudah pulang. Tadi dia khawatir karena kamu di telfon nggak diangkat angkat. apalagi tadi Fariq datang. makin nggak nyaman lah dia."
Degg.
hati Arnaf mencelos. Sasti tidak janjian bertemu Fariq seperti yang dia pikirkan. Bahkan dia juga tahu Sasti tak nyaman berada disekitar Fariq. Benar benar rasa bersalah kembali menggelayut di hati Arnaf.
"Ya sudah Man, mending aku pulang. mungkin Sasti sudah dirumah. Tapi dia pergi naik apa?"
"Naik taksi Naf."
"Oh, ya sudah, aku pulang dulu Man, makasih ya?"
"Ya.."
Arnaf kembali menuju mobilnya yang terparkir di depan toko. Dan tak perlu waktu lama mobil itupun bergerak menuju rumahnya.
Begitu sampi rumah, orang yang pertama dicarinya adalah Sasti. Arnaf berkeliling ke setiap sudut namun tak ada siapapun dirumah itu. Arnaf benar benaf dibuat gelisah. Dia kembali mengambil ponselnya namun tetap tak ada jawaban. Pikiran Arnaf kacau dan segala kemungkinan muncul dalam pikiran tersebut.
Di saat Arnaf sedang kacau karena tidak menemukan sang istri, disaat itu pula sang istri sedang tertawa ria bersama dua perempuan lain disebuah salon. Sasti di ajak nenek dan mamah mertuanya ke salon untuk memanjakan diri. Tentu saja dia tidiak menolak. Apalagi Arnaf juga pergi entah kemana hingga dia sengaja mematikan ponselnya.
Kini ketiganya sedang duduk di tempat tunggu giliran. Karena salon langganan sang mamah sedang terlihat ramai.
Disaat mereka asyik bercanda tiba tiba mata Sasti menangkap sosok yang sangat dia kenal. Matanya membulat. Dia adalah sosok yang telah membuat hati Arnaf berpaling. dan kini wanita itu ada dihadapannya.
"Citra ... !"
@@@@@@
...Hai reader, gimana ceritanya? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....
...Sambil nunggu yang ini up, ngga ada salahnya dong baca cerita lainnya yang tak kalah uwuw, nih ada karya bagus dan romantis sangat....
__ADS_1