
Di luar hujan beranjak semakin deras hingga udara menjadi begitu dingin. Mungkin karena sekitar Villa itu adalah sebuah hutan dan perbukitan hingga menyebabkan udara menjadi terasa begitu dingin. Namun, hal itu berbanding terbalik dengan apa yang terjadu di dalam sebuah Villa.Hawa panas sungguh sangat terasa di salah satu ruangan Villa tersebut. Di sana di dekat sebuah kaca jendela dalam sebuah ruangan yang cukup luas terdabat sofa putih yang sudah beralih fungsi seperti layaknya tempat tidur dengan sepasang suami istri yang sedang bergulat dalam gelora asmara yang membara. Belaian, sentuhan dan kecupan mengalir deras menyerang setiap bagian tubuh perempuan dalam kungkungan raga pria di atasnya.
Dengan lembut sang suami memberi sentuhan melalui bibirnya dari pucuk kepala terus turun perlahan hingga bibir itu jatuh pada dua benda kenyal yang terkenal sebagai kemasan air susu yang tak akan pernah ada tanggal kadaluarsanya. Terlihat disana mulut Arnaf begitu rakus menikmati dua benda kenyal berwana coklat muda yang sungguh indah bertahta di tubuh atas istrinya. Dan tentu saja pemilik dua benda itu menggeliat liat tak beraturan dan bahkan kedua tangannya menekan kepala belakang sang suami semakin tenggelam dalam dua benda cantik yang bergelayut menantang lawannya.
Setelah cukup puas bermain main dengan pembungkus air susu, Kini Arnaf bangkit dan perlahan memindahkan dirinya berada diantara dua kaki istrinya.
Mata sayu mereka saling memandang. Arnaf tersenyum. Perlahan tangannya mengusap perut rata sang istri hingga berhenti di tepi celana yang membungkus tubuh sang istri bagian bawah. Tangannya bergerak menuju pengait kain yang menjerat tubuh bagian bawah sang istri. Dengan sekali tarik, lepaslah dua helai kain yang sudah menutupi sesuatu yang indah dan tersembunyi di tubuh Sasti.
Arnaf menatap kecantikan lain yang disembunyikan sang istri darinya. Kecantikan sebuah gundukan mirip pipi tembem seorang anak kecil dan ditengahnya ada belahan sebagai pintu masuk khusus.
"Benar benar Indah.." gumamnya.
Arnaf menatap kembali sang istri namun jari jarinya perlahan menyentuh belahan daging tembem dan membelainya lembut. Daging tembem itu nampak merekah dengan hiasan berupa rambut halus yang sepertinya sudah dirapikan sang pemilik daging.
Basah. Itulah yang Arrnaf rasakan. Benda itu terasa basah saat jari jari tangan Arnaf mengusap lembut semua permukaan dan menelusup jarinya kedalam. Kadang sang suami juga menekan nekan gundukan itu dan memberi pijatan lembut agar sang istri lebih santai. Gundukan berwarna merah muda itu nampak begitu indah dengan bulu halus yang bertahta disekitarnya.
Terlihat di sana sang istri makin menggeliat saat jari jari Arnaf terus membelai, menekan dan memijat daging tembem milik istrinya yang telah banjir oleh siraman hasrat yang sangat membara.
Setelah merasa puas, Arnaf berdiri dan dia segera melepas bagian terakhir pembungkus tubuhnya.
Sasti yang sedang larut dalam indahnya gelora asmara seketika matanya melihat benda yang tegang menantang milik sang suami. Benda yang sebnetar lagi akan menembus batas kesuciannya sungguh membuat Sasti semakin terbakar.
Arnaf kembali menurunkan badannya dan perlahan merangkak mengungkung tubuh istrinya. Kembali sang istri disentuh dengan bibirnya. Sementara di bawah sana benda yang lebih pantas disebut ikan betutu besar sedang menempel dan menggesek gesek daging tembem yang terbelah.
__ADS_1
"Sudah siap sayang?" bisik Arnaf lembut. Sasti menatap manik mata suaminya dan dia menganguk.
Arnaf kembali menghujani tubuh sang istri dengan ciuman dari atas hingga ke perut. Kini posisi Arnaf adalah berlutut di antara kaki sang istri yang sudah membentang.
Ada rasa khawatir dalam diri Arnaf. Karena dari yang dia dengar, Wanita akan sangat kesakitan jika pertama kali kesuciannya di terobos. Namun melihat keadaan sang istri yang nampaknya sudah siap dan pasrah, Arnaf pun meyakinkann dirinya kalau dia bisa.
Diraihnya ikan betutu besar miliknya dan diarah kepala betutu itu ke bibir pintu daging tembem. Sesuai interupsi dari ilmu yang Arnaf dapat, Sebelum betutu itu, Arnaf mengusap bibir pintu daging tembem dengan kepala Ikan betutu yang sudah menegang semakin kuat.
Setelah merasa cukup perkenalannya, kepala ikan betutu itu mulai Arnaf masukan perlahan memasuki sarang barunya. perlahan dan perlahan hingga kepala betutu itu semakin tenggelam dan.
"Aaakkhhhh..!!" Sasti teriak begitu keras. Arnaf terkejut. Matanya langsung menatap istrinya yang kesakitan. Namun dia tidak mengeluarkan kepala betutu itu dari sarangnya.
"Sakit yang?" Tanya Arnaf dan Sasti mengangguk. Sejenak permainan terjeda.
Arnaf dan Sasti sama sama terdiam dengan posisi kepala betutu yang masih tertahan setangah badan di sarang sang istri.
Arnaf tahu sang istri kesakitan namun Sasti malah menuyuruhnya meneruskan jangan berhenti dan pastinya Arnaf sangat senang menyambut hal itu.
Setelah seluruh badan betutu itu masuk, Arnaf perlahan menggerakkan pinggangnya maju mundur sembari matanya tak lepas memandang wajah sang istri yang masih meringis menahan sakit.
Hingga beberapa menit berlalu kesakitan sang istri nampaknya berangsung menghilang dan kini yang ada adalah rintihan keenakkan akibat gerakan lembut yang Arnaf berikan.
Arnaf mempertahankkan gerakan lembutnya sampai sang istri terlihat nyaman dan menikmati.
__ADS_1
Saat Arnaf menikmati permainannya, dia melihat tubuh sasti bergetar dan seperti mengejang hingga Sasti melenguh sangat keras dan panjang. Arnaf merasa ada yang menyiram ikan betutunya di dalam daging tembem istrinya. Arnaf yakin sang istri baru mencapai puncaknya. Nafas Sasti terlihat menderu dan Arnaf masih bertahan dengan posisi pelannya. Dia perlahan merangkak mengungkung kembali tubuh sang istri dengan pinggang masih bergerak maju mundur dengan indahnya.
Mata mereka saling beradu. Racauan dan rintihan keduanya menggema di ruangan itu.
Sasti memeluk tubuh sang suami yang sudah sangat berkeringat. Dia sangat menikmati gerakan yang dilakukan sang suami di bawah sana.
"Enak mas.." Bisiknya dan tentu saja Arnaf langsung tersenyum dan gerakan maju mundur Arnaf percepat sedikit hingga sang istri menggeliat tak beraturan.
Di luar hujan semakin deras sedangkan di dalam permainan semakin panas.
Gerakan Arnaf semakin lama semakin cepat hingga dia merasa ada yang memaksa ingin keluar. Begitu juga Sasti.
Tanpa terencana dan kesepakatan. Dua benda yang sedang menyatu disana menyemburkan air nikmat tiada tara bersamaan suara erangan yang begitu membahana memenuhi segala sisi ruangan itu.
Setelah tuntas, tubuh Arnaf tumbang diatas tubuh sang istri. Ikan betutu miliknya masih diam dalam sarangnya menikmati sisa sisa tetesan yang di keluarkan. nafas keduanya memburu. Dan untuk sesaat mereka terdiam dalam deru nafas tak beraturan
@@@@@
...Hai reader, gimana ceritanya? bikin hareudang kagak nih? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....
...Dan perkenalkan cerita baru nih. Terbit Hari ini yang akan bikin hareudang terus terusan. Jangan lupa kunjungi yah...
...
__ADS_1
...