
Arnaf terduduk frustasi. Sangkalan sudah dilayangkan. Bahkan dia sudah bersumpah kalau dia tidak melakukan apa apa. Tapi Citra dengan berderai airmata dengan entengnya mengatakan, Arnaf merayunya bahkan dengan terang terangan Anraf menghina Mahendra.
Siapapun pasti akan murka. Jika seorang suami melihat istrinya berada dibawah kungkungan pria dengan baju yang sudah terbuka.
Sayang sekali, Mahendra hanya melihat apa yang dia lihat dan dia mendengar apa yang dia dengar tanpa dia sadari apa yang sebenarnya terjadi. Dengan lantangnya dia akan menuntut seorang Arnaf dan mendakwanya.
Sedangkan Citra dengan senyum kemenangannya menghina Arnaf dengan tatapan mengejeknya.
Heboh. Sudah pasti. Semua karyawan mendengar apa yang sedang terjadi di tempat mereka bekerja. Bisik bisik pun mulai mencuat. Dan tanpa tahu kebenarannya, mereka secara tak langsung menyayangkan perbuatan sang presdir mereka. Apalagi perusahaan yang dia pimpin adalah perusahaan multimedia. Bagaimana jika berita buruk semacam ini justru di siarkan di perusahaannya sendiri. Apa yang akan terjadi ke depannya.
"Bagaimana kamu bisa melakukan hal menjijikan seperti itu Arnaf... !!!" Murka sang papah. Begitu dia masuk keruangan Arnaf yang sedang terduduk dengan wajah kusut dan frustasi. Sebagian pakainnya terbuka.
"Arnaf tidak bersalah pah. ini fitnah, aku tidak melakukan apa yang Citra tuduhkan." Ucap Arnaf membela dirinya.
"Dengan posisi kamu berada diatas tubuhnya dan berharap semua orang percaya kamu di jebak dan difitnah? mana mungkin.. !!!" Bagus semakin emosi.
Ya. siapapun tak akan percaya jika melihat dengan mata kepala sendiri, seorang pria diatas tubuh wanita. Pasti semua menyalahkan si pria. Ķarena bagaimana pun yang namanya kejahatan seksual kebanyakan pria yang menjadi tersangka.
"Mana Tito?" Tanya Bagus.
"Lagi ngecek keruangan cctv."
Dan kedua pria itu terdiam dengan raut wajah yang sangat susah diartikan.
Pikiran Arnaf hanya kepada satu nama yaitu istrinya. Bagaimana caranya dia akan menjelaskan semuanya? Hubungannya dengan Sasti sedang dalam hangat hangatnya. Terus apa yang akan terjadi nanti? Apa kepercayaan yang Sasti berikan akan runtuh kembali. Arnaf benar benar tidak mau hal itu terjadi. Dia harus bisa meyakinkan istrinya.
"Maaf tuan, 4 kamera cctv yang terpasang di ruang pertemuan sepertinya ada yang sengaja menyabotase." Lapor Tito begitu dia masuk keruangan atasannya. Dan tentu saja hal itu sangat mengejutkan dua orang disana.
"Bagaimana bisa To?" Tanya Bagus semakin menunjukkan kemurkaannya.
__ADS_1
"Benar Tuan besar. Anda bisa mengeceknya." Jawab Tito dan dia menyerahkan ponselnya.
Dan benar saja, di sana tidak terlihat apa apa. Satu satunya barang bukti yang bisa dignakan untuk membenarkan pembelaan Arnaf malah tidak nampak apa apa sekali. Makin frustasilah Arnaf dan papahnya.
"Kenapa ini bisa seperti ini To?" Tanya Bagus lagi.
"Orang kita lagi menyelidikinya tuan." Jawab Tito yakin.
"Bagaimana ini Naf? Apa yag akan kamu lakukan?" Mungkin berita pemerkosaan kamu sudah sampai ketelina keluarga kita. Kamu tahu sendiri kan bagaimana dekatnya Mahendra dengan keluarga kita?"
Arnaf menghela nafas yang begitu berat. Sudah bisa dibayangkan semua pasti akan menyalahkan dirinya. Ditambah lagi perempuan yang membuat masalah adalah perempuan yang sama yang dulu pernah selingkuh dengannya. Sudah di pastikan Arnaf akan mendapatkan hinaan kembali.
Dan dengan pasti berita itu juga sampai di telinga Sasti. Adiknya yang saat ini sedang bekerja di perusaahan milik kakak iparnya segera memberi tahu apa yang terjadi di kantor suaminya. Tentu saja Sasti terkejut. Apalagi saat nama wania yang berada di bawah tubuh suaminya adalah Citra. Emosi lah dia. Bahkan dia pun jad tidak berselara melakukan aktifitasnya.
"akamu percaya kalau Arnaf melakukannya?" Tanya Manda. Diia begitu khawatir pada sahabatnya.
"Ngga tahu Man, aku bingung. Aku harus mendengar penjelasan dulu dari Arnaf."
"Kalau pun ini benar, entah apa yang akan terjadi sama aku man."
"Sudah, janga berpikir yang buruk dulu. Kamu bicara dulu sama Arnaf nanti. Mamu lebih mengenal suamimu bukam?"
"Yah, semoga apa yang aku pikirkan bukan lah yang terjadi sebenarnya Man."
"Daripada kamu di sini nggak fokus, lebih baik kamu pulang deh Sas. Tunggu suamimu di rumah. Mungkin orang yang sangat dia butuhkan saat ini adalah kamu."
"Baiklah, aku pulang dulu yah. Aku juga yakin di rumah sudah juga terjadi kehebohan. Tahu sendiri keluarga Arnaf sangat membenci perselingkuhan. Apalagi berita seperti ini."
"Baiklah, ya sudah sana, hati hati."
__ADS_1
"Oke.."
Dan Sasti bergegas mencari taksi. Setelah mendapatkannya, dia segera meminta supir mengantarkannya pulang.
Benar saja, di rumah sudah terjadi keributan di antara anggota keluarga yang memang sengaja pada datang di kediaman Arnaf.
"Arnaf benar benar keterlaluan. Bisa bisanya dia melakukan hal yang tak pantas pada saat jam kantor." Ucap salah satu tante Arnaf.
"Belum tentu, bisa saja dia dijebak. DIlihat dari wanitanya aja nanti." Ujar salah seorang om.
"Bagaimana bisa dijebak? Kalau dengan sadar tubuh Arnaf berada di atas tubuh mantan selingkuhannya dengan baju yang sudah terbuka. apa dia nggak mikir. itu lagi jam kerja."
"Sudah sudah jangan ribut. Kita tunggu saja Arnaf sama Bagus. Mereka yang lebih pemahami apa yang terjadi disana." ucap Nenek mengehani.
Tak lama kemudian, Sasti pun sudah sampai di rumah. Kedatangannya langsung disambut pertanyaan miring dan hal hal lainnya oleh keluarga Arnaf.
Terlihat di sana, sang mamah mertua hanya terdiam. Matanya nyalang menatap menantunya. Sudah pasti dia takut sang menantu akan mengambil keputusan yang sama yaitu pergi menuningglakn anaknya.
"Mamah janga khawatir." ucap Sasti sambil menggemgam tangan mertuanya.
"Mamah takut Sas, mamah takut Arnaf terbukti melakukan kesalahan lagi. Pasti dia akan dikucilkan kembali. Apalagi jika kasus ini sampai kepengadilan. Apa yang terjadi sama dia?"
"Sudah mah, kita sabar aja, kita Tunggu Mas Arnaf nanti gimana ceritanya."
Mia hanya mengangguk lemah. suasana hatinya benar benar kacau.
Dan pada akhirya, Arnaf pun memang harus pulang. Dengan perasaan berkecamuk, dia menapaki rumahnya Terlihat di sana beberapa keluarganya. Dia memandangi satu persatu wajah yang juga memandangnya. Namun dari sekian banya wajah itu tak ada wajah istrinya disana.
Hati Arnaf menjadi was was. Pikirannya semakin kacau. Dia segera melangkah ke kamarnya. Dia takut Sasti akan menghilang kembali seperti dulu.
__ADS_1
Lega, itulah yang Arnaf rasakan. Begitu dia membuka pintu kamar, terlihat Sasti sedang terbaring dengan mata terpejam. Entah Sasti tidur beneran atau tidak, yamg pasti Arnaf masih cukup bahagia. Arnaf langsung beranjak melepas sepatu dan menaiki ranjangnya. Dia langsujg memeluk tubuh sang istri dari belakang. Sasti terdiam meski dia merasakan tubuh suaminya menempel kepadanya. Untuk saat ini hanya diam yang mewakili suasana hati mereka.
@@@@@