
"Eughh.." suara berat seorang pria tersadar dari lelapnya terdengar dari dalam sebuah kamar. Tubuh pria itu menggeliat ke kanan dan ke kriri. matanya juga perlahan terbuka.
Kedua mata yang masih terasa mengantuk memicing tatkala mata itu menangkap sesosok perempuan terduduk disebelahnya dengan tangan bersilang dada serta tatapan seperti hendak memangsa tertuju ke arahnya.
"Pagi sayang.."' Ucapnya dengan suara orang khas bangun tidur. Senyumnya terkembang tanpa dosa. Pria itu bangkit dan meregangkan otot ototnya diiringi mulut yng terbuka lebar khas orang yang sedang mengantuk. Setelah cukup meregangkan ototnya, kini dia menatap wanita yang terus menatapnya tajam. Pria itu membuka tangannya dan hendak memeluk sang wanita namun buru buru kedua tangan itu di tepis hingga pria itu terkejut.
"Ada apa sayang? Kok mukanya di tekuk gitu?" Tanya sang pria dengan wajah polos membuat sang wanita semakin geram.
"Apa yang mas lakukan?" Tanya sang perempaun dengan ketusnya.
"Lakukan apa sayang?" Tanya sang pria memasang wajah sok imutnya membuat sang istri mendengus sebal.
"Jangan sok imut deh. Apa yang semalam mas Arnaf lakukan? kenapa aku bangun tidur sudah nggak pake baju begini?" tanya wanita itu masih dengan nada kesalnya.
"Astaga Sasti, aku nggak melakukan apa apa kok." Jawab Arnaf dusta. Padahal dia ingin tersenyum namun melihat wajah istrinya tak bersahabat dia menahan senyum itu sekuat tenaga.
"Jangan bohong deh mas. mas kan sedang aku hukum, mas Arnaf memperkosaku semalam? iyakan? ngaku?" Tuduh Sasti dan tentu saja tuduhan itu membuat Arnaf tergelak.
"Hhahha, mana ada sayang. masa aku memperkosa istriku sendiri." Sanggah Arnaf.
"Lah ini buktinya aku bangun sudah nggak pake baju. pasti kamu apa apain aku kan?" Ucap Sasti masih terus menciurigai suaminya.
"Ya ampun sayang, masa kamu nggak ingat apa yang semalam kamu lakukan?"
"Jangan memutar balikkan fakta deh mas. Ngaku aja. Kalau bukan mas yang melakukan, siapa lagi?" Cecar Sasti bersungut sungut.
"Siapa yang memutar balikan fakta? Astaga sayang." Arnaf masih menampakkan muka terkejutnya. Padahal hatinya sudah tak tahan ingin tertawa melihat wajah menggemaskan sang istri.
"Tapi kan nggak mungkin aku membuka bajuku sendiri?" Ucap Sasti tetap kekeh dengan pendapatnya.
"Ya ampun sayang, kalau bukan kamu yang membuka baju sendiri terus kamu nuduh aku? Ya ampun, nih sayang lihat, nih nih nih." Ucap Arnaf sambil menunjukkan tanda merah yang begitu banyak di sekujur tubuhnya. Sasti terkejut. Disekujur tubuh suaminya begitu banyak tanda merah.
"Lihat ini perbuatan siapa? jusrtu kamu yang memperkosa aku yang." Ucap Arnaf. Seakan akan dia yang jadi korban. Padahal memang semua sudah dia rencanakan.
__ADS_1
"Mana mungkin? Paling itu akal akalan kamu aja." Sanggah Sasti sambil menyelidiki tanda merah yang hampir menutupi semua bagian tubuh suaminya.
"Yaelah sayang, akal akalan dari mana coba? Mau divisum? ayo? Biar kamu tahu ini jejak bibir siapa?" Tantang Arnaf.
Mendengar tantangan suaminya, Sasti jadi gemas sendiri da lantas melayangkan cubitannya di pinggang Arnaf.
"Aduhh. sakit sayang." Pekik Arnaf.
"kalau ngasih saran yang agak masuk akal. Kaya ginian di visum, apa kata orang orang." Sungut Sasti.
"Lagian daripada aku dituduh tanpa bukti? Mending divisum buat barang bukti." Bela Arnaf tak mau kalah.
"Tapi nggak mungkin lah mas. Masa aku bisa meninggalkan jejak bibir sebanyak itu?" Tanya Sasti masih nampak heran.
"Terus ini jejak bibir siapa? perempuan lain? astaga sayang. tuduhanmu itu loh." Kini giliran Arnaf yang merajuk. bukan merajuk sungguhan. Hanya sekedar ingin mengerjai istrinya.
"Bukannya mau nuduh mas, tapi ya aneh aja. Aku nggak pernah terlihat seganas itu sampai meninggalkan jejak begitu banyak."
"Bohong?"
"Serius. Nih bahkan tanda merah kamu juga ada di sini." Ucap Arnaf sambil menunjukkn banyak tanda merah di pangkal paha dekat betutunya.
"Astaga." Mata Sasti langsung membulat begitu melihatnya.
"Bahkan kamu melahap ini semua yang. Aku aja heran aku pikir kamu ngGlgak doyan tapi semalam benar benar kamu menunjukan sisi liarmu yang."
"Maksud kamu mas? aku melahap semuanya?"
"Iya betutu aku kamu makan dan jilatin sampai telur telurnya. Lama loh yang, hampir tiga puluh menit kayaknya." Sasti semakin terhenyak mendengar penuturan suaminya.
"Nggak mungkin."
"Nih buktinya ada, semalam aja malah kamu berada di atas terus yang, tak sepeti biasanya. Tapi aku suka sih yang, semalam kita melakukan berbagai macam gaya. Itu aja kamu yang minta."
__ADS_1
Mata Sasti kembali membulat, mulutnya tertutup dengan kedua tangannya. Dia benar benar syok mendengar apa yang diucapkan suaminya. Arnaf tersenyum kemudian dia menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya dan dia merebahkan badannya serta sang sang istri.
"Aku seganas itu mas?" Tanya Zasti masih tak percaya.
"Iya. Tapi aku bahagia loh yang. Malah sangat bahagia."
Sasti terdiam, dia memeluk tubuh suaminya sangat erat. Dirinya benar benar masih tak percaya bisa seliar itu. Selama ini yang lebih mendominasi permaianan memang selalu Arnaf. makanya dia sangat terkejut ketika mendengar fakta dari sang suami.
"Beneran mas kamu bahagia?" Tanya Sasti memastikan.
"Beneran lah, aku malah berharap kamu bisa seliar itu lagi. Apalagi kita sedang dalam rangka membuat anak yang. Biar makin semangat aja kalau sama sama liar."
Sasti terdiam. Pikirannya benar benar tak ingat tentang kejadian semalam.
Berbeda dengan Arnaf. Rencananya berhasil. Usaha untuk membangkitkan gairah sang istri berjalan mulus. Bukannya jahat tapi hukuman yang diberikan Sasti benar benar tak sanggup dia tahan. Beruntung dia tahu kebiasaan Sasti. Jadi dia tak perlu berpusing ria memikirkan cara untuk memasukkan bubuk perangsang tanpa di curigai Sasti.
"Kenapa diam yang?" Tanya Arnaf sembari melirik istrinya. Tangannya terus membalai lembut rambut sang istri.
"Beneran mas Arnaf bahagia? Aku takut mas jijik jika aku liar?"
"Astaga sayang. Aku bahagia lah. Aku tuh selalu bahagia saat bersamamu. Apalagi saat saat seperti ini Sas, tenang banget."
Sasti hanya terdiam. Dia juga merasakan hal yang sama jika dalam pelukan suaminya. Tak ada tempat ternyaman bagi sang istri selain dada dan pelukan suaminya.
"Mas udah siang, nggak kerja?"
"Ini week end sayang. lupa?"
Sasti hanya tertawa kecil. Dia semakin mengencangkan pelukannya. Arnaf yang semula terlentang kini dia memiringkan tubuhnya menggadap Sasti dan menaarik kepala sang istri kedalam pelukannya. Sesekali dia mencium harum aroma rambut sang istri.
"Makasih sayang. Karena kamu, aku sangat bahagia."
@@@@@
__ADS_1