
"Aaakkkhhhh!!!"
Suara pertama dari seorang perempuan yang baru bangun tidur. Syok, itulah yang dia rasakan. Bukan hanya tempat tidurnya yang berbeda tapi keadaannya yang membuat dia semakin histeris. Baju yang dia pakai sudah berubah dan tempat tidur yang dia gunakan juga berbeda dari tempat tidur miliknya.
"Aku dimana?" Gumamnya sembari mengedarkan pandangannya.
Teriakan yang keluar dari mulutnya juga membangunkan seorang pria yang tertidur nyenyak di sebuh sofa yang tak jauh dari keberadaannya. Dia bangkit dan menoleh ke sumber suara.
"Bisa diam nggak sih? berisik amat." Omelnya dan dia kembali merebahkan tubuhnya hendak melanjutkan tidurnya.
"Mas Baim?" Pekik perempuan itu. Antara percaya dan tidak percaya, perempuan itu segera bangkit dengan bersungut sungut membawa bantal.
Bugh Bugh Bugh.
"Aduh, Arnia!" Pekik Baim yang tiba tiba mendapat serangan secara membabi buta oleh adik sahabatnya.
"Apa yang Mas Baim lakukan? Hah! Kenapa pakaianku bisa beda?" Tanya Arnia tanpa berhenti menyerang Baim dengan bantal yang di pegangnya.
"Dengarkan dulu, woy! tunggu!" Teriak Baim yang berusaha menangkis serangan Arnia yang membabi buta. Namun Arnia tak peduli. Dia terus menyerang Baim tanpa ampun hingga Baim sudah merasa kesal akhirnya di tariknya tangan Arnia hingga gadis itu jatuh tepat di pelukannya.
Arnia mencoba berontak namun Baim menjerat Arnia semakin kuat.
"Lepasin mas! Aku bilangin mas Arnaf tahu rasa kamu." Ancam Arnia.
"Silahkan, maka aku tinggal bilang, adiknya keluar dari klub malam minum obat perangsang dan memaksa masuk ke mobil, terus menggodaku beres." Ucapan Baim seketika menghentikan gerakan Arnia yang sedari berontak.
"Gimana? Masih berani ngadu?" Arnia mengendus sebal kemudian dia menghentak jeratan tangan Baim hingga jeratan itu terlepas. Dan dia duduk di sofa seberang.
"Sudah sadar sekarang?" Tanya Baim. Dia kembali merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
Arnia terdiam. Mencoba mengingat ingat kejadian semalam. Dan dirinya sadar. Semalam dia mengahdiri pesta ulang tahun disebuah club. Awalnya tidak ada gelagat yang mencurigakan. Namun beberapa saat kemudian ada temen kampusnya yang menawari minum. Arnia tidak ada firasat apa apa sama sekali dan dia masih asyik saja menikmati suasana pesta.
Namun beberapa menit setelahnya, Arnia merasakan gejala aneh pada tubuhnya. Sedikit demi sedikit rasa panas dan bergairah menjalar. Namun dia masih sadar dan dengan segera dia minta ijin keluar pada teman temannya. Di saat Arnia keluar, dia merasa ada yang mengikuti hingga dia pun panik dan segera melangkah ke sembarang arah. Arnia yang awalnya akan pulang naik taksi segera saja berjalan dengan tergesa karena merasa ada yang mengikuti. Hingga tak jauh dari keberadaannya, dia melihat teman kakaknya. Arnia yang masih dalam keadaan sadar tentu saja bergegaa menuju ke tempat teman kakaknya berada dan dengan tanpa permisi dia langsung saja masuk ke mobil teman kakaknya itu.
Arnia juga mengingat ingat apa yang terjadi antara dirinya dan Baim. Dan seketika matanya membulat. Antara percaya tidak percaya. Semalam dia berkali kali menyerang Baim dengan ganasnya baik di dalam mobil mauapun begitu sampai ranjang hotel.
"Jadi, aku sama mas Baim sudah?" Arnia tak berani melanjutkan gumamannya. Dia melirik pria yang matanya kembali terpejam.
"Mas Baim."
"Hum."
"Berarti kita sudah?" Tanya Arnia.
"Sudah apa?" Tanya Baim Balik tetap dengan mata terpejam.
"Jangan pura pura nggak tahu deh." Sungut Arnia.
"Mas Baim sudah menodaiku?" Tanya Arnia lirih dan menunduk Tapi malah membuat mata Baim terbelalak. Pria itu langsung menatap adik sahabatnya itu dengan pandangan heran.
"Bagaimana bisa?" Tanya Baim.
"Buktinya aku sudah ganti baju. Berarti itu tanda kalau Mas Baim sudah melihat semuanya."
Baim ternganga. Memang benar semalam setelah berendam entah kenapa Arnia malah pingsan dan bajunya basah kuyup. Dengan segala kekuatan iman di dada, Baim keluar mencari baju wanita untuk pertama kalinya. Beruntung tak jauh dari hotel ada pasar malam. Baim masuk saja kesana membeli daster dan perlengkapan wanita lainnya dengan menahan rasa malu. Dan dengan jantung yang terus menggema, Baim mencoba mencopot pakaian Arnia dan menggantinya. Sebagai lelaki normal tentu saja Baim sempat terpana melihat keindahan tersembunyi yang di miliki Arnia. Untung dia bukan penjahat dan beruntung pula Iman di hati Baim kuat meski Iman di betutunya meronta ronta.
"Cuma lihat Ni, bukan mencicipi, lagian kamu semalam pake pingsan segala." Ucap Baim enteng namun malah disambut Arnia dengan tangisan.
Huwaaha.. Huwaahha.. Aku sudah ternoda, Mas Baim harus tanggung jawab."
__ADS_1
"Apa!"
Sementara di pagi yang sama di rumah pribadi milik Arnaf di atas ranjang.
"Mas udah sih, udah siang?" Ucap Sasti.
"Bentar lagi sayang." Jawab Arnaf kemudian dia melanjutkan kegiatannya lagi.
"Itu dari semalam ponsel bunyi terus loh mas. Cek dulu sana." Ucap Sasti. Sebenarnya dia gemas dengan tingkah suaminya namun dia juga senang.
"Ya ampun sayang, bentar lah. Orang lagi asyik sama istri sendiri masih aja banyak yang ganggu." Gerutu Arnaf. Lagi lagi dia melanjutkan kegiatannya.
"Tapi kan hari ini aku harus masak mas. Emangnya Mas Arnaf nggak lapar apa?" Protes Sasti.
"Ini juga aku lagi sarapan Sas, malah lebih enak ini. Dan nggak ngebosenin lagi rasanya." Sasti hanya mendengus namun apa daya dia tidak mau menolak keinginan suaminya.
Seperti bayi yang sedang kelaparan, begitu bangun tidur, Arnaf langsung memainkan benda kembar milik sang istri dengan mulutnya. Ditambah lagi pijatan lembut pada si tembem membuat Sasti selalu nyaman jika perlakukan seperti itu oleh suaminya. Entah dapat ilmu darimana, namun pria itu gemar sekali memijat si tembem meski sedang tak berhubungan suami istri.
Awalnya Sasti sangat risih diperlakukan seperti itu meski oleh suaminya sendiri. Namun meski di larang berkali kali, Arnaf tetap melakukanya dan sekarang sudah menjadi kebiasaan.
Apalagi lagi ini mereka benar benar berdua tanpa ada gangguan dari anggota keluarga yang lain. Jadi Arnaf bisa leluasa mau melakukan apa saja dengan istrinya. Biasanya kalau di rumah utama, pas libur kerja. Sasti akan langsung keluar bersama nenek, mamah dan Arnia. Sekedar jalan jalan pagi. Dan tentu saja Arnaf sering diam diam merajuk.
"Mas, udah dulu sih? emangnya yang lapar kamu doang apa?" Protes Sasti dan seketika Arnaf menghentikan aksinya. Dia bangkit dan menatap wajah Sasti
"Astaga sayang, kamu lapar? Ya ampun, maaf, aku egois ya?" Ucap Arnaf dengan wajah menyesal.
"Ya lagian orang udah diminta berhenti tadi pagi, nggak mau denger." Ucap Sasti dan dia bangkit trus menyambar baju tidurnya kemudian dia beranjak keluar. Sedangkan Arnaf malah senyum senyum tanpa dosa. Segera saja dia ikut keluar menyusul sang istri tanpa menggunakan apa apa.
"Sayang, tunggu abang.."
__ADS_1
...@@@@@@...