
"Semua yang berhubungan dengan mu masih ada semua di dalam kamar ini.."
dahi Sasti berkerut namun dia tak ingin bertanya. Hatinya terlalu malas jika nanti ujung ujungnya membuka cerita lama.
Dia pun beranjak ke tempat dimana lemari pakaian berada. Dan benar saja, disana masih ada pakaian pakaian yang dulu dia gunakan jika menginap dirumah ini. Meskipun dulu tidak pernah tidur bareng namun jika Sasti menginap di rumah Arnaf, dia akan menaruh pakaian di kamar ini. Begitu juga Arnaf jika membelikan Sasti pakaian.
Sasti juga membuka lemari khusus peralatan mandi dan semua yang dia perlukan juga lengkap ada disitu. Dia hanya mendengus.
"Ngapain hal kaya gini masih kamu lakukan mas? kayak nggak ada kerjaan aja." Gumamnya dan dia pun melangkah ke kamar mandi.
Semenata di atas ranjang, meski mata Arnaf tertuju pada layar laptop dipangkuannya, namun pikirannya melayang pada sosok yang kini sedang berada di kamar mandi. Dia sesekali melirik waktu yang melingkar di tangannya.
"Mandinya ternyata masih sama.." gumamnya sembari mengulum senyum. Arnaf mencoba memfokuskan kembali pada pekerjaan yang sudah terpampang dilayar kecil tersebut.
"Belum tidur?" sebuah pertanyaan meluncur tak lama kemudian. Dan pertanyaan itu membuyarkan fokus pria yang sedang berada di atas ranjang.
"Sebentar lagi, ini nanggung," jawab Arnaf. Sejenak dia menatap Sasti yang nampak sudah segar dan mendudukkan badannya di sofa yang tersedia.
Mata Arnaf menangkap tingkah Sasti yang nampaknya sedang bingung.
"Apa kamu mau tidur? kalau mau tidur, tidurlah disini, biar aku yang keluar cari kamar lain.." ucap Arnaf menvoba memberi penawaran sebelum Sasti bertindak.
"Tidak usah, kalau kamu tidur diluar, apa kata orang rumah?"
degg.
"Apa Sasti mau tidur denganku?" batin Arnaf bersuara, dia ingin tersenyum namun ditahannya karena takut itu hanya harapan kosong.
"Nggak apa apa aku yang keluar, daripada tidur dilantai lagi, nanti kamu sakit, sedangkan itu sofa pendek."
"Nggak usah, kamu disitu aja, nanti aku tidur disitu juga."
bluss.
menghangatlah hati Arnaf mendengar apa yang Sasti katakan.
"Apa kamu nyaman? kalau kamu nggak merasa nyaman, nggak apa apa kok, nanti aku diam diam pindah ke kamar lain."
__ADS_1
"Jangan mencari masalah baru. apa kamu mau keluargamu tahu kalau kita?"
"Iya baik, maaf, aku nggak ada maksud..."
"Sudah lah, lupakan.."
Dengan kemantapan hati Sasti pun bangkit dari sofa dan membawa badannya berpindah ke ranjang dimana suaminya berada.
Dada mereka berdegup kencang. Ini adalah pertama kalinya mereka seranjang berdua selama sah menjadi pasangan suami istri.
Mata Arnaf terus menatap layar laptop dan jarinya juga bermain main di atas tombol acak. Namun tidak ada kata terbentuk dilayar itu. Benar benar tulisan acak mewakili kegugupan dia saat tubuh Sasti sudah menyentuh ranjang di sebelahnya.
Begitu juga Sasti, rasa gugup juga menyerangnya. Meski dia berusaha bersikap setenang mungkin, namun dia tetap cukup kesulitan manahan gejolak di dadanya. Kini tubuhnya sudah sepenuhnya berada di atas ranjang dan dia sengaja membelakangi suaminya menutupi rasa canggung yang teripta.
"Apa kamu sudah mau tidur?" tanya Arnaf untuk mengurangi rasa canggungnya.
"Kenapa?" tanya Sasti tanpa merubah posisinya.
"Kalau mau tidur lampunya aku matiin, biar kamu bisa tidur.."
"Terus kerjaan kamu?"
"Ya terserah kamu aja mas, baiknya gimana."
"Baiklah.." Arnaf pun mengambil remot pengontrol dan mematikan lampu utama. Kini hanya ada lampu kecil dan terkesan remang remang yang menerangi kamar luas itu.
Arnaf menaruh laptopnya di meja sebelah ranjang tidur dan dia pun berbaring. Mereka saling membelakangi dan hanyut dalam pikiran masing masing hingga tak terasa kantuk pun menyerang dan terlelaplah mereka.
Entah waktu yang berputar terlalu cepat atau memang tidur yang terlalu lepap. tak terasa pagi kini menjelang.
Arnaf terbangun dari tidur lelapnya. Namun dia merasa ada asesuatu yang menindih tubuhnya. Dibukanya mata itu pelan pelan. dan dirinya tercengang. Ada tangan yang melingkar ditubuhnya. seketika senyumnya pun tersungging. Entah sejak kapan Sasti memeluk tubuhnya dan menjadikannya sebagai guling. Hati Arnaf benar benar riang tak terkira. Dia pun menahan tubuhnya agar tak bergerak. Arnaf tak ingin momen langka seperti ini berakhir. Diiusapnya perlahan kepala Sasti yang menempel di dadanya.
"Apa aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan hatimu Sas? apa aku terlalu egois jika aku menginginkan kamu lagi?" gumamnya.
Namun sayang tak lama setelah itu, terlihat tubuh Sasti bergerak. Nampaknya dia juga Terbangun dari tidurnya. Arnaf segera memejamkan matanya kembali agar slSasti tak cangung jika menyadari apa yang dia lakukan.
"Eugghh.." peremmpuan itu melenguh, tanda kalau dia sudah bangun. Tangannya sedkit meraba apa yang ada dipeluknya. Namun sesaaat kemudian dia tersentak. Matanya membola.
__ADS_1
"Apa? bagaimana ini bisa terjadi?" gumamnya. Sasti perlahan mendongak.
"Untung masih tidur. Nisa kepedean dia dipeluk kaya gini. Tapi kasian juga sih ni orang, tapi buat apa kasian? salah sendiri berbuat curang. Nggak bakat merayu perempuan aja sok sokan selingkuh huu.." gumam Sasti di depan wajah Arnaf, tanpa dia sadari Arnaf mendengar semua apa yang dia katakan.
Sasti segera bangkit dan tak lama kemudian Arnaf pura pura melenguh seakan akan dia baru bangun.
"Sudah bangun?" tanya Arnaf dengan suara beratnya.
"Baru aja." dan Sasti beranjak.
"Mau kemana?"
"Kamar mandi.." dan Arnaf manggut manggut. Namun senyumnya terbesit tanpa Sasti sadari.
"Apa mungkin aku nggak ada bakat merayu dan meluluhkan perempuan? terus bagaimana caranya aku meluluhkan hati Sasti? huft.." gumam Arnaf saat memikirkan ucapan Sasti tadi.
Tak lama waktu berselang, Sasti mendorong kursi roda Arnaf menuju taman belakang. Keluarga besar Arnaf masih pada kumpul dan mereka mau sarapan pagi di sana.
"Wesstah, pengantin baru, sepertinya habis keramas nih?" tanya sepupu Arnaf membuat semua mata beralih kearah pengantin baru yang dimaksud. Arnaf dan Sasti saling pandang dan benar saja, tanpa mereka sadari rambut mereka sama sama basah.
"Wahh, ada yang mau dapat cucu nih?" ledek salah satu tante Arnaf dan semuanya pun tertawa. sedangkan sang tersangka hanya tersenyum canggung.
Pagi ini benar benar banyak perubahan yang membuat seorang Arnaf merasa sedikit bahagia. Selain Sasti yang tidur seranjang dan tadi berada di atas tubuhnya, Keluarga Arnaf pun nampaknya mulai menerima Arnaf kembali. Terlihat sikap mereka pagi ini. terutama tante tantenya. Mereka juga kembali bersikap hangat seperti dulu.
"Maaf, Sasti kesiangan nek, nggak bisa nemenin nenek jalan jalan pagi.." tutur Sasti sembari duduk di sisi perempuan tua yang sangat menyayanginya itu.
"Nggak apa apa sayang, nenek ngerti kok, kamu capek semlam dengan Arnaf.." wajah Sasti pun merona meski kenyataannya apa yang mereka pikirkan tidak terjadi.
Arnaf terus memandang lekat perempuan yang sekarang menjadi istrinya. Dalam hati dia bertekad akan segera sembuh dan memperjuangkan hati Sasti kembali.
"Semoga aku masih punya kesempatan, walau itu kesempatan terakhir."
@@@@
...Hai reader, gimana ceritanya? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....
...Sambil nunggu yang ini up, ngga ada salahnya dong baca cerita lainnya yang tak kalah uwuw, nih ada karya bagus dan romantis sangat....
__ADS_1