
Kini Arnaf terlihat menyendiri diruang kerjanya. Matanya menatap fokus ke arah layar benda tipis berukuran 10 inci itu.
Meski raganya ada diruang kerja namun pikirannya melayang ke sosok wanita yang sekarang menyandang status istri dari Arnaf Arsyadi. Apa lagi jika teringat peertanyaan sang papah. Arnaf benar benar dibuat kecut dan terkenang kebodohannya.
"Masih ada niat mau mengganti Sasti dengan wanita lain?" pertanyaan sang papah tadi pagi yang mengingatkan dirinya pada kejadian perselingkuhan itu. Dulu dia selalu berkata kepada sang selingkuhan akan segera mengakhiri hubungannya dengan Sasti. Bukan hanya berkata, namun itu seperti sebuah janji. Namun kenyataanya sang selinngkuhan malah berusaha menjebaknya . Bahkan begitu tahu kaki Arnaf lumpuh, sang selingkuhan dengan enaknya mengejek dan menghina dia kalau lumpuhnya Arnaf adalah karma dari ingkarnya sebuah janji.
Dan sepertinya memang benar. Arnaf menuai karma. Janji janji yang pernah dia kumandangan saat masih bersama Sasti, runtuh seketika saat dia menghadirkan sosok wanita bernama Citra. Bahkan dia pun dengan lantang mengumadangkan janji yang pastinya membuat perempuan terbuai dengan manisnya sebuh kata yang disebut janji itu. Namun sayang lagi lagi janji itu dia runtuhkan saat mengetahui fakta yang sebenarnya dari wanita yang membuatnya berpaling dari wanita setia.
"Lihat, bahkan Sasti memikirkan hal sekecil itu demi kesembuhan kamu..." Tunjuk sang papah pagi tadi. Dan itu memang benar. Akhir akhir ini Sasti lebih perhatian. Meski hati Sasti masih tertutup rapat yang berhubungan dengan cinta. Dan Arnaf tahu semata mata itu hanya sebagai tanggung jawab Sasti menjadi seorang Istri.
"Apa kamu kesulitan meraih hatinya kembali?" Tanya sang nenek saat melihat raut wajah cucunya agak murung.
"Susah nek. Hati Sasti sudah beku. Walaupun dia perhatian ke Arnaf, tapi Arnaf tahu itu bukan perhatian yang penuh cinta. nggak seperti dulu.." Sesalnya
"Sebegitunya Sasti perhatian sama kamu ya nak?"
"Iya mah. dari dulu Sasti memang selalu perhatian. Aku aja yang bodoh." lagi lagi wajah sesal Arnaf tunjukkan. Dan matanya tak lelah menatap sang istri yang sedang bercengkrama dengan seorang tukang.
"Maka itu nak, gunakan kesempatan ini sebaik baiknya, jangan sampai kamu bertindak bodoh lagi.."
"Itu yang sedang aku usahakan mah, beruntung aja bapak mengijinkan aku menikahi anaknya kemarin. Coba kalau nggak diijinin, bakalan susah mendektai dia."
"Mas Arnaf... !" teriak Sasti dan tangannya memberi isayarat agar Arnaf mendekat. tanpa pikir panjang Arnaf menggerakan kursi rodanya ke arah Sasti berada.
"Gimana? cocok nggak?" tanya Sasti menunjukkan hasil idenya yang sudah selesai.
"Cocoklah, bukankah kamu tahu aku dari dulu suka apapun yang kamu lakukan?"
"Ciih gombal. Kalau dari dulu suka apapun nggak mungkin ada perselingkuhan."
Skak.
Arnaf terbungkam. Niat hati ingin merayu Sasti namun dengan mudahnya Sasti mematahkan semangatnya.
"Coba sini.." ajak Sasti..
"Sekarang?" tanya Arnaf tak percaya.
"Tahun depan. yang sekarang lah. ayo cepet, sini biar aku yang pegangin."
Arnaf pun pasrah. toh ini juga salah satu usaha agar Arnaf bisa semakin dekat dengan istrinya.
__ADS_1
Sasti memegangi lengan Arnaf yang mencoba berdiri. Arnaf sedikit meringis.
"Sakit?" tanya Sasti panik.
"Sedikit. tapi nggak apa apa, ayo teruskan."
Perlahan Arnaf meletakkan kedua tangannya pada kayu yang membentang di sebalah kiri dan kanannya. Sasti berjaga jaga di depannya. Sementara anggota keluarga yang lain tersenyum memandangi kerja sama anak dan menantu mereka.
Arnaf mulai perlahan melangkahkan kakinya.
"Masih sakit ngak?" tanya Sasti was was sembari perlahan mundur karena Arnaf juga semakin maju.
"Nggak terlalu, nggak kaya kemarin kemarin. ini malah buat napak udah terasa geli." ucap Arnaf yang memang sengaja melepas sandalnya.
"Syukurlah,.."
Arnaf semakin maju hingga dia kini berada diujung batang kayu. Dengan arahan Sasti, perlahan Arnaf menutar badannya untuk berbalik Arnaf.dan dia kembali melangkah perlahan ketempat semula
Itulah kegiatan Arnaf pagi tadi. Senyumnya kadang kadang tersungging ketika teringat Sasti yang berkali kali menahan tubuhnya saat dia goyah.
Kini matanya kembali mencoba fokus ke pekerjaan yang sedang dia lakukan. Sedangkan sang istri sudah memohon ijin pergi ke toko Manda.
"Maka itu kita butuh tempat baru Sas, tuh digudang yang belum terpajang pun banyak. Nggak ada tempat.." Keluh Manda
"Ya udah kita cari aja, apa kamu ada pandangan mau dimana?"
"Penginnya pindah kesitu tuh." Tunjuk Manda dan Sasti mengikuti arah yang ditunjukan sahabatnya.
Ternyata itu sebuah kios besar berantai dua dan memang tempatnya sangat strategis.
"Tapi biaya sewanya mahal banget.." sambungnya.
"Cuma bisa disewa apa?" Tanya Sasti dan dia beranjak melangkah keluar mengamati kios seberang yang ditunjuk Manda.
"Dibeli juga bisa sih Sas, tapi kan mahal euy, sewa aja belum tentu kita mampu.."
"Ya beli aja sekalian kalau gitu.." Ucap Sasti yakin namun Manda malah melongo.
"Jangan becanda kamu."
"Lah, siapa yang bercanda?" Sasti kembali mendekat dan duduk dikursi seperti tadi. Dia membuka tas dan mengambil dompetnya dan mengeluarkan salah satu isi dompet itu.
__ADS_1
"Pakai ini.."
Seketika mata Manda membulat melihat benda tipis yang terkenal dengan sebutan blackcard
"Gila, kamu dapat ginian dari mana Sas?" Tanya Manda
"Dari suamiku lah, siapa lagi."
"Ceileh, suami, sudah baikan bu?" Ledek Manda.
"Udah jangan banyak omong, cepat hubungi orang yang bertanggung jawab jaul beli gedung itu."
"Ini kamu serius? Ntar Arnaf marah lagi?"
"Aku udah ijin, tenang aja.."
Saat mereka sedang asyik berdebat soal kartu, tiba tiba.
"Sasti.!!" Sapa seseorang dan mereka berdua menoleh.
"Eh Fariq?" Ucap Sasti gugup. Fariq melenggang masuk. dia menarik kursi agak mendekat ke perempuan yang telah lama dia kagumi.
Sasti yang tahu hal itu tentu saja merasa canggung. Dulu laki laki ini selelu menyatakan perasaannya, namun Sasti dengan halus menolaknya. Dan setelah lama tak berjumpa, kini pria itu malah duduk disebelahnya.
Manda yang melihat kelakuan Fariq pun merasa jengah. Padahal Fariq sudah tahu kalau Sasti sudah menikah tapi sikapnya malah menunjukkan kalau dia terlihat masa bodo dengan status perempuan disebelahnya.
Sementara tak jauh dari sana, ada seseorang yang tangannya terkepal dengan wajah penuh amarah. Niat hati ingin menjemput sang istri namun tak disangka dia melihat sang istri duduk bersebelahan dengan laki laki yang tentu saja Arnaf tahu siapa laki laki itu.
Berbagai pemikiran pun bermunculan dalam benaknya. Dengan menahan amarah dia menyuruh sang sopir meninggalkan tempat tersebut.
"Apa kamu akan membalas sakit hatimu dulu Sas?" Gumamnya terasa sesak.
@@@@
...Hai reader, gimana ceritanya? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....
...Sambil nunggu yang ini up, ngga ada salahnya dong baca cerita lainnya yang tak kalah uwuw, nih ada karya bagus dan romantis sangat....
__ADS_1